Yang Mau Tahu Kisah Oi Usus Buntu Bisa Baca Ini #1

Tahun 2023 adalah tahun dengan banyak kejadian dan der dor buat saya. Banyak gebrakan yang terjadi baik dalam hasil ujian di pondok, kenaikan jenjang (waktu itu saya duduk di PRISTAC 2 menuju jenjang Atco atau jenjang tertinggi menjadi santri). Yang jelas, makan saya tidak aneh-aneh karena saya hanya makan apa yang disediakan pondok, kesibukan saya ya pastinya belajar untuk ujian kenaikan jenjang dengan materi dan hafala segambreng.

Akhirnya, mungkin memang waktu itu memang saya sudah tidak sanggup lagi, tapi masih tetap memaksakan. Rasang usus buntu menyerang usus buntu saya. Sampai sekarang saya masih suka memandang penuh arti bekas luka operasi tersebut. Luka dengan banyak kenangan dan makna, haha.

Di suatu akhir pekan, setelah pagi harinya saya jajan dengan normal di kantin pondok, setelah zuhur ayah saya datang menjemput saya. Karena sudah dua minggu berturut-turut saya jatuh-bangun typhus. Bahkan, saya sempat presentasi makalah ilmiah ke sekolah luar di pekan kedua. Mungkin, tubuh saya sudah 'bersuara': "udah oi... aku udah nggak sanggup lagi... kita harus istirahat..." *dengan efek dramatis ya.

Mulut dan wajah bisa berbohong, tapi tubuh kita tidak.

Fatalnya lagi, setelah presentasi itu saya malah makan mie di warung mie terdekat bersama satu teman akhwat saya (Kiya namanya, next time saya akan reveal dia seperti artikel Princess Bali) dan tiga orang teman ikhwan sekaligus dua guru pembimbing. Nice banget, sudah typhus malah makan mie. Tapi, demam typhus itu kan naik-turun ya. Kalau sudah reda itu rasanya beneran kayak sudah sehat. Jadi saya kira saya sudah sembuh total.

"Mikirin apa kamu?" Itu adalah kalimat pertama yang ayah saya ucapkan kepada saya saat menjemput di siang itu, menertawakan saya yang misuh-misuh sambil menggendong tas ransel jumbo dan tas laptop yang saya gantungkan di pundak kanan saya. Saya lupa apa yang saya ucapkan setelahnya, tapi yang jelas kami  langsung makan siang bersama. Ayah saya menjemput menggunakan mobil dan kami makan di Rumah Makan Bu Sa'diyah, Depok (cari sendiri ya lokasinya kalau mau tahu). 

"Kamu stres apaan?" tanya ayah saya lagi. "Pelajaran?" 

Saya hanya cemberut sambil mengetik di laptop sembari perjalanan menuju tempat makan. Ayah saya hanya tertawa lagi, "kurang duit itu mah, ditempelin duit di jidat juga sembuh." Menertawakan saya lagi.

Hingga beberapa hari kemudian setelah saya dipalpasi (jadi karena saya mengeluh sakit perut, dokter klinik menekan perut saya untuk mengecek kemungkinan penyakit apa yang saya derita (sumpah itu palpasi sakit banget ya Allah, menurut saya tidak terlalu berlebihan menyebutkan seperti rasanya saat Bilal bin Rabah ditimpa batu besar di atas perut)), dokter menggelengkan kepala dramatis sambil mengerutkan kening berkata pada bunda dan saya: "bu, ini saya rujuk langsung ke dokter bedah, ya."

Saya sih santai aja. Kalau mau operasi ya udah operasi saja. Saya lebih memikirkan biayanya yang akan ditanggung ayah-bunda. Saya jauh lebih memikirkan mereka berdua daripada saya sendiri. 

"Seriusan, dok? Nggak perlu dirujuk ke spesialis penyakit dalam aja?" Bunda shock teramat, air wajahnya keruh dan khawatir. Saya hanya bisa menunduk dengan perasaan bersalah. Hal ini akan banyak menunda kegiatan bunda yang padat. Waktunya akan banyak tersita untuk mengurus saya, dan saya sangat tidak suka menyusahkan orang lain, terlebih orang tua saya. "Beneran langsung ke dokter bedah nih, dok?"

Dokter klinik mengangguk serius. Kayak dokter-dokter di drama korea gitu, seriusan. Hal itu ia lakukan karena perut saya sudah sakit di sebelah kanan dan tengah, itu indikasi besar radang usus buntu. Bahkan kadang sakitnya bergatian ke bagian kiri perut, tengah atas dan kanan, begitu saja. Sebenarnya tanpa ditekan pun, dengan sentuhan kecil aja rasan sakitnya sampai tulang belakang, sakit beud. Saya nggak berani membayangkannya lagi. 

"Nggak bisa bu, besok jam 8 langsung kita tindakan saja." Setelah datang ke rumah sakit depan stasiun Depok Lama dan dokter spesialis bedah mengecek perut saya, tanpa ba bi bu langsung kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Seketika wajah bunda saya makin pucat. Tindakan yang dimaksud adalah pengangkatan usus buntu, yang artinya: operasi, lah.

"Kakak mah nggak papa bun, bundanya.. gimana?" ucap saya menenangkan bunda yang sudah lesu dan cemas. Akhirnya, pukul 10 pagi saya diminta oleh dokter bedah; dr. Gunawan Samsul namanya, saya ingat sekali, umurnya 35 tahun, untuk mengambil sampel darah di laboratorium dan ke ruang radiologi untuk scan perut saya di rumah sakit itu.

Hal yang cukup mengagetkan buat saya waktu itu waktu ambil darah adalah; jarumnya besar dan panjang banget. Dari kecil, diantara anak-anak orang tua saya, saya adalah anak yang paling sering sakit dan bolak-balik rumah sakit, jadi disuntik untuk ambil darah adalah biasa dan bukan hal yang menyakitkan dan menakutkan. Tapi, ambil darah hari itu terasa menyakitkan dan lama banget. Saya juga sedang menstruasi/haidh hari pertama. Bayangkan, hari pertama! Lagi mood-swing dan sakit-sakitnya itu ya Allah. Setelah ambil darah, saya langsung duduk lesu dengan kepala yang keliyengan. 

Ayah saya menelepon bunda, lalu meminta untuk bicara dengan saya, "kakak siap di-opname? Di operasi?" tanyanya memastikan. 

"Siap aja insyaallah, kakak mah santai aja." Ujar saya sambil menahan sakit bekas suntikan di balik siku lengan kiri. Nggak pernah ambil darah se-perih itu seumur hidup saya. 

Malamnya, pukul 10 malam, saya masuk kamar rawat inap untuk persiapan operasi besoknya pukul 8 pagi. Hal yang paling saya ingat dan menyengsarakan waktu itu bagi saya adalah bukan bekas suntik ambil darah yang menyakitkan, ataupun scan badan yang menegangkan.

Saya mau bawa laptop buat nulis tapi nggak dibolehin sama bunda saya 😔😖.

"Nggak usah! Kamu nanti mau operasi! Masih sempet-sempetnya ngetik-ngetik!" kata bunda saya saat saya yang sudah siap ke rumah sakit terlihat menyelempangkan tas berisi laptop di badan. Alhasil saya hanya membawa buku jurnal harian saya dan pulpen tinta gel hitam yang merekam perjalanan usus buntu saya, ia menjadi saksi bisu perjuangan saya dan yang menemani malam-malam menahan sakit perut dari radang usus buntunya sebelum operasi.

Berlanjut ya ke bagian #2, ya...



Komentar

Postingan Populer