Renungan Setelah Lihat Rapor Kelulusan Pondok

 Of course i can't show my rapor here, ya. Tapi, beberapa nilai akan di-spill (ya buat buka-bukaan aja, karena saya lagi kepengen aja)

Setelah sekian purnama lulus dari pondok bulan Juni 2025, Februari 2026 ini saya baru berkesempatan ke pondok lagi sejenak saja untuk mengambil ijazah dan rapor nilai kelulusan. 

Saya merasa.. biasa aja si. Kan ambil ijazah aja. Tapi, yang jelas ada lah agak sedikit penasaran 'berapa sih rata-rata nilai saya yang membuat seorang Oi bisa jadi alumni?' Padahal pas ujian kelulusan saya ada mapel yang remed. Bahkan remed 2x. Waktu itu saya sudah melapangkan dada seandainya saya benar-benar harus mengulang satu tahun, tapi alhamdulillahnya nggak, hehe.  

Di momen itu juga merasa saya "agak" bego. Begitulah, banyak momen hidup terutama ketika berinteraksi dengan pelajaran yang membuat kita merasa "gue nih bego abis gak ada lawan" tapi ada juga momen kita accidentally dapet nilai bagus atau menjawab dengan benar, langsung merasa "oh my god, it's time for me to shine, haha".

Tentang Raporku

For your infomation, nilai rapor saya cukup bagus tapi juga jelek di saat yang bersamaan. 

Gimana ya jelasinnya? Saya juga bingung. 

"Cukup bagus" karena rata-rata yang saya dapat turun beberapa poin dari belasan rapor saya sebelumnya (82-83), yakni 81. Cukup menyedihkan karena target rata-rata rapor saya saat lulus adalah 90. Makanya sekarang saya sedang dalam fase menerima keterbatasan diri; bahwa saya bukan orang yang dikaruniakan dapat rata-rata 90 dari TK hingga lulus SMA. 

Tapi sedih banget sih. Saya tetap nggak bisa bohong. Meski nggak jelek. Tapi, saya memerhatikan rekap jejak peningkatan-penurunan nilai saya.. segitu-segitu aja. 

Tapi hidup harus tetap berjalan. So, mari raih rata-rata segitu saat kuliah nanti, hehe. Bismillah. 

Satu hal lagi.

Untuk pertama kalinya selama 6 tahun, saya mendapat predikat "kurang" di rapor. Itu membuat agak shock, meski itu terjadi di mapel yang saya sudah wajarkan. Ya.. bukan mapel yang begitu saya minati, dan sekeras apapun saya mencoba selama 2 tahun terakhir pelajaran itu ada dan diajarkan, saya tetap tidak bisa mendapatkan nilai yang "cukup". Meski sudah belajar keras, bertanya dan mencatat selengkap mungkin. Hasilnya ya.. kurang

Jangankan "kurang", predikat "cukup" saja saya hampir tidak pernah selama 6 tahun mondok. Karena setidak suka apapun saya terhadap suatu mapel, saya tetap mengusahakan yang terbaik; setidaknya untuk mencapai goals rata-rata 90 yang tidak kesampaian itu. 

Se-jelek-jeleknya nilai, karena saya berusaha keras, nggak mungkin dapat yang "kurang" dong. Ya tapi ini takdir berkata lain. Mau gimana lagi.

Jadi, bisa dibilang ini adalah renungan yang penuh dengan nuansa kegagalan tapi hasil yang didapatkan nggak bisa dibilang gagal banget. 

Begitulah. Saya jadi ribet gini. 

Tetap bersyukur pada nilai lain yang dapat predikat "istimewa" dan "sangat baik" dong ya. Sebagai sosok yang memiliki temperamen melankolis, hal ini harus terus saya ingatkan pada diri; bahwa dunia tidak berakhir hanya karena salah satu mapel kamu "kurang".

