Kenapa Masih Banyak Yang Sulit Berpikir Sistematis?

Sistematis adalah sesuatu yang teratur serta sesuai dengan sistem yang sudah dibentuk. Sedangkan berpikir (asal kata: pikir) adalah mempertimbangkan sesuatu dengan akal budi untuk memutuskan sesuatu dengan pertimbangan yang baik (KBBI Online/Daring, diakses pada 25/11/2025, pukul 22. 27 WIB). Maka, berpikir sistematis adalah berpikir dengan akal budi/sehat kita secara baik dan bersistem.

Sederhananya, banyak orang bisa berpikir kritis; menganalisa denga logis dan mendalam, menemukan pola logika yang ada dari sebuah informasi serta menemukan kesimpulan yang tepat dan mendasar, akan tetapi tidak semua yang demikian bisa menyusun pemikiran kritisnya menjadi penjelasan yang beralur, tersistem dan mudah dipahami. Di sinilah letak keunggulan berpikir sistematis dibanding berpikir kritis.

Kekurangan kemampuan pada menyusun argumen dan logika hasil analisa terkait kasus atau perihal secara runut dan sederhana adalah pola yang masih sangat banyak ditemui di antara masyarakat. Termasuk mahasiswa dan siswa SMA yang harusnya sudah bisa berpikir dan menganalisa tingkat tinggi sekaligus memetakannya secara sistematis sehingga penjelasan tidak berbelit-belit dan sampai ke kesimpulan sebagai tujuan yang ingin dicapai. 

Semua orang yang berpikir sistematis, pasti kritis. Karena untuk menyusun sistem dalam menjelaskan pemikiran dan jawaban yang kita dapat membutuhkan kekritisan yang tinggi dan proses mengolah informasi yang cepat. Jadi, bukan berarti berpikir kritis dan mendalam itu buruk, akan tetapi masih perlu dilengkapi. 

Tak jarang kita jumpai, terutama dalam debat antar akademisi atau pegiat forum ilmiah dan literasi kerap menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sulit, susunan kata yang rumit, serta istilah ilmiah yang memang bukan sebuah kesalahan, tetapi kerap ia mengurangi efektivitas dipahaminya sebuah penjelasan. Hal ini didukung dengan berbagai faktor:

1) Tidak mengamalkan hasil evaluasi dengan baik

Pasti selalu ada evaluasi yang dilakukan bagi orang berpikir kritis. Akan tetapi, mengamalkan evaluasi dengan kandungan 'idealisme' dan keperfeksionisan di dalamnya bukanlah hal yang mudah. Apalagi bersinggungan dengan idealisme dan standar lawan bicara lainnya.

2) Tekanan untuk menggunakan istilah tinggi untuk terlihat baik

Memang bukanlah hal yang baru, jika kita terjun dalam diskusi ilmiah, istilah tinggi (akan jarang menggunakan kalimat 'penerapan', tapi 'implementasi', bukan lagi dengan kata 'penafsiran', tapi 'intepretasi', dan lain sebagainya) kerap digunakan. Itulah yang membangun suasana intelektual. Akan tetapi, fokus berlebih terhadap hal ini menyebabkan pengurasan energi lebih yang harusnya bisa digunakan untuk mengelola penjelasan atas kesimpulan kritis dan logis yang didapat.

3) Karena terlalu banyak tahu, bingung mana poin yang harus diutamakan

Hal ini benar adanya. Seorang akademisi, mahasiswa atau pegiat literasi mengetahui banyak hal dalam berbagai aspek. Bacaan mereka kaya dan luas, pengetahuannya mendalam, setiap omongannya seakan memiliki footnote referensi primer/ilmiah. Segalanya 'berdaging' dan bukan asal ceplas-ceplos. Meski nampak luar biasa, terlalu banyak informasi kerap membuat otak bingung dan menguras tenaga lebih besar untuk memutuskan poin utama mana yang harus disebutkan. Ini adalah tantangan dan resiko yang harus dihadapi oleh para akademisi dan pegiat berpikir kritis.

4) Tidak memahami konteks dan kesimpulan besar yang dibutuhkan

Tidak memahami yang dimaksud tentu bukan karena benar-benar tidak paham. Karena akademisi memiliki banyak pengetahuan dan referensi di kepalanya, pasti memahami materi diskusi bukan hal yang menyulitkan. Akan tetapi, tidak mungkin membahas segalanya dalam sebuah forum yang terbatas, bisa hanya 1-2 jam, tidak mungkin unlimited, pasti diberi batasan waktu. Pasti akan selalu ada topik utama yang dijadikan highlight dan fokus pembahasan agar argumen tidak melebar ke mana-mana. Tidak memahami tujuan forum diskusi ilmiah dan konteks yang diperlukan adalah penghambat sejati untuk membuat penjelasan yang sistematis atas analisis kritis yang telah dihasilkan.

Semua ini adalah evaluasi dan motor penggerak diri untuk tidak hanya menjadi sosok yang analitis, logis, dan kritis. Karena segala teori dan diskusi dari forum ilmiah dan akademisi untuk kebaikan masyarakat awam dan penerus kita di masa depan. Berpikir dengan sistem seakan membuat template yang akan memudahkan kita menjelaskan argumen dan generasi yang akan datang untuk memahami  maksud kita. Istilah ilmiah bukanlah segalanya dalam berbicara dalam diskusi, akan tetapi penangkapan poin yang tepat antar pemberi dan penerima. 

Menempuh idealisme ini memang tidak pernah mudah. Tapi, akademisi atau pembelajar sejati bukan yang ingin meraih kesempurnaan tanpa celah, akan tetapi nilai dan kebaikan yang bisa diambil dari segala pemikiran yang tercipta. Semoga dengan ini, kita semua tidak hanya bisa menganalisa dalam, tapi bisa memetakannya dalam sistem penjelasan lisan/tulisan yang bisa bermanfaat bagi generasi yang akan datang.

Komentar

Paling Banyak Diminati