Ketika Kamu Nggak Mood Ngapa-Ngapain

Sebagai gen z yang belum bisa mandiri dan berdikari (berdiri di kaki sendiri), masih bergantung pada orangtua, berhadapan dengan standar TikTok, latar hidup teman seumuran yang berbeda, ada yang telampau hedon hingga yang biasa saja: saya atau kita semua paham bahwa yang harus kita lakukan adalah berusaha keras, menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, lebih sehat dan semangat. Standar TikTok atau media sosial tidak bisa jadi patokan utama kesejahteraan, karena siapa sih yang nggak posting hal baik di medsos yang mana bisa dilihat seluruh dunia? Orang pasti posting yang baik atau yang menunjukkan kehebatan atau sisi lebih lainnya.

Kita semua tahu itu. 

Tapi, kadang melihat ke belakang lalu membandingkan dengan ekspektasi; apa yang telah kita lakukan, apa yang telah kita dapat, apa yang sudah kita alami, kenapa terkadang rasanya tidak "seimbang"? Maksudnya, kenapa hidup kita gini-gini aja? Atau, tiba-tiba suka aja ada masalah dan gebrakan hidup datang tak diundang, yang akhirnya membuat kita bingung. 

Akhirnya kita nggak mood ngapa-ngapain, bukan karena malas, tapi ngerasa bahwa otak lagi bug dan nggak bisa memproses apapun. Kita tahu apa yang harus kita lakukan, kita tahu kalau diam aja bukan hal yang baik, kita harus belajar, bekerja dan berusaha. Otak kita dibekali kemampuan mengenal masalah yang bertubi-tubi adalah salah satu pemicu stress, maka freezing atau otak nge-bug adalah salah satu mekanisme diri kita melindungi diri dari tekanan psikologis yang akan memengaruhi performa kita.

Tapi, kadang kita hanya bisa diam, dan nggak mau ngapa-ngapain. Hidup segan, mati tak mau. Rasanya serba salah. Bekerja keras hasil yang sesuai target kita terasa masih jauh, kalau healing sebentar kita tahu hasil yang kita inginkan takkan tercapai dengan kerja keras.

Kalau pembaca sedang merasakan demikian, saya sebagai santri yang mondok 6 tahun dan telah menelan segala gebrakan hidup di pondok; dari kelakuan anak binaan selama menjadi mudabbir, aduan bawahan di organisasi saat saya sendiri tengah pusing habis rapat dengan dewan guru, anak kamar yang berantem karena hal sesepele gantungan baju, dan lain sebagainya, hanya bisa memberikan saran yang saya sendiri sudah terapkan.

Jika kita sudah mengusahakan yang terbaik dengan komunikasi hubungan kita dengan diri kita sendiri, berusaha sekuat yang kita bisa, tapi tetap tidak sesuai sebagaimana yang kita inginkan. 
Kalau mau berhenti dulu, nggak papa. Kalau mau rebahan seharian dulu, nggak papa. 


Asal, shalat, tilawah, murajaah dan kewajiban syar'i jangan ada yang tertinggal. Kalau kita lagi sedikit kehilangan motivasi untuk menjalani hari dengan semangat, ya gak papa. Asal harapan untuk tetap semangat itu jangan hilang. Bisa juga diseling "nggak mood ngapa-ngapain" itu disertai journaling. Saya pribadi biasanya kalau sedang burnout atau "nggak mood ngapa-ngapain" seperti itu, biasanya karena kurang journaling. Jadi, kerap saya paksa diri untuk ambil dan menulis di buku catatan harian, dan seringnya saat saya membalik halaman ke halaman-halaman awal saya menulis: saat-saat penuh antusiasme dan harapan, terpantik lagi semangat dan kekuatan untuk belajar dan mengurus santri lagi. Karena, siapa lagi yang bisa selalu menguatkan diri kita kalau bukan kita sendiri?

Kita analisis dulu kenapa "nggak mood ngapa-ngapain" itu bisa terjadi, setelahnya tetap usahakan apa yang kita bisa. Karena se-hopeless apapun kita, agama kita yakni Islam tidak pernah  mengajarkan pemeluknya menjadi sosok yang lesu, melainkan sosok yang selalu berharap, berjuang, dan berdo'a kepada Allah SWT serta menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Jadi, masih nggak mood ngapa-ngapain, nih?

Komentar

Paling Banyak Diminati