BACA BUKU INI ATAU KALIAN AKAN MENYESAL

 

Khataman buku Islam and Secularim bersama Dr. Nirwan Syafrin Manurung pada Februari 2025, fyi saya ada di deretan ketiga dari kiri๐Ÿ˜‹

(Harus banget ya judul hook-nya gitu...? ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜ƒ, sedang melatih dropping out semua isi kepala untuk lebih mudah evaluasi kejelekan tulisan)

Siapa bilang belajar agama islam boring dan hanya akan membuat kita berkutat pada kitab kuning yang gundul itu? Atau hanya akan membuat kita harus mantengin ceramah berbahasa arab dan disertai penyebutan dalil-dalil yang biasanya di-cap membosakan? Kalau di antara pembaca sekalian masih ada yang merasa begini, berarti "main"-nya kurang jauh. Masih judging dari opini umum yang mana kita sendiri kerap kurang update dengan literatur untuk memelajari agama kita. 

Memang benar, kitab kuning dan gundul adalah langkah utama memelajari agama islam ini. Toh, memang sumber pokoknya di sana. Akan tetapi, jika kita hanya melihat dari satu sudut pandang, hingga membuat kita enggan belajar agama kita sendiri, itu yang salah. Itu yang kurang tepat.

Semua cap membosankan dan jumud itu akan hilang jika kita memperluas literatur kita dalam memelajari agama islam dengan buku Islam and Secularim karya Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Prof. Al-Attas) ini. Berikut bukunya:

sangat intellectual vibes, kan?

Ini buka resensi buku, hanya sebuah refleksi kecil tentang pengalaman saya memelajari buku ini. Bagaimana tiap lembar dengan penjelasan dari buku dan Dr. Nirwan menggugah jiwa saya dan senantiasa memberikan pesan dan makna baru. Bahkan, saat membaca ulang catatan setelah tamat membaca buku ini, selalu ada ilmu baru yang didapat. 

Buat saya, ini semacam wajah baru yang amat menyegarkan, karena kita belajar islam dengan bahasa inggris di buku ini. Ya, bahasa ingrislah ya, meskipun ada edisi bahasa melayunya, kurang keren lah kalau bukan pakai bahasa inggris. Meski dari covernya buku ini nampak terlalu polos, tapi buat saya itu menambah kesan intelektual yang kuat. Kayaknya, kalau buku itu manusia, ia adalah tipikal yang kharismatik dan membuat orang-orang segan mendekati, hanya orang tertentu yang bisa bergaul dengannya. 

Memang benar adanya, tidak semua orang bisa memahami buku ini dengan baik. Membaca sih gampang, memahami dengan pemahaman yang benar itu yang sulit. Oleh karenanya, saya di pondok membaca buku ini dengan bimbingan murid dari Prof. Al-Attas langsung, yakni Dr. Nirwan Syafrin. Sebuah kehormatan besar bagi saya, berinteraksi dengan santai tapi tetap penuh dengan ilmu bersama orang hebat seperti beliau. Buat saya adalah masa-masa yang penuh degup jantung exited dan takut kalau pertanyaan saya terlalu receh. Tapi, itu semua berjalan dengan baik. Beliau merespon segala pertanyaan dengan antusias, tidak membedakan dan mendiskriminasi santri berdasarkan pertanyaan yang diberikan. 

Tentang Islam and Secularism

Jadi, tantangan terbesar umat muslim, pun juga manusia di seluruh jagat raya sekarang adalah; tantangan pemikiran sekularisme. Apa itu? Sekularisme adalah paham yang membedakan urusan dunia dan agama, ia menganggap keduanya adalah hal yang tidak bisa disatukan. Hal tersebut adalah kefatalan yang luar biasa karena dampaknya terhadap neraca berpikir dan sikap manusia akan membentuk kepribadian sekuler. Kalau manusia kacau dan bermasalah, maka bumi dan alam semesta ini bisa kacau dibuatnya, sejarah hanya berisi cerita kelam umat manusia, alam dan pegunungan menjadi saksi bisu keserakahan dan kebodohan manusia. Itu semua karena manusianya "sakit pemikiran". 

Dampak dari sekularisme ini dijelaskan secara sangat padat di buku Islam and Secularism ini. Jadi, ratusan halaman itu hanya menjelaskan bagaimana sekularisasi bisa terjadi, apa itu sekuler, apa dampaknya, kenapa berbahaya dan yang terjadi dengan dunia islam dalam menghadapinya. Referensinya tentu daging banget. Kalau kita membaca biografi Prof Al-Attas ini, beliau adalah sosok yang tidak main-main dengan statement-nya terutama di buku ini, beliau adalah intelektual yang memikirkan kunci kesejahteraan umat muslim sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kenapa? Karena buku ini ditulis paruh akhir 1900-an, tapi hebatnya, masih relevan sampai sekarang. 

Padahal, sejatinya agama dan urusan dunia itu sejalan. Kita sebagai muslim merujuk syariat islam dalam menikah, bersosialisasi sesama manusia dan hewan, bukankah itu adalah menjalankan urusan dunia dengan landasan agama? Apakah itu salah dan berdosa? Tidak. Justru karena kita muslim, kita menyelaraskan segalanya dengan agama kita. Selalu ada nilai dan identitas kita dalam melakukan sesuatu. 

Apakah itu mengekang dan membebani? Ya tidak. Karena muslim yang paham agamanya dengan baik akan menjalaninya sepenuh hati. Justru yang dipertanyakan adalah orang-orang yang menganut paham sekuler itu, dia agamanya apa? Dia ikut ajaran siapa? Toh, identitas dan hidupnya jadi nggak jelas. Sok-sok-an merdeka dari kekangan agama dengan menjalani dunia semaunya hanya akan membawa kita pada kehancuran atas nafsu belaka. Inginkah kita sama dengan hewan? Tentu tidak.

Itu adalah salah satu ajaran yang saya dapat dari buku ini yang dibahasakan dengan bahasa saya tentunya. Hal lainnya bisa pembaca temukan dengan memelajarinya dengan orang dan guru yang tepat, cobalah merasakan pengalaman intelektual yang tidak hanya memuaskan logika, tapi juga meningkatkan iman dan taqwa, selamat belajar!



Komentar

Postingan Populer