Yang Mau Tahu Kisah Oi Usus Buntu Bisa Baca Ini #2: Di Ruang Operasi
![]() |
| sumber: ilustrasi usus buntu/appendix |
Sudah pukul 10 malam, tapi makan malam yang disediakan rumah sakit tetap harus dimakan. Di tengah gemuruh sakit perut yang luar biasa itu, saya memaksakan diri makan sup tahu dan sayur toge rumah sakit yang super tawar. Ditambah ia sudah dingin oleh AC kamar rumah sakit.
Pukul setengah sebelas pun tiba, saya sudah mengantuk berat, tapi tiba-tiba tersentak oleh seorang perawat yang memasuki ruangan, "anak Khalidah... infus dulu, ya."
Ini adalah momen yang sangat ngeselin buat saya. Nyawa saya masih belum penuh, tiba-tiba suster menusukkan jarum infus yang panjang dan besar pol itu di pergelangan tangan kanan saya. Langsung saya menarik tangan karena kaget dan darah muncrat. Perlahan saya menangis mengaduh, sakit dan kesal. Lebih banyak kesalnya sih sebenarnya. Saya belum siap dan sadar sepenuhnya langsung ditusuk, gimana saya nggak ngamuk?!
Tapi, karena lemas, marah saya berubah jadi tangis dalam diam. Meski beberapa saat setelahnya saya sesenggukan karena bekas suntikannya bengkak dan berdarah. Bunda saya yang sedang rebahan juga ikut panik. Saya melirik tajam suster muda yang memasang wajah tidak enak itu selagi bunda saya menenangkan saya yang menangis.
Sumpah, itu ngeselin banget. Saya dendam ke susternya yang asal tusuk.
Sambil baca, bisa sambil diputar lagu ini, ya:
"Mohon maaf ya ibu, kalau gitu kami infus besok pagi saja, ya. Biar kakaknya istirahat dulu." Akhirnya sang suster beringsut keluar ruangan. Saya emosi banget sampai hanya bisa menangis dan meremas selimut rumah sakit yang semakin dingin. Rasanya pengen saya jambak susternya waktu itu. Malam itu saya lewati dengan dumel sambil menatap jarum yang digantung di tiang infusan, di samping kanan saya. Saya ukur panjang jarumnya sepanjang jari tengah saya. Pantesan sakit banget ya Allah.
Akhirnya pagi harinya, pukul 5 lebih tepatnya, seorang perawat senior menusukkan jarumnya pada saya di pergelangan tangan kiri, dan.... SAKIT. Meski tidak sesakit sebelumnya, dan saya lebih ikhlas ya. Biasanya saya kuat dan bisa tidak bereaksi kalau disuntik, tapi saat memasukkan jarum infus saya sedikit meringis ada ada beberapa tetes airmata keluar. Setelahnya, tangan yang diinfus agak sakit beberapa hari dan hanya saya letakkan di samping kepala saya tanpa pindah posisi sama sekali kecuali saat on the way ke kamar mandi dan kamar operasi.
Saya harus puasa 8 jam sebelum operasi, jadi operasi diundur ke jam 11. Dengan wajah pucat menyedihkan itu saya didorong dengan kursi roda ke ruang operasi, sepanjang jalan saya hanya bisa berzikir pasrah sekaligus kepo ingin melihat rumah sakit, saya juga nggak sabar untuk cerita ke teman-teman saya di pondok tentang ini. Ada sedikit rasa gugup dan seru gitu, hehe.
Dan.... operasi berjalan cukup seru. Sayangnya karena pengaruh obat bius (saya bius lokal, bukan total, jadi saya bisa melihat perut saya dibelek dan itu seru banget woy) yang membuat saya lemas parah membuat saya tidak bisa menikmati proses operasinya.
Setelah masuk ruang operasi, obat bius mulai ditusukkan ke tulang punggung saya bagian bawah dan rasanya cukup sakit, tapi karena harus tahan dan badan saya tidak boleh bergerak karena jarumnya yang tipis, saya menahan itu. Beberapa kali perut dan tangan saya dicubit untuk memastikan apakah tubuh bagian bawah saya sudah mati rasa sehingga operasi bisa dimulai.
dr. Gunawan dan beberapa rekannya memastikan saya chill, "siap ya dek?" katanya. Saya mengangguk lemas. Mata saya buram, karena tidak boleh pake kacamata dan minus 5 ini membuat saya terus memicingkan mata kalau ada dokter atau suster yang mengajak saya ngobrol.
"Sebelum kita mulai, mari kita berdo'a agar operasi ini berjalan lancar." Dih, udah kayak mau belajar aja. Saya yang sudah terbaring di meja operasi memandang seluruh suster, asisten dokter, dokter anestesi, dan dr. Gunawan menundukkan kepala khusyuk berdo'a. "Berdo'a selesai."
Di situlah adegan-adegan yang biasanya di drama korea itu saya saksikan di dunia nyata! Depan mata saya sendiri. dr. Gunawan meminta pisau bedah, memiringkan badan dan memicingkan mata lalu membelek perut kanan bawah saya. Woohh!! Rasanya...
Nggak ada rasanya, kan dibius.
"Fever dream high in the quiet of the night
You know that I caught it (oh yeah, you're right, I want it)
Bad, bad boy, shiny toy with a price
You know that I bought it (oh yeah, you're right, I want it)"
Lho? Saya tersentak dengan suara musik yang terdengar dari speaker. "Ini.. disetel lagu?" batin saya tak percaya.
