Sekelumit Anak IPA Yang "Nyasar" Ke Ushuluddin
Satu paradoks yang cukup ngeselin tapi tidak bisa saya lepaskan dalam diri saya adalah; ingin jadi ustadzah yang ahli ushuluddin, tapi enggan lepas dari eksperimen biologi. Mungkin menurut pembaca ada yang menganggap itu bukan paradoks, tapi apapun itu begitulah saya adanya.
Saya suka biologi, anak IPA banget lah saya ini pas SD bisa dibilang. Kegiatan bedah ikan mas, lele, menyampur ramuan dan eksperimen di club dan lab adalah rutinitas saya. Anehnya, saya adalah anak IPA yang nggak jago matematika (ya saya dengan senang hati menerima beragam hujatan atas hal ini karena saya tidak bisa mengelak bahwa nilai MTK di NEM Ujian Nasional saya hanya 71 (itu paling tinggi selama saya memperjuangkan MTK lho)). Mungkin memang kalau rumus MTK saya lemot, tapi kalau urusan hafalan nama organ di sistem pencernaan, pernafasan, peredaran darah saya hafal mati sampai hari ini. Saya bisa dan sangat suka menjelaskannya dengan sepenuh hati. Hal itu terdorong karena faktor kegemaran saya suka baca ensiklopedia tentang tubuh manusia, dari otak hingga ujung kaki saya suka sekali baca berulang kali.
Tapi, di tengah gejolak cinta pada biologi, saya juga suka sekali menghafal qur'an dan suka juga mempreteli tajwid dan gharib di dalamnya. Ya, jadi saya berkeinginan kuat untuk menjadi 'ustadzah' yang hafal 30 juz dan bisa tajwid dan gharib tingkat tinggi. Tapi, saya juga mau bisa bergelut di laboratorium sebagaimana anak IPA pada umumnya.
Akhirnya, saya pusing.
Saya pun masuk pondok. Pondok yang tidak ada pelajaran IPA-nya sama sekali. Apalagi biologi dan fisika, ya.
Pondok saya menginduk ke salah satu SMA negeri agar santri mendapat ijazah nasional. Jadi, saat lulus di pondok, saya punya 2 ijazah; pondok dan SMA Negeri. Ijazah SMA pun, saya masuk jurusan IPS. Jadi, saya merasa di titik ini hidup saya benar-benar random. Saya cinta biologi, tapi mau jadi ustadzah, lalu ijazah SMA jurusan IPS. Mau jadi saya apa nanti nih? Haduh.
Tapi, itu bukan penghalang dan hal yang senantiasa saya keluhkan. Hal baik yang bisa saya dapatkan darinya adalah; terbuka banya kesempatan untuk saya. Ya, saya adalah anak yang banyak mau. Tanpa sadar pun, dengan kegemaran baca ensiklopedia tubuh manusia dan mondok selama 6 tahun membuat saya mendapatkan pemahaman yang cukup di dua bidang yang saya sukai. Pelajaran inti di pondok yang sebagian besar didominasi mata pelajaran IPS seperti sejarah membuat saya yang dulunya hanya fokus eksperimen dengan bedah ikan atau mengutak-atik kerangka tulang dan anatomi manusia memiliki wawasan tentang sejarah yang cukup mumpuni lah. Not bad but not perfect at all.
Sampai titik ini, saya tidak pernah pede dengan sejarah, dan nilai saya dalam sejarah juga cukup/pas-pas-an, tidak jelek-jelek amat.
Tapi, saya jadi tahu banyak dan bisa mencoba banyak hal. Ditambah, buat saya memelajari mapel jurusan sejarah seperti sejarah dunia, indonesia, sosiologi, ekonomi dan lainnya seakan hanya mengubah subjek. Kalau sebelumnya biasanya saya belajar tentang anatomi ikan dan menyusun rangkaian listrik, sekarang saya dibawa untuk melihat dunia lebih jelas dan luas lewat sejarah dan ekonomi. Memahami dunia lebih banyak dan tidak hanya terkungkung dalam laboratorium anatomi. Kalau sulit, ya jalani saja, tidak mungkin kita akan jadi bodoh kalau kita senantiasa belajar.
Segalanya terasa lebih menyenangkan. Saya sangat bersyukur atas hal itu. Semoga pembaca sekalian juga dapat memetik kebaikan dari hal-hal 'aneh' atau 'random' yang tak terduga di hidup. Nikmat yang kita terima ini ada banyak sekali, tapi tidak semuanya memilih untuk selalu melihat kebaikan di segala situasi yang ada dan dialami. Demi kebahagiaan kita, mulailah untuk bersyukur dari hal-hal random hari ini!


Komentar
Posting Komentar