Menjadi Manusia Baik, Lalu Warganegara Yang Baik
The
concept of a ‘good’ in the general social sense understood, but that he must
also first be good to his self
the purpose of seeking knowledge is to inculcate goodness or
justice in man as man and individual self, and not merely in man
as citizen or integral part of society (Al-Attas, Islam and Secularism, hlmn. 85). Berikut
adalah kutipan mengenai konsep ideal seorang manusia yang beradab lahir batin
yang digagas oleh Prof. Syed M. Naquib al-Attas, seorang pemikir Islam
terkemuka yang lahir di Bogor tahun 1931. Sederhananya, kalimat di atas
menyatakan bahwa yang utama dari ciri seorang manusia yang baik adalah adil dan
baik kepada dirinya sendiri. Seorang manusia yang baik sebagai individu,
nantinya secara otomatis akan menjadi baik sebagai warga negara. Tidak hanya
semata-mata karena manusia yang berkewarganegaraan dan hadir di masyarakat.
Sederhana saja. Jadilah individu yang baik, maka akan terbentuk masyakarat yang baik.
Hal ini tentu berbeda dengan
konsep Barat dalam mendidik masyarakatnya untuk menjadi sekedar ‘good citizen’
tanpa menjadi ‘good man’. Foundations emphasizing man as a physical entity
and a rational animal being the
purpose of seeking knowledge for the lower to the higher levels is, for Western
Civilization, to produce in the seeker a good citizen (Al-Attas, Islam
and Secularism, hlmn. 84). Peradaban Barat yang lebih memfokuskan kepada
aspek entitas fisik dan pengandalan terhadap akal pikiran dan panca indera saja
menghasilkan manusia sebagai warga negara yang baik dalam penetapan level
rendah ke tertinggi.
“Gak papa minum alkohol, asal nggak sambil berkendara. Karena kalau minum alkohol sambil berkendara nanti akan memicu kecelakaan yang akan merugikan orang lain.” Selama seseorang itu ‘tidak merepotkan’ atau’tidak membuat masalah’ dengan orang lain, ia bebas melakukan apa saja yang ia mau. “Toh yang mabuk saya, yang repot nanti saya, kenapa syariat Islam repot-repot melarang kesenangan saya (konsumsi alkohol)? Kan’ ini untuk kebahagiaan saya.”
Dengan pemikiran pendek seperti demikian membuat otak manusia ter-setting untuk fokus terhadap apa yang mereka sukai, terus menerus menggalakkan Hak Asasi demi melakukan apa saja bebas sesuai yang mereka mau. Yang mana sejatinya kebrutalan tanpa aturan yang hanya berdasar ‘suka-suka saya’ tidak menyelesaikan masalah yang ada. Masyarakat yang teratur dan mengikuti prosedur Undang-Undang Pidana dan Dasar pada sejatinya tidak menjadi manusia sesungguhnya yang utuh dengan fitrah yang terpenuhi. Manusia bagaikan hewan, ditipu oleh hawa nafsunya, yakni ungkapan ‘suka-suka saya, orang lain gak perlu ikut campur urusan hidup saya’.
Kita sebagai manusia hidup
berdampingan dan bersosial. Jika semua orang berpikir seperti demikian, maka
yang ada hanyalah cekcok tanpa hanti karena tak ada yang mau mengalah. Tidak
ada satu aturan yang tegak dan adil untuk mengatur batasan-batasan manusia.
Kedamaian dan keadilan akhirnya hanyalah khayalan semu. Mungkin industri dan
pasar juga teknologi berkembang maju, akan tetapi level manusia tidak naik dan
kualitasnya tidak meningkat. Manusia bagaikan dalam industri pabrik dan bekerja
bagaikan robot yang hanya perlu melahirkan produk-produk dan
pemikiran-pemikiran hebat demi kemajuan negara yang sebenarnya tujuan dan
maksud ‘maju’ itu tidak jelas adanya. Hanya terus berinovasi tanpa orientasi
yang jelas.
Krisis identitas dan jiwa-jiwa yang sakit mulai bermunculan, yakni manusia-manusia yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas atau tujuannya hanya sekedar mendapat pekerjaan dengan gaji selangit dan pensiun dini, atau hidup dengan tenang tanpa memikirkan finansial di hari tua. Makanan jiwa yang sejatinya adalah mendekatkan diri pada Allah SWT, beribadah dan berzikir tak menjadi asupan bagi jiwa-jiwa yang terperangkap formalitas sebagaimana yang telah dijelaskan. Manusia-manusia menjadi takut mati dan meninggalkan dunia yang sejatinya fana dan sementara ini.
Islam menyeimbangkan itu semua. Dengan menjadi manusia yang beradab lahir dan batin, ia akan berusaha melakukan yang terbaik di dunia ini secukupnya. Tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifatullah di bumi ini berjalan beriringan. Yang mana rahmat Allah adalah tujuan utama. Berapapun jumlah harta dan takdir hidup yang ditetapkan padanya, seorang muslim yang memahami Islam dengan baik dan menjalankan syariatnya dengan sungguh-sungguh tak khawatir dan mudah cemas dengan kekurangan yang ia miliki di dunia. Ia tidak mudah iri dengan rezeki dan kelebihan orang lain. Yang penting, ia sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang hamba. Meski sulit, hal itu harus dilakukan. Meski ia harus kekurangan dalam hal-hal duniawi, selagi masih mampu beribadah dan berzikir serta mendekatkan diri pada Allah SWT, itu lebih baik daripada mendapat gelimang harta tanpa ridha Allah SWT.
Islam mendidik manusia untuk melakukan segala sesuatu karena Allah SWT. Karena Allah SWT memerintahkan untuk taat kepada pemimpin yang shalih dan aturan negara, maka seorang muslim melakukan itu. Ridha Allah menjadi syarat utama setiap keputusan di hidupnya. Hal-hal tersebut akan tetap nampak sebelah mata dan menyedihkan di mata orang-orang yang hanya memikirkan dunia dan harta yang harus ia kumpulkan.
Syariat Islam
berpikir jauh ke depan hingga kehidupan akhirat, tak hanya bagaimana agar bisa
menjadi kaya dan bergelimang harta lalu mati.
Maka, dengan menjadi manusia
yang baik, otomatis akan menjadi warga negara yang baik karena Allah SWT yang
memerintahkan, dan dengan iman yang teguh, seseorang akan menggenggam dunia
seperlunya demi kebahagiaan sejati, yakni di hari akhir kelak.


Komentar
Posting Komentar