Belajar Ala Harvard? Ta'lim Muta'allim, dong!

 

Harvard University memiliki budaya belajar dengan basis diskusi dan active-recalling (menjelaskan ulang tanpa melihat catatan) yang membuat mahasiswa di sana cerdas dan kritis. Belajar bukan hanya mengejar nilai dan ranking lagi, tapi tentang membawanya menjadi topik yang relate dengan kehidupan dan melatih soft-skill berkomunikasi antar mahasiswa dan dosen. Meski sepele, hal ini berperan besar dalam meningkatkan kualitas akademik maupun non-akademik mahasiswa, membantu masing-masingnya meraih potensi secara maksimal dan suasana belajar yang lebih hidup. Tak jarang hal ini berimpak pula pada kenaikan reputasi kampus.

Metode ini populer digalangkan sebagai kunci sukses pendidikan dan pembelajaran. Hal ini tidak dipungkiri lagi kebermanfaatannya, karena dengan pembiasaan diskusi mengajak pembelajaran 2 arah. Tidak ada lagi dosen hanya menerangkan dan mahasisa dengan pasif menerima, lalu membuat paper. Lebih-lebih jika diskusi mendalam didukung dengan fasilitas dan sarana prasarana yang maksimal dan memadai. Topik bakteri dan virus tidak hanya lagi berkutat di auditorium kuliah, tapi juga dapat dilihat dan diperdebatkan secara sehat lewat hasil uji di laboratorium canggih. Teori sejarah dan filsafat tidak hanya konspirasi dan pengetahuan mengawang dari akal mahasiswa, tapi didukung dengan referensi primer dan eksklusif yakni berupa buku dan manuskrip yang diarsipkan di perpustakaan dan dapat diakses mudah oleh mereka. Semua itu adalah situasi ideal yang mengagumkan dan didambakan pada mahasiswa yang memiliki semangat belajar yang tinggi.

Bukanlah sebuah kewajiban untuk mengikuti metode tersebut secara mutlak, karena setiap mahasiswa memiliki cara belajar yang berbeda. Akan tetapi, di lain sisi, banyak satu metode luar biasa yang bahkan jauh lebih dahsyat yang kerap dilupakan, ia tenggelam dengan branding dari metode ala Harvard tersebut. Metode yang sudah ada dan diterapkan lebih dari ribuan tahun lalu, ketika pendidikan belum secanggih dan nampak se-ideal masa kini.

Metode tersebut adalah metode ala Ta'lim Muta'allim yang ditulis oleh Imam Zarnuji. Kitab Ta'lim Muta'allim Thariiqut Ta'allum adalah judul lengkap kitabnya. Merupakan kitab adab penuntut ilmu dan pengajarnya yang dipadati dengan nasehat dan poin penjelasan tentang adab-adab murid dalam belajar, salah satunya adab dan metode mengulang pelajaran demi kemudahan memahami materi pembelajaran.

Metode Belajar Ala Ta'lim Muta'allim 

Metode ini dilakukan oleh ulama terdahulu yang mana melibatkan ilmu tidak hanya ketika belajar, tapi juga dalam beraktivitas sehari-hari. Praktek metode ini secara intens dan penuh perjuangan membuat materi pembelajaran nyantol di otak dan dapat kita gunakan sesuai kebutuhan tanpa khawatir akan hilang dan lupa. 

Konsepnya sederhana, yang terpenting dalam hal ini adalah repetisi/pengulangan: membaca dan menjelaskan catatan dengan kesadaran penuh dan hati yang ikhlas.

Pelajaran hari ini diulang 5x
Pelajaran kemarin diulang 4x
Pelajaran dua hari yang lalu diulang 3x
Pelajaran tiga hari yang lalu diulang 2x
Pelajaan empat hari yang lalu diulang 1x

Bentuk mudahnya seperti ini: 

Pelajaran hari jum'at diulang 5x 
Pelajaran hari kamis diulang 4x
Pelajaran hari rabu diulang 3x
Pelajaran hari selasa diulang 2x
Pelajaran hari senin diulang 1x

Kelima-limanya pun kita lakukan dalam satu hari. Jadi, jika hari jum'at kita belajar 4 pelajaran, ulang keempatnya masing-masing lima kali, setelahnya buka catatan pelajaran di hari kamis dan baca serta ulang-ulang hingga 4x hingga seterusnya sampai diulang 1x. Tinggal sesuaikan dari hari mana kita ingin memulai.  Jadi, dengan ini insyaallah kita dapat mengingat materi pelajaran selama seminggu dengan mudah. 

Waduh, nampaknya berat sekali mengulang itu semua berkali-kali setiap hari, mana ditambah beban pelajaran hari itu, belum lagi bekerja dan tuntutan lain. 

Ingat, ini belajar. 

Belajar ini unik. Karena ia adalah kegiatan yang memang diharuskan capek, makin capek belajar, makin bagus. Makin banyak pahalanya, makin berkah dan nempel ilmunya. Jika kita masih merasa berat, itu berarti jiwa pembelajar kita belum sepenuhnya mengakar. Apakah itu artinya kita adalah murid yang buruk? Tidak juga. Selagi kita tetap berusaha kuat untuk istiqamah, selalu ada jalan untuk mempermudah kita. 

Belum lagi, jika pembaca memperhatikan lebih dalam, ulama melibatkan kegiatan muthalaah atau mengulang-ulang ini "dengan kegiatan sehari-hari". Bisa sambil memasak sambil melantunkan syi'ir yang bau dihafal, jalan pagi sambil membaca catatan, membersihkan rumah atau sambil bersantai di kasur saat waktu senggang dengan ber-monolog materi belajar yang kita ingat. 

Kecanggihan AI dan beragam teknologi masa kini pun mempermudah kita untuk melaksanakan metode ini dengan sempurna tapi tidak membenani, bisa dengan meminta AI meringkasnya menjadi poin penting dan mendiktekannya pada kita, membuatkan menjadi podcast atau kuis interaktif. Selalu ada jalan. Bagaimana kita untuk membuat hal yang nampak sulit dan berat ini menjadi mudah dan menyenangkan. 

Inilah kesakralan belajar yang dijadikan titik berat pada kitab Ta'lim Muta'allim. Belajar dan berdiskusi adalah hal yang harus melekat hingga kita ulang-ulang dan terapkan di kehidupan sehari-hari. Bukan berarti  metode Harvard itu buruk, kedua ini sama-sama baik dan berdampak luar biasa. Namun, sebagai muslim, sudah selayaknya kita mengikuti jejak dari ulama kita sekuat tenaga serta mendapatkan poin plus berlipat ganda: tidak hanya pintar dan kritis, tapi juga mendapat berkah ulama dan ridha Allah SWT dengan mengikuti metode yang pernah mereka jalani.

Komentar

Posting Komentar

Paling Banyak Diminati