Buat Santri Yang Katanya Mau Bebas dari Kurungan Pesantren, Yakin Sudah Siap?

Selama 6 tahun saya mondok di attaqwa Depok, terutama di tahun ketiga, setiap pagi pukul 7 atau 8 pagi di hari selasa atau rabu, selalu ada kelas pemikiran islam/Islamic Worldview bersama Dr. Adian Husaini. Satu tahun penuh di tahun ketiga adalah waktu belajar saya dan teman-teman dengan beliau yang sangat efektif dan intensif.

Mengingat setelah lulus dan menjadi alumni ini  bertemu dengan beliau tak semudah saat menjadi santri dulu, saya kerap bersyukur teramat atas pengalaman di kelas tatap muka bersama beliau. Saya yang masih berumur 15 tahun waktu itu hanya menganggap itu adalah kelas pagi yang dipenuhi rasa kantuk. Tapi, sekarang satu persatu mulai sadar insight dan visi besar yang beliau ingin tanamkan pada kami sebagai santrinya. Bahkan sekalipun kami sudah menjadi alumni.

Curahan Santri Yang Merasa Terkekang di Pondok, Tapi Juga Enjoy, Tapi Pengen Bebas Juga

Satu hal yang selalu 'dibaweli' oleh beliau, bahkan tak jarang sampai saya menduduki bangku senior atau tahun terakhir di pondok, bisa dibilang cukup bosan dengan hal itu adalah; beradab jiwa raga, berjuang keras dalam menuntut ilmu karena Allah SWT dan berda'wah pada umat. Saya paham maksud beliau, akan tetapi penyampaian yang diulang-ulang kadang membuat anak belasan tahun dan belum mengenal dunia lebih jauh karena masih di pondok waktu itu, yaitu saya, terasa cukup menjengkelkan.

Kenapa? Saya adalah tipikal trial-and-error dalam belajar. Saya akan lebih mudah memahami jika langsung praktek dan dibebaskan dengan gaya saya sendiri. Sedangkan di pondok hanya selalu diberitahu "dunia di sana keras, liberal, kalian harus kuat-kuat", "ini akan kalian perlukan saat lulus nanti". Bukan berarti di pondok itu memerangkap saya ya, nggak juga. Ada gejolak anak muda yang ingin bebas dan banyak mau, tapi di saat yang sama saya tahu kalau saya yang belum cukup bekal ilmu dan pemikiran dilepas di dunia luar/masyarakat akan dapat terbawa arus. Tapi, karena di pondok terus, ya saya jadi kagok bersikap ketika perpulangan ke rumah dan terjun ke masyarakat.

Dimohon pembaca menyikapi ini dengan bijak dan kepala dingin ya, saya tidak bermaksud merendahkan sisi mana pun.

Mondok ini keputusan dan tekad saya sejak kecil, tapi saat menjalaninya kerap ada beberapa hal yang hilang atau kurang, yang awalnya saya kira saya tidak akan mengapa dengan hal itu. Contoh, saya kira saya akan tidak mengapa kalau kegiatan hanya berputar dan fokus di pondok saja, tapi nyatanya ada perasaan atau gejolak ingin mengenal dunia lebih luas sebagaimana teman saya di luar yang sekolah si swasta internasioanl atau sekolah negeri dengan bebas menggunakan gawai, fasilitas lengkap dan maksimalis, mengunjungi perpustakaan kristen, dan lain-lainnya.

Pengetahuan saya banyak kok yang didapat dari pondok. Banyak hal yang saya bisa tapi teman saya di luar tidak bisa, kebalikannya juga. Akan tetapi, ada satu masa saya jenuh karena tidak bisa membayangkan apalagi bersentuhan langsung dengan dunia luar. Himbauan-himbauan yang dikabarkan dari guru rasanya kurang nendang. Peratuan segambreng yang selalu diumumkan di jadwal kedatangan membuat hati saya kotor dengan kesal dan mulut serta lidah penuh dengan dengusan nafas jengkel.

Seperti saat saya sudah menulis makalah di tahun keempat mondok. Rasanya kerelevanannya hampir tidak ada, hanya berisi idealisme saya. Saat berbincang dengan teman luar pun, rasanya dunia kita semakin berbeda. Kita semua tahu dan bisa membedakan tentu ya yang mana baik dan buruk, akan tetapi, saya merasa dengan visi da'wah dan menyeru kepada masyarakat awam yang diserukan oleh Dr. Adian dan guru lainnya tidak sejalan dengan yang saya alami.

Memang saya dan santri lain di pondok dibekali dengan beragam ilmu pengetahuan dan kitab, tapi kenapa rasanya tidak bisa berda'wah atau sekedar berbincang tentang materi kebaikan kepada teman yang tidak mondok dan mendapatkan pemahaman agama dengan baik di luar? 

Kenapa rasanya saya hanya terkungkung di dalam idealisme tanpa mampu berda'wah dengan istilah dan gaya yang membuat masyarakat awam nyaman dan menerima?

Pasti ada yang salah. Ini semua tidak sejalan dengan visi-misi da'wah dan beradab jiwa-raga yang Dr. Adian ucapkan.

Saya menyadari, gejolak dalam diri yang katanya ingin bebas ini menghambat proses pematangan intelektual saya di pondok. Ibarat menggoreng ikan, saat digoreng memang ikan sudah panas, akan tetapi belum tentu matang. Karena tidak ada ilmu yang memadai, jadi melihat kulit ikan mulai menggosong atau aroma mulai keluar, kita menganggap ikan itu sudah matang dan mengangkatnya. Saat disajikan, ternyata dagingnya belum matang.

Amat menyedihkan kalau hal seperti ini hanya dibiarkan.

Maka, saya menahan diri, bersabar menempuh 6 tahun di pondok bersama dengan gebrakannya. Tapi, saya tidak pernah merasa ingin pindah pondok atau mengakhiri hidup saya ya (itu lebay banget sih), ada satu titik saya jenuh dan hanya ingin semuanya lancar agar saya bisa menyelesaikan 6 tahun mondok dengan dada yang tidak sesak dan jalan yang ringan.

Ya tetap tidak ada sih. Kalau ingin hebat, ya harus menghadapi ujian yang hebat dan berat. Begitulah paradoks yang ada dalam diri manusia, termasuk saya.

Yakin Sudah Siap?

Untuk apa cepat-cepat keluar dan sok-sok memutuskan urusan hidup kita (meski kita memang ada hak ya..)? Dengan merefleksikan kembali perkataan Dr. Adian tentang beradab jiwa-raga dan semangat da'wah, buat saya, bagaimana ingin 'matang' kalau kitanya 'tidak sabaran' untuk segera terjun ke dunia bebas?

Hal ini berlaku berbeda di tiap orang tentunya. Yang jelas, kita harus selalu siap menanggung resiko dari keputusan yang kita ambil, menjalaninya dengan pahit-manis, asam-garam, suka-dukanya. Karena, setelah menyelesaikan jalan yang sudah ditempuh dengan keringat, darah dan air mata perjuangan mati-matian, tak akan ada penyesalan yang begitu berarti saat menengok kembali ke belakang atau merefleksikan kembali apa yang sudah kita lakukan.

Sukses selalu untuk pembaca dan santri serta pejuang da'wah lainnya! Semoga kita selalu siap dan dapat memelajari segala kejadian hidup kita untuk membebaskan diri dari kurungan jenjang belajar di waktu yang tepat.

Komentar

Postingan Populer