Kunci Bisa Lancar Nulis Ilmiah
Nulis aja. Idealisme dan revisi nanti.
Sesederhana itu.
Raditya Dika once said di sebuah podcast, bahwa dia akan selalu memaksakan diri untuk terus menulis. Menulis apapun itu, setiap hari. Apa yang terjadi ketika kita melakukan sesuatu dengan dipaksa dan tidak dengan sepenuh hati meski itu hal yang kita sukai?
Ya hasilnya pasti jelek atau tidak maksimal.
"Terus, apa gue berhenti nulis? Ya nggak. Apakah tulisan gue bagus? Jelek-lah." Kalimat ini adalah yang menjadi highlight di setiap shorts video, karena ia berisi motivasi tanpa afirmasi berlebihan. "Gue nulis, dengan segala kejelekannya itu. Meski hasilnya jelek, dengan itu gue tahu mana yang harus diperbaiki." Karena sudah kita drop out dari kelumit pikiran ke sebuah tulisan, meski jelek, bentuknya menjadi lebih jelas untuk dipilah dan dievaluasi. Prinsip untuk lancar menulis, bahkan menulis ilmiah adalah demikian.
Kenapa saya berani menulis begini? Karena saya sudah mengalaminya sendiri.
Dalam perjalanan menulis saya, cita-cita awal saya hanya sekedar ingin menjadi novelis sukses seperti Tere Liye dan Andrea Hirata. Pasca membaca 'Hujan' dan 'Sirkus Pohon', keinginan itu meningkat berkali-kali lipat. Karena saya tak mau tanggung-tanggung, maka dunia menulis fiksi dan novel saya tekuni habis-habisan, mengikuti berbagai lomba cerpen dan novel, menerima kritik pedas dari juri dan penolakan dari beragam penerbit, dan menargetkan diri untuk kuliah sastra dan pendidikan bahasa indonesia dengan serius. Alhamdulillah banyak juga dari tulisan tersebut yang lolos jadi pemenang atau dibukukan menjadi antologi.
Satu poin dalam buku kedua penulis yang saya sebutkan menjadi menarik dan berbeda dari yang lain adalah; topiknya 'daging'. Riset mendalam terkait topik yang diangkat tema buku membuat pembaca bukan hanya merasakan keindahan retorika bahasa, tapi juga ilmu dan wawasan baru di dalamnya. Akhirnya saya menyadari bahwa yang menjadi nilai tambah dan yang membuat saya serius ingin menulis novel/karya fiksi adalah; bisa menyajikan materi berat dalam bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Bukan sekedar berbelit-belit dalam bahasa yang puitis.
Spirit menyederhanakan penjelasan sulit menjadi mudah dipahami dan digunakan dalam keseharian itu bukan hal yang mudah. Maka, orang yang berhasil melakukannya adalah usaha yang sangat mengesankan.
"Tapi kan kita lagi bicara tentang menulis ilmiah, bukannya menulis ilmiah itu harus dengan bahasa yang tinggi? Istilah rumit? Mana ada menulis ilmiah itu sederhana dan mudah dipahami?"
Sebagai alumni pondok pemikiran dan jurnalistik, dengan lingkungan dengan nuansa jurnalistik dan kepenulisan yang tinggi: bahasa ribet itu tidak selalu menjadi jalan baik untuk membuat kita lancar menulis ilmiah, atau bahkan membuat tulisan ilmiah kita bagus. Tidak. Seringnya tulisan jadi jelek dan tidak ada 'isi'-nya.
Saya kerap membuka draft makalah atau artikel ilmiah saya selama mondok, beberapa ada yang dengan bahasa berbelit-belit dan akhirnya saya sendiri sebagai penulisnya tidak paham, apa sih yang saya maksudkan di sini?
Ilmiah itu tidak selalu dengan istilah rumit.
Meski memang harus begitu (kan tidak mungkin menulis jurnal ilmiah dengan bahasa novel ya), karena levelnya berbeda dengan artikel populer atau semi-populer. Tapi, jika kita tidak paham nantinya, atau malah membuat pembaca kebingungan, ya untuk apa?
"Tapi tetep aja, kan harusnya pembaca yang memahami dong, orang udah tahu baca tulisan ilmiah yang bahasa ribet dan ilmiah."
Ini bukan tentang salah penulis tulisan ilmiah atau pembacanya. Sebagai pembaca, kita bisa memilah dan memilih ingin membaca tulisan ilmiah di tingkat kesulitan yang seberapa; jurnal, skripsi, tesis, atau disertasi? Terserah. Sebagai penulis, kita menyesuaikan gaya bahasa dan menulis sesuai aspek dan tingkatan mana yang kita pilih.
Toh, penulis yang baik akan memperjuangkan karyanya agar se-pantas mungkin sesuai dengan level sebagaimana seharusnya. Orang yang menulis tesis akan berusaha sekuat tenaga menyempurnakan variabel dan metote penelitiannya sebagaimana tesis, bukan skripsi apalagi disertasi.
Sulit? Ya kalau belum terbiasa memang sulit. Jelek? Siapa sih yang selalu ngatain suatu tulisan terlalu sering kalau bukan penulisnya sendiri? Kan, biasanya begitu. Meski tidak selalu.
Yang jelas, keberbelitan bahasa dan istilah dalam menulis ilmiah itu bukan segalanya jika kita hanya menginginkan kesempurnaan tanpa celah, tanpa revisi dan berlatih terus-menerus. Seiring berjalannya pembiasaan dan latihan, ilmiah itu bukan yang dilihat dari seberapa sulit istilah yang dipilih, tapi bagaimana kita ingin terus berlatih, memperbanyak revisi, menulis yang 'jelek' untuk diperbaiki, dan menyesuaikan level karya mana yang ingin kita tulis. Semuanya adalah tentang praktek dan revisi konstan, tapi dengan perbaikan menuju kelayakan yang tidak instan.
Salam sukses untuk semua penulis yang membaca ini, ya! Kalau ada opini dan hal yang didiskusikan, bisa drop di comment section, mari kita diskusikan kelumit menulis ilmiah yang katanya harus ribet ini!


Komentar
Posting Komentar