Dear Bahasa Arab...

 

ilustrasi orang bingung belajar bahasa arab, seperti saya juga, haha. Sumber: freepik.com

We listen we don't judge: saya 6 tahun mondok dan belajar bahasa arab tapi masih kesusahan baca kitab gundul (baca = mengharakati, mengi'rab dan menerjemahkan). 

Asli. Siapapun boleh menghujat saya deh kalau masalah ini. Karena faktor ini juga, saat mengenyam gelar 'alumni' di wisuda saya bulan Juni 2025 lalu, saya tidak begitu pede, karena kemampuan bahasa arab saya yang nanggung ini (jujur, takut banget kalau ditanya sama kerabat/keluarga: "kak, ini harakat sama artinya apa?", toh saya kan bukan kamus). 

Dibilang jelek juga nggak, toh kalau harakatin kalimat di kitab saya paling pede dan sangat lancar (kan harakatin doang, haha), tapi kalau harus menentukan mana badal, mubdal minhu, 'athaf dan ma'thuf apalagi tahsrif, saya sangat kewalahan. Tapi bisa lah dikit-dikit elah, setidaknya saya tidak sememalukan itu. 

Bisa dibilang kualitas bahasa arab saya sangat-teramat-cukup-sekali, tidak masuk kategori bisa diadu (selain harakatin tentunya, pokoknya kalau masalah harakatin saya pede dan terabas terus meskipun koreksinya juga banyak). Tapi bare minimum kok..

Iya kan para pembaca sekalian? (meminta validasi dengan takut-takut)

Saya suka bahasa arab. Suka banget. Cinta malah (agak gimana ya kalau menggunakan frasa ini, karena kemampuan saya dalam berbahasa arab tidak tercermin sebagai orang yang cinta bahasa arab) tapi buat saya kalau menyampaikan sesuatu dengan bahasa arab tuh kharismanya nambah gitu. Dulu, pernah ada seminar bersama syekh dari Al-Azhar di pondok full bahasa arab, sepanjang seminar sampai selesai saya menangis karena impressive dengan pesona native speaker bahasa arab).Terutama semenjak masuk pondok. 

Menyukai satu hal tidak menjamin kita akan selalu berbakat di sana ya. Contohnya ya hubungan saya dan bahasa arab ini. Kalau bahasa arab adalah manusia, kayaknya hubungan kita ada di tahap friend-zone, karena saya menganggapnya spesial, tapi dia sulit membuka hati dengan saya, haha.

Saya yang dulu fokus biologi dan fisika di sekolah hanya menganggap bahasa arab hanya memerlukan hafalan mufradat segambreng. Karena di sekolah saya dulu diajarinnya begitu. Ada juga beberapa tashrif sederhana yang soal latihannya selalu saya selesaikan dulu setiap malam saat belajar mandiri di rumah, karena itu termasuk yang mudah. Sedangkan, saya harus save waktu lebih banyak untuk biologi dan fisika karena itu termasuk mapel yang soal latihannya tersusah setelah matematika.

Tapi, bahasa arab berubah menjadi pelajaran yang lebih luas dan menggugah (dan sangat susah), tak kalah menarik dengan biologi dan fisika yang saya tekuni selama sekolah dasar. Bukan berarti saya underestimate bahasa arab ya, hanya saja saya menerima materi yang hanya berisi mufradat, bukan modul belajar bahasa arab dengan referensi kitab. Jadi, saya pikir bahasa arab hanya menghafal mufradat dan bisa menggunakannya dalam keseharian saja. Ditambah saya kurang sreg dengan pelajaran yang hanya hafalan dan melengkapi kalimat seperti bahasa arab yang diajarkan waktu itu, tidak seperti biologi dan fisika yang banyak praktek dan materinya yang kompleks. Buat saya, bahasa arab tidak terlalu mengasah otak seperti biologi dan fisika.

Sok tahu emang Oi SD tentang mana yang mengasah otak mana yang tidak.

Bahasa Arab Yang Lebih Keren Dari Yang Kita Kira

Dr. Muhammad Ardiansyah, pengajar bahasa arab di tahun pertama saya mondok membuktikan bahwa bahasa arab bukan hanya sekedar hafalan mufradat segambreng. Nyatanya, kita butuh memelajari 7 ilmu  (atau lebih) untuk bisa menjadi sosok yang disebut menguasai bahasa arab, yakni: nahwu, sharaf, balaghah, lughah, arudh, bayan, qawafi.

Berikut penjelasan singkat untuk macam ilmunya:

  1. Nahwu – ilmu yang mempelajari aturan susunan kata dalam kalimat bahasa Arab.

  2. Sharaf – ilmu yang membahas perubahan bentuk kata dan maknanya.

  3. Balaghah – ilmu yang mengajarkan cara menyampaikan makna dengan indah dan tepat.

  4. Lughah – ilmu tentang kosa kata dan makna kata dalam bahasa Arab.

  5. Arudh – ilmu yang mempelajari pola dan irama dalam syair Arab.

  6. Bayan – cabang balaghah yang menjelaskan cara mengungkapkan makna dengan berbagai gaya bahasa.

  7. Qawafi – ilmu yang membahas rima dan akhiran dalam bait-bait puisi Arab.

Itu adalah materi perkenalan bahasa arab yang beliau sampaikan pada hari selasa, 9 Juli 2019, hari kedua saya di pondok, setiap jam 6 pagi saya dan teman-teman selalu belajar bahasa arab bersama beliau di mushalla pondok sambil melirik beberapa kakak kelas lain yang latihan beladiri di lapangan depan mushalla. Catatannya di buku tulis waktu itu seakan ada di depan mata saya ketika saya memikirkan bahasa arab saat ini.

