Puing Jiwa di Ambang Pintunya
Sore itu, langit di luar jendela kamar Aris terhias warna jingga keunguan yang samar, memantulkan bayangan tiang-tiang listrik yang berdiri kaku di sepanjang jalanan kosong. Di dalam ruangan yang remang itu, Aris duduk terdiam menatap jemarinya sendiri. Sudah sejak lama ia merasa ada bagian dari dirinya yang membeku—sebuah hati yang keras, dingin, dan tertutup rapat dari siapa pun yang mencoba mendekat. Rasa sakit akibat kegagalan masa lalu telah mengajarinya untuk membangun benteng pertahanan yang begitu rumit dan tebal. Sering kali, di tengah malam yang larut dan hening, ia berbisik pada dirinya sendiri dengan nada penuh keraguan: Apakah kelak akan ada seseorang yang cukup sabar untuk meruntuhkan dinding ini, memisahkan puing-puingnya, dan membantuku menyusunnya kembali? Sudah bertahun-tahun berlalu sejak sosok yang pernah menjadi pusat dunianya memilih untuk melangkah pergi. Kepergian itu tidak hanya meninggalkan rindu, tetapi juga mencipta jarak yang teramat jauh, layaknya benua ya...
