Dengan Mantiq, Dunia Tak Lagi Sama
"Kita akan memahami atau belajar tentang..." Dr. Syamsuddin Arif sebagai pengampu mata kuliah mantiq/logika di At-Taqwa College menuliskan satu kata berjumlah 5 huruf di papan tulis, "LOGIC, atau logika."
Mantiq atau yang biasa dikenal dalam bahasa indonesia adalah logika adalah ilmu yang mempelajari logika dalam susunan kalimat. Mempelajari ilmu ini membutuhkan konsentrasi dan fokus tinggi, ia sama seperti matematika karena melatih kecepatan dan ketepatan logika dalam mengambil dan memutuskan suatu konklusi/kesimpulan dari sebuah premis. Ilmu ini dipelajari oleh cendekiawan muslim dahulu dari orang-orang Yunani yang dikenal pandai berlogika dan berfilsafat. Bukan berarti dengan mengadopsi dari mereka, umat muslim kekurangan ilmu, umat muslim sudah lebih dulu "berlogika" atau "berfilsafat" dengan ilmu aqidah atau ilmu yang mempelajari tenntang ketuhanan.
Dalam pembahasan mantiq, kita diajarkan menganalisis kalimat. Apakah kalimat itu adalah proposisi? Kalau iya, termasuk proposisi apakah ia dan mengapa? Kalau tidak, apa alasannya? Termasuk proposisi apakah ia? Kita akan mengenali beragam macam proposisi dan relasinya, dan di situ kita akan mengetahui kecacatan logika seseorang dalam mengambil kesimpulan atau menyusun premisnya.
Contoh:
A: "Eh, kok Gibran bisa jadi wakil presiden, ya?"
B: "Itu karena dia anak presiden."
Dialog tersebut jika diproyeksikan menjadi susunan premis, kurang lebih akan menjadi seperti ini:
Premis 1: Gibran anak presiden
Premis 2: Anak presiden bisa menjadi wakil presiden
Konklusi: Gibran menjadi wakil presiden
Singkatnya, hal itu salah secara logika dan akal sehat kita, karena jika kita menjadikan faktor "anak presiden" adalah alasan Gibran menjadi wakil presiden, maka seharusnya semua anak presiden menjadi wakil presiden.
Akan tetapi, dalam menjawab hal tersebut tidak cukup dengan argumen demikian. Kita diharuskan menyusun premis sejenis dan mengoreksi dari sudut logika serta menunjuk mana yang salah. Sederhananya, kalimat tersebut salah karena faktor mistakin of predication of causation atau menjadikan predikat sebagai sebab atau menjadikan pernyataan "anak presiden" menjadi penyebab seseorang menjadi wakil presiden.
"Dengan ilmu ini, kita nggak akan mudah dikibulin atau dibodohi," ujar Dr. Syamsuddin di tengah pelajaran, "dengan kamu menguasai ilmu ini, yakinlah kamu bisa menaklukkan ilmu apapun, karena ini dasar berpikir. Kita kan' belajar dengan berpikir, jika kita sudah benar berpikirnya, maka insyaallah belajarnya benar dan melesat cepat."
Maka dengan itu, mantiq bukan hanya melihat kalimat atau sebuah pernyataan tanpa analisis premis-premisnya. Hal itu berpengaruh ke depannya bagaimana seorang pelajar ilmu ini menyikapi kalimat-kalimat yang ada, terkhusus saya. Setelah beberapa sesi belajar bersama Dr. Syamsuddin Arif kerap membuat otak saya secara otomatis menyusun premis, seperti contoh:
A: "Eh, dia kok cantik banget, ya, iri deh.."
B: "Ya iyalah, dia skincare-nya aja jutaan, wajar aja.."
Seketika di otak saya muncul sekelibat konklusi, yang menyimpulkan bahwa kalimat dalam dialog itu salah secara logika, karena "skincare jutaan" dijadikan penyebab seseorang menjadi "cantik banget". Jika benar demikian, maka harusnya semua orang yang menggunakan skincare berharga jutaan cantik banget, tapi nyatanya tidak atau istilah logikanya: mistakin of predication of causation atau menjadikan predikat sebagai sebab. Adapun sebenarnya definisi cantik pun beragam dan hal itu akan menjadi diskusi yang rumit dan panjang jika dibahas dengan gaya premis ala ilmu mantiq ini, tapi tentu bagi orang yang dahaga intelektualnya tinggi, ini akan menjadi tantangan yang memicu adrenalin.
Tidak semua orang bisa menganalisis seperti ini, bahkan bagi beberapa pelajar ilmu mantiq hal yang nampak sederhana ini kerap membingungkan dan menguras otak. Akan tetapi, bagi orang yang paham dan ingin berlogika dengan baik, kesulitan yang dialami bukanlah apa-apa, ia adalah rintangan yang akan mampu dilewati dengan perbanyak do'a, latihan soal dan gigih mengkritisi kalimat dan premis.
Sekarang, coba pembaca sekalian menganalisis kalimat berikut, konsepnya sama seperti contoh sebelumnya, ya:
Premis 1: Kamu suka makan pisang
Premis 2: Monyet suka makan pisang
Konklusi: Kamu adalah monyet
Apakah konklusinya benar? Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa dan mana yang salah? Selamat berlogika!
(dari catatan kuliah Ilmu Mantiq pertemuan 1, pada 25 April 2024)


Komentar
Posting Komentar