Melihat peta pikiran yang menunjukkan cabang ilmu itu membuat saya sangat-sangat terkesan. Sama antusiasnya seperti melihat peta pikiran materi ekosistem dan sistem pencernaan di biologi atau macam-macam rangkaian listrik dan alirannya di fisika. Bahasa arab ternyata bisa dibuat menjadi peta pikiran seperti ini. Inilah yang saya namakan efek nagih belajar, kalau sudah dipetakan dan peta pikiran, buat saya suatu materi jadi lebih realistis dan menarik untuk dipelajari. Yang sulit dan rumit seperti fisika jadi mudah, yang kesannya hanya hafalan kosakata di buku seperti bahasa terasa lebih ada "isinya", ada tata bahasa menantang yang bisa dipelajari. Kalau itu semua berhasil saya kuasai dan bisa jelaskan dengan baik, maka itu adalah hal yang amat memuaskan. 

Karena, menjelaskan sesuatu yang sulit menjadi sederhana memiliki pesona tersendiri.

Apakah saya memelajari ketujuh ilmu itu selama 6 tahun mondok? Tidak. Saya hanya belajar 3 ilmu: nahwu, sharaf, balaghah. Paling lama saya belajar ilmu nahwu, karena itu adalah dasar utamanya. 

Kok hanya segitu? 

Jangankan sharaf dan balaghah ya, belajar nahwu aja saya pusingnya minta ampun!! No tipu-tipu deh ini. Padahal kita hanya menentukan harakat akhir kata itu fathah, kasrah, atau dhammah. Hanya itu, tapi pusingnya masih berlangsung sampai detik saya mengetik tulisan ini. 

Yang paling menantang, mengelus dada, dan membuat saya sering menangis dalam belajar nahwu itu ketika sudah sampai di fase baca kitab gundul. Demi apapun, saya kalau setelah dijelaskan materi dan dijabarkan contoh sih biasanya paham ya, tapi pas sudah buka kitab gundul, yang awalnya saya pikir harakatnya dhammah, ternyata fathah, yang saya kira dia sukun, ternyata kasrah, dan banyak hal lainnya. 

Belum lagi kita juga harus menjelaskan kenapa mufradat yang kita baca itu harakatnya dhammah/fathah/kasrah/sukun, apakah karena ia menjadi subjek? predikat? objek? pelaku? Atau dalam bahasa arab disebutnya i'rab. Apakah kata tersebut adalah fa'il, maf'ul, mubtada', khabar, kenapa kata tersebut menjadi fa'il, bukan maf'ul? Apa tanda harakatnya fa'il? Belum lagi kalau kita harus menerjemahkan kata yang kita baca. Ada juga namanya harakat tersembunyi, tidak semua marfu'/dhammah itu dilambangkan dengan harakat dhammah (duh, mengingat masa ngangong-ngangong itu saya jadi mau nangis lagi karena merasa cemen banget). Pokoknya, saya paling mati kutu di i'rab kalimat deh. Rasanya saya mau hilang bersama kitab-kitabnya kalau sudah hening setelah saya disuruh meng-i'rab-kan satu kalimat oleh guru. 

Tiada Kata Menyerah (biar ada motivasinya dikit, nggak cuma curhat mulu)

Saya tetap petrus jakandor, pepet terus jangan kendor dengan bahasa arab sampai hari ini. Tetap review catatan pelajaran bahasa arab selama 6 tahun, buka-buka kitab yang kertasnya banyak agak lecek karena saya suka nangis kalau sudah frustrasi nggak paham-paham. Di tengah segala kesulitan itu, buat saya bahasa arab tetap sesuatu yang layak dipelajari mati-matian, karena sebagai muslim, apalagi seorang santri yang notabenenya pembelajar agama islam, bisa berbahasa arab dasar dan senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan untuknya adalah usaha yang appreciateable, mulia, dan berpahala sekaligus bernilai juang bagi diri kita maupun Allah SWT sebagai saksi nyata niat dalam hati kita.

Kalau dalam urusan pekerjaan, mau kita bisa mendapatkan gaji banyak atau tidak dengan kemampuan bahasa arab ini, keikhlasan dan istiqamah memelajarinya akan membuat ilmu bermanfaat dunia-akhirat, bahkan dengan jalan yang tidak kita sangka. Kita tidak pernah diajarkan untuk belajar demi bekerja untuk gaji tinggi dalam islam, tapi untuk membela dan menjaga agama ini sampai akhir hayat nanti. 

Semoga, siapapun yang membaca ini dan merasakan apa yang saya rasakan, semua kesulitan dan hambatannya menjadi pahala yang menghapus dosa dalam hati, menjadi jalan meniti kesabaran dan ganjaran yang telah Allah SWT janjikan bagi para penuntut ilmu di hari akhir nanti, aamiin ya rabbal 'alamin... Tetap semangat belajar semuanya! Kalau bagi pembaca sekalian, mata pelajaran apa nih yang kira-kira nasibnya sama seperti saya dengan bahasa arab? Bisa share di comment section, ya!

Komentar

Postingan Populer