Definisi "Capek" Yang Bisa Saya Terima


"Capek ya nak? Istirahat ya, cuci muka, sikat gigi, terus tidur di kamar." 

Kala saya masih kecil, kisaran umur 3-7 tahun, kalau kami sekeluarga pulang ke rumah dari trip panjang atau pokoknya kegiatan apapun yang membuat kami baru sampai rumah di malam hari, dengan badan yang cukup encok karena menahan kantuk di motor yang stangnya tak bisa saya jadikan bantal tentunya, bunda saya selalu berkata demikian.

"Tolong beresin kasurnya kak, Amirah capek nih, mau tidur." Kadang kala saya juga suka dimintai tolong seperti ini. Menyiapkan kasur untuk adik saya yang sudah drama dan memasang ekspresi sebagai manusia paling lelah di dunia kalau dibangunkan dan disuruh ke kamar. Saking susahnya, ia harus dibujuk kalau kasur di kamar sudah siap. Saya suka greget kalau Amirah udah kayak begitu. Tapi, sebagai kakak yang bertanggung jawab dan membantu orang tua ya saya dengan wajah prengat-prengut sekaligus ngantuk membereskan kasur.

Setelahnya, saya mengganti baju, menyikat gigi dan menyetel murattal untuk didengarkan selagi lampu kamar dimatikan nanti.

Saya selalu kesal dengan kalimat bunda yang tersebut. Saya sangat kesal kalau disuruh istirahat cepat, padahal masih banyak hal yang harus dibereskan (barang bawaan, baju kotor dan perintilan lainnya). Fakta bahwa saya sebagai anak kecil waktu itu tidak bisa melakukan apapun, ya karena pasti hanya mengerecoki barang bawaan atau pakaian kotor dari trip keluarga, hal itu membuat saya makin kesal.

Meski saya seringnya sih nurut. Kalau disuruh tidur ya langsung tidur. Setidaknya, semua barang saya sudah saya amankan semua, jadi bunda saya tidak terlalu repot.

Saya lupa bagaimana kalimat tepatnya yang saya ucapkan untuk mengekspresikan kekesalan saya yang tersebut. Tapi, yang jelas saya hanya pernah mengucapkan keheranan tersebut di depan wajah bunda saya hanya sekali (karena sisanya hanya dumel-dumel di dalam hati dengan alis yang berkerut kesal). Kenapa?

Logika yang saya miliki sejak itu sampai sekarang, selagi belum bekerja dan mandiri finansial, ya berarti kita belum capek. Maksudnya begini, kan' waktu itu saya hanyalah bocil TK/SD yang belajar full-day di sekolah (tidak setiap hari ya, hanya hari selasa dan kamis, sisanya saya pulang setelah zuhur), saya hanya sibuk baca buku di perpustakaan atau bermain dengan teman, ya sesekali buka buku latihan soal ada lah. Tapi, saya diantar-jemput oleh ayah, kalau kurang apa-apa saya tinggal minta dan tidak perlu menunggu lama keperluan sekolah saya dibelikan, bahkan kadang saya bisa pilih sendiri. 

Kalaupun dalam trip panjang, baik dengan motor atau mobil, saya belum pernah menyetir mobil atau mengendarai motor secara langsung, jadi saya hanya duduk manis tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun. Saya hanya mengantuk karena bosan dengan macet di jalan. Di tempat liburan, atau biasanya di rumah nenek saya, saya hanya bermain dengan sepupu, makan, minum, mandi, shalat, pokoknya melakukan kegiatan bocil pada umumnya, tanpa beban pikiran di kepala.

Saya tidak menyetir mobil, mengendarai motor, tidak juga harus membeli makanan dan lauk ke luar rumah, justru saya menunggu lauk dan nasi hangat dituangkan ke piring saya. Saya 'tidak melakukan apapun'. Sampai sini, semoga pembaca semua bisa memahami apa maksud saya.

Buat logika saya waktu itu, dengan saya yang 'tidak melakukan apa-apa' tersebut, lalu dengan hanya modal wajah ngantuk karena tidur selama trip dan saya dibilang "capek ya, istirahat ya.." maksudnya gimana, ya? Saya hanya mengantuk, bukan capek sebagaimana ayah-bunda saya alami sepanjang perjalanan. Ditambah, setelah mendengar kalimat itu, ayah-bunda yang jelas-jelas lebih capek, malah membereskan barang, membersihkan mobil/motor atau kadang seluruh rumah dibereskan selagi saya sebagai anaknya tidur di kasur dengan lantunan murattal di kamar.