"And it's new, the shape of your body
It's blue, the feeling i've got
And it's oo-woah
it's cruel summer"
"I love you ain't that the worst thing you ever heard?! HE LOOKS UP GRINNIN LIKE A DEVIL.." dokter anestesi di sebelah saya bernyanyi Cruel Summer-nya Taylor Swift dengan semangat sembari mengecek tekanan darah saya.
dr. Gunawan menyambut lirik, "it's cool, that's what i'm tell no rules--eh benangnya woy benang, ini tinggal saya potong." Suasana operasi sangat chill and fun, sangat diluar prediksi saya. Tapi karena efek bius, saya jadi lemas banget, padahal dokter anestesinya aja ngajak saya sing along.
"Kakaknya suka lagu apa? Pop? Barat? Korea?" tanya dokter anestesi, "saya suntik lagi ya di infusannya, permisi.." seingat saya, saya akan disuntik lewat infusan setiap 3-5 menit. Sensasinya seperti ada yang mengalir di dalam pergelangan tangan saya menuju siku. Ada efek semeriwing-semeriwing gitu deh.
"Kakaknya umur berapa ini? Kuliah?" dr. Gunawan basa basi.
"Saya masih mondok..." jawab saya lemah. Ruangan operasi juga dingin pol, jadi badan yang tidak terkena efek bius rasanya mati membeku.
"Oh.. mondok, pondok apa?" Selanjutnya banyak sekali pertanyaan basa-basi sejenis yang hanya bisa dijawab sekenanya dengan suara lemah, "kakaknya jago bahasa arab berarti, ya.. suka aktor mana? Jepang? Barat? Indonesia?"
"Eh, kakak 16 tahun, ya ini, masih muda banget dong." Ditengah dijor-jorin oleh pertanyaan dr. Gunawan, ada asisten beliau, seorang lelaki, dokter magang yang masih muda, ia tersenyum riang melihat keterangan umur saya di pergelangan tangan kanan saya. "Cuma beda 5 tahun dong sama saya, bisa lah kak kita.." menggoda sambil meledek saya yang bahkan ngeliat mukanya aja nggak bisa.
"Yeu, lu sanaan! Biasanya juga kalau operasi lu makan di luar, di pojok. Giliran gini aja, lu semangat bantuin." Sergah dokter anestesi. "Mohon maaf ya kak, dia emang nggak tahu diri. Norak liat pasien cewek."
"Haha, soalnya biasanya kita operasi nenek-nenek atau bayi, jarang dapet pasien muda begini. Jadinya dia semangat." Ujar dr. Gunawan sambil tertawa kecil. Ketawa old money kalau kata saya, meskipun baru berumur 35 tahunan waktu itu, beliau adalah dokter spesialis bedah yang bisa mengoperasi 4-8 pasien dalam sehari. Saya adalah pasien operasi kedua beliau hari ini.
Kebayang kan duitnya sebanyak apa? Operasi usus buntu ini memakan biaya sekitar 4-6/8 juta, belum dengan biaya administrasi dan rawat inap. Kalau sekiranya ada 4 operasi hari itu, dr. Gunawan bisa dapat 16-20 juta-an.
Dokter muda itu terus menerus sok-sok-an cek tekanan darah dan suhu badan saya di tangan yang bebas dari infus. "Kakak ada yang nggak nyaman bilang ke dokter aja, ya.. butuh selimut? Dingin nggak sih, kak.." sok akrab. Tapi saya bawa santai aja dengan tawa lemas.
"Ha.. ha.. ha.."
"Nih hadiah buat kakak! Oleh-oleh, boleh disimpan, boleh dibuang." Dokter muda yang menjadi asisten dr. Gunawan itu meletakkan sebuah plastik zip lock di atas pundak kanan saya, isinya adalah usus buntu saya. Serius! Usus buntu saya sendiri yang sudah dibersihkan, saat saya lihat lagi ukurannya panjang juga, sekitar 5-7 cm, warnanya abu keruh. Hanya saya simpan 3 hari karena setelahnya bau busuknya sudah menembus bungkusnya.
"Beneran dok?" tanya saya bingung. Dapat hadiah organ sendiri adalah pengalaman kocak buat saya.
"Iya.." jawab dokter muda sambil memijit lengan kanan saya. "Dokter pijit ya kak, biar kakaknya nyaman."
"Lu modus aja lu! Si kakak nggak bakal mau sama muka spek ondel-ondel kayak lu!" Omel dokter anestesi setelah mengecek tekanan darah saya. "Ganggu si kakak aja si! Udah sana beresin ruangan luar aja!"
"Kenapa si? Gue mau memberikan kenyamanan doang ke pasien elah!" Pertengkaran kecil itu diiringi lagu-lagu Taylor Swift dan dr. Gunawan yang hanya menertawai rekannya.
"Gini lah kak kalau operasi. Kami buat situasinya sesantai mungkin biar kakaknya juga chill," ujar dr. Gunawan.
"Kakak mau lihat perut kakak?" Dokter muda menawari tawaran yang saya ingin-inginkan daritadi, "nanti dokter geser lampu sedikit, trus pegangin kaca buat kakak biar kakak bisa lihat. Kalau kakak berani."
Saya menyambut tawarannya dengan senyum antusias dan anggukan kecil. Meski jelas yang saya lihat hanya buram, tapi saya senang karena bisa samar-samar melihat pisau bedah di tangan dr. Gunawan, benang jahit yang sedang ditusuk ke usus saya, dan genangan darah yang menurut saya itu keren banget!
Pengalaman yang sangat tidak terlupakan dan tidak akan pernah bosan saya bahas.
Berlanjut di bagian ketiga ya...


Komentar
Posting Komentar