Belajar Ala Harvard? Ta'lim Muta'allim, dong!
Metode Belajar Ala Ta'lim Muta'allim
Metode ini dilakukan oleh ulama terdahulu yang mana melibatkan ilmu tidak hanya ketika belajar, tapi juga dalam beraktivitas sehari-hari. Praktek metode ini secara intens dan penuh perjuangan membuat materi pembelajaran nyantol di otak dan dapat kita gunakan sesuai kebutuhan tanpa khawatir akan hilang dan lupa.
Konsepnya sederhana, yang terpenting dalam hal ini adalah repetisi/pengulangan: membaca dan menjelaskan catatan dengan kesadaran penuh dan hati yang ikhlas.
Pelajaran hari ini diulang 5xPelajaran kemarin diulang 4xPelajaran dua hari yang lalu diulang 3xPelajaran tiga hari yang lalu diulang 2xPelajaan empat hari yang lalu diulang 1x
Bentuk mudahnya seperti ini:
Pelajaran hari jum'at diulang 5x Pelajaran hari kamis diulang 4xPelajaran hari rabu diulang 3xPelajaran hari selasa diulang 2xPelajaran hari senin diulang 1x
Kelima-limanya pun kita lakukan dalam satu hari. Jadi, jika hari jum'at kita belajar 4 pelajaran, ulang keempatnya masing-masing lima kali, setelahnya buka catatan pelajaran di hari kamis dan baca serta ulang-ulang hingga 4x hingga seterusnya sampai diulang 1x. Tinggal sesuaikan dari hari mana kita ingin memulai. Jadi, dengan ini insyaallah kita dapat mengingat materi pelajaran selama seminggu dengan mudah.
Waduh, nampaknya berat sekali mengulang itu semua berkali-kali setiap hari, mana ditambah beban pelajaran hari itu, belum lagi bekerja dan tuntutan lain.
Ingat, ini belajar.
Belajar ini unik. Karena ia adalah kegiatan yang memang diharuskan capek, makin capek belajar, makin bagus. Makin banyak pahalanya, makin berkah dan nempel ilmunya. Jika kita masih merasa berat, itu berarti jiwa pembelajar kita belum sepenuhnya mengakar. Apakah itu artinya kita adalah murid yang buruk? Tidak juga. Selagi kita tetap berusaha kuat untuk istiqamah, selalu ada jalan untuk mempermudah kita.
Belum lagi, jika pembaca memperhatikan lebih dalam, ulama melibatkan kegiatan muthalaah atau mengulang-ulang ini "dengan kegiatan sehari-hari". Bisa sambil memasak sambil melantunkan syi'ir yang bau dihafal, jalan pagi sambil membaca catatan, membersihkan rumah atau sambil bersantai di kasur saat waktu senggang dengan ber-monolog materi belajar yang kita ingat.
Kecanggihan AI dan beragam teknologi masa kini pun mempermudah kita untuk melaksanakan metode ini dengan sempurna tapi tidak membenani, bisa dengan meminta AI meringkasnya menjadi poin penting dan mendiktekannya pada kita, membuatkan menjadi podcast atau kuis interaktif. Selalu ada jalan. Bagaimana kita untuk membuat hal yang nampak sulit dan berat ini menjadi mudah dan menyenangkan.
Inilah kesakralan belajar yang dijadikan titik berat pada kitab Ta'lim Muta'allim. Belajar dan berdiskusi adalah hal yang harus melekat hingga kita ulang-ulang dan terapkan di kehidupan sehari-hari. Bukan berarti metode Harvard itu buruk, kedua ini sama-sama baik dan berdampak luar biasa. Namun, sebagai muslim, sudah selayaknya kita mengikuti jejak dari ulama kita sekuat tenaga serta mendapatkan poin plus berlipat ganda: tidak hanya pintar dan kritis, tapi juga mendapat berkah ulama dan ridha Allah SWT dengan mengikuti metode yang pernah mereka jalani.


👍❤️🌹
BalasHapus^_^
Hapus