Bagi saya, yang saya alami itu bukan capek, apalagi lelah. Hanya... kebosanan yang akhirnya membuat saya mengantuk dan tubuh saya lemas ketika sampai rumah. Tapi, bukan capek. Bukan lelah karena saya mengangkut barang dan menyetir. Bukan.

"Capek apa sih, bun? Orang kakak cuma tidur." Satu hari saya pernah berkomentar begini di depan bunda saya, di kondisi yang sama seperti yang sudah saya sebutkan. "Kan yang kendarain motor ayah, yang gendong Amirah selama perjalanan bunda, kakak cuma duduk di depan motor. Apa capeknya kakak coba? Kenapa kakak harus banyak istirahat sedangkan yang banyak kerja dan itu pasti capek adalah ayah-bunda?"

Orang yang lelah adalah yang bekerja. Saya masih anak-anak dan tidak bekerja, mengantuk si iya, tapi dengan selalu disuruh tidur cepat dengan imbuhan "capek ya nak", buat saya itu adalah hal yang tidak masuk asal. Menurut logika saya waktu itu, ya. Sebagai bocil yang banyak "kesibukan", bagi saya tetap saja orang dewasa, orang tua adalah sosok yang lebih lelah. Kami sebagai bocil kalau lapar tinggal ke meja makan atau minta masak, tidak perlu mencari uang untuk beli makanan dulu seperti orang dewasa yang mandiri dan bekerja. Kami sebagai bocil masih bergantung pada orang dewasa. Buat saya waktu itu juga, kelelahan kami ya tidak sebanding dengan orang dewasa yang sibuk bekerja, dan kami hanya bermain.

Semua itu tidak sama. Tuntutan untuk saya yang masih bocil kala itu untuk istirahat tidak sebanding dengan lelahnya. Orang dewasa yang bekerja dan lebih banyak lelah harusnya mereka lebih banyak tidur dan istirahat, bukan bocil seperti saya. 


Pola pikir ini membentuk pribadi saya hingga hari ini yang tidak mudah men-cap diri saya lelah, atau mengeluh ke orang/teman lainnya, "capek banget, nih." Karena, sampai hari ini saya masih bergantung pada orang tua (ya mengeluh capek selama mondok sih ya pasti pernah, tapi ya... tidak pernah mengeluh seakan-akan hidup saya berat sekali).

Hal ini membuat saya suka risih dengan orang yang gampang mengeluh dan berkomentar dengan lesu dan tidak bersyukur atas apa yang mereka alami dan miliki di hidupnya. Suara hati saya semacam; "woylah, kita baru belajar yang semuanya masih difasilitasi, tidak perlu cari uang sendiri. Kok banyakan ngeluhnya daripada berjuangnya, sih?"

Bukan berarti saya adalah manusia bermental baja yang tidak pernah mengeluh ya. Tapi, buat saya, mengeluh itu setidaknya cukup layak jika seseorang sudah menanggung semua hidupnya sendirian, bahkan seseorang tersebut sudah menanggung keluarganya. 

"Justru semalem pas pulang dari jakarta, bunda lebih capek. Bunda langsung sapu-pel rumah, ayah langsung angkat barang belanjaan dan pakaian kotor bekas kita liburan, ayah juga langsung vakum mobil, dinginin mesin." Saya suka menambahkan komentar ini kalau menanggapi suruhan bunda saya yang selalu bilang "capek ya, tidur ya, istirahat."

Kenapa hanya saya dan adik-adik yang istirahat? Ayah-bunda yang jelas-jelas bekerja keras sepanjang hari, jarang sekali saya lihat istirahat. Terutama waktu saya kecil. Tapi, dengan pemahaman saya terhadap situasi, saya jarang mengungkapkan ini secara gamblang, karena saya tau kefrontalan saya saya melukai hati mereka.

Ini hanya gejolak peduli yang sulit diterjemahkan dan disampaikan oleh seorang bocil kisaran 3-7 tahun waktu itu. Ya saya sendiri. Saya harap, semua orang yang sudah menanggung beban hidupnya sendiri tanpa bergantung pada orang tua bisa mendapat waktu istirahat yang cukup. Bekerja keras memang harus, tapi jiwa dan tubuh juga harus diistirahatkan.

Setidaknya, itulah hal yang ingin saya yang masih bocil itu ingin sampaikan. Tetap waras dan semangat semuanya!

Komentar

Postingan Populer