Para Filsuf Sampai Tak Habis Pikir Karena Ini

Kalau kita baca pemikiran para filsuf—Plato, Aristoteles, sampai para pemikir modern—kadang rasanya mereka memikirkan hal yang “terlalu jauh”. Pertanyaan seperti apa itu hidup baik, apa tujuan manusia, atau apa makna kebahagiaan terdengar begitu berat.

Tapi sebenarnya, ada satu alasan sederhana kenapa pemikiran mereka bisa sedalam itu: mereka ingin bahagia. Mereka ingin tahu bagaimana caranya manusia benar-benar bisa hidup bahagia.

Bahagia Itu Tujuan Semua Orang, Para fIlsuf Merenunginya Mendalam Adalah Salah Satu Caranya

Setiap orang ingin hidup enak, tenang, dan merasa puas dengan kehidupannya. Para filsuf pun sama. Bedanya, ketika kebanyakan orang menjalani hidup sambil mencari bahagia, para filsuf justru bertanya:

Apa itu bahagia? 

Kenapa manusia mengejarnya?

Apa ada cara pasti untuk mencapainya?

Karena pertanyaan-pertanyaan itulah mereka mulai membangun teori. Semakin dipikir, semakin dalam pertanyaannya—dan semakin luas pula jawaban yang mereka cari.

Hal Itu Membuat Mereka Memikirkan Segala Hal

Untuk memahami kebahagiaan, mereka sadar bahwa banyak hal yang perlu dibahas, misalnya: bagaimana pikiran bekerja? Apa yang dianggap benar atau baik (moral dan etika)? Bagaimana manusia seharusnya hidup bersama (politik)? Apa hakikat manusia dan dunia (metafisika)?

Jadi, kebahagiaan itu seperti pintu masuk menuju seluruh isi filsafat. Dari satu pertanyaan tentang hidup baik, mereka akhirnya menggali seluruh aspek kehidupan.

Kebahagiaan Itu Rumit

Masalahnya, kebahagiaan bukan hal sederhana, ditambah ia bukan hal yang fisik, membuatnya sulit dianalisa. Menganalisanya tidak semudah memahami kerangka bangunan, atau membaca penjelasan di buku tentang objek tertentu. Ada yang merasa bahagia saat banyak uang, ada yang bahagia ketika hidup sederhana, ada yang bahagia saat merasa dekat dengan Tuhan.

Karena setiap orang berbeda, para filsuf merasa perlu membuat teori yang bisa dipakai siapa pun. Di sinilah mereka mulai membangun konsep-konsep besar tentang kebajikan, keseimbangan hidup, kedamaian batin, hingga hubungan manusia dengan alam semesta.

Semua itu berawal dari satu hal: mencari cara hidup yang paling membahagiakan.

Mereka Ingin Bahagia dengan Cara Yang Pasti/Sejati

Bedanya dengan orang biasa, para filsuf tidak puas dengan jawaban singkat seperti “yang penting jalani saja” atau “ikut kata hati saja”.

Mereka ingin jawaban yang jelas, masuk akal, dan bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu: mereka meneliti pikiran, merenungkan hidup, berdebat dengan sesama pemikir, bahkan menuliskan buku tebal demi menemukan kunci kebahagiaan sejati.

Mereka percaya: kalau tujuan hidup adalah bahagia, maka kita harus memahami apa itu bahagia dengan serius.

Kalau dipikir-pikir, banyak teori besar dalam filsafat sebenarnya lahir dari kebutuhan manusia yang sangat sederhana: ingin hidup bermakna, tenang, dan puas.

Makanya, wajar kalau teori para filsuf kadang terkesan “rumit”—karena mereka menggali sampai ke akar. Mereka ingin memastikan bahwa kebahagiaan bukan cuma soal rasa senang sesaat, melainkan tujuan hidup yang benar-benar dipahami.

Kesimpulannya, para filsuf memikirkan hidup sedalam itu bukan karena mereka suka ribet. Mereka hanya ingin menemukan apa yang membuat manusia benar-benar bahagia. Karena kebahagiaan itu hal besar, mereka merasa perlu memberikan pemikiran besar pula. Jadi, kalau kamu merasa filsafat itu dalam, berat, dan panjang—ingatlah satu hal:

Semua itu berawal dari keinginan sederhana: mencari bahagia.

Nah, kabar bahagianya, kita sebagai muslim tak usah muluk-muluk berpikir mendalam tentang hal ini. Kita sebagai muslim ini sederhana saja dalam prinsip kebahagiaan; ridha Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, meski itu menuntut kita melakukan hal yang kita tidak sukai, selagi Allah SWT ridha dan Rasul mengajarkannya, maka akan selalu kita langsungkan. 

Jangan lupa untuk selalu bersyukur dan bahagia setiap harinya, ya!


Dari catatan kuliah Filsafat Barat bersama ust. Khayrurrijal pada 20 Desember 2023

Komentar

Postingan Populer