Saya kira saya akan masuk kategori "lulus bersyarat" karena nilai mapel "kurang" itu. Alhamdulillahnya di ijazah hanya ditulis "lulus" (apakah kalau rata-rata nilai 90 jadinya "sangat lulus"? Kali aja gitu kan..) 

Mau tahu apa aja mapel (sebenernya matkul ya, karena 2 tahun terakhir saya di pondok itu masuknya level pre-university, jadi kita bentuknya kuliah cuma mondok dan tidak megang ponsel serta pembatasan penggunaan laptop aja) yang diujikan (lisan dan tulisan)?

Nih:

  • Adab ilmu (of course adab number one ya soalnya pondok saya pondok pesantren berbasis adab)
  • Adab ibadah
  • Adab diri (gimana penilaian ini? Ya dari keseharian kita; cara wudhu, attitude sehari-hari yang gak bisa dibohongin deh, soalnya dievaluasi dari keseharian bukan ujian formal di kelas, dan saya lumayan loh di sini, haha)
  • Adab kepada lingkungan
  • Filsafat Islam (pakai buku saku filsafat Islam and i'm still stuck, ini lebih ribet daripada Filsafat Barat)
  • Filsafat Barat (please, i'm done with philosophy, but it's addicting)
  • Akhlaq (pakai kitab ya, bukan materi doang)
  • Bahasa Arab
  • Bahasa Inggris (jangan tanya saya grammar, saya cuma modal pede nulis makalah berbahasa inggris berbekal pembimbing yang seorang doktor, hehe)
  • Fiqh (tentang bab Air dan berwudhu yang detail abis, saya nggak bisa lupakan ini)
  • Islamic Worldview (of course setelah adab, pemikiran dan pandangan Islam is top tier di pondok saya, harga mati deh ini, kalau kamu jelek di sini kemusliman kamu patut dipertanyakan sih, soalnya ini diajarin intensif selama 4 tahun terakhir di pondok)
  • Mushtalah Hadist (saya suka banget mapel ini, tapi prosesor otak saya tidak mendukung. Tapi, ternyata di rapot hasilnya "sangat baik", saya jadi mau nangis soalnya pas kelas selalu gagap atau salah dan ragu tiap jawab pertanyaan dari ustadz)
  • Aqidah (kitab Ummul Barahin, pokoknya kitabnya kuning dan pembahasanya lengkap dan daging banget, meski pusing (dan di matkul ini saya dapat "sangat baik" juga.. ngeliat rapornya lagi jadi mau nangis, deh))
  • Ushul Fiqh (to be honest this the most favourite lecture! Saya bahkan kalau muthalaah bisa khatam kitab ini hanya 2 kali duduk (total kitabnya 101 halaman))
  • Tahsin & Tahfidz (sebagai alumni SD yang terkenal kurikulum tahsin-tahfidznya gacor, alhamdulillah saya gak pernah gagal "bersinar" di sini, haha)
  • Makalah  dan Metodologi Penelitian (one more thing, sebagai pesantren pemikiran, nulis ilmiah dan bekal metode penelitian is a must)
  • Syufu (ini beladiri yang diajarin di pondok)
  • Sejarah Walisongo (surprisingly nilai saya bagus banget di sini, huhu.. gak sia-sia menahan ngantuk kuliah online malam-malam sampai jam 11)
  • Sejarah Politik Islam
  • Balaghah (pokoknya ini ilmu tentang syair-syair-an dalam bahasa arab, cabang ilmunya gitu. Jadi bahasa arab itu gak cuma hafalin mufradat yee)
  • Sejarah Peradaban Islam di Indonesia (i'm also done with history, can't stand this lecture and lesson anymore, please lah ya. Tapi i'm not bad lah haha)
  • Kajian Ulama Nusantara (i'm done with hal-hal berbau nusantara, tapi saya tetap nasionalis kok)
  • Tarikh Islam (ini kayak sirah nabawiyah cuma mendalam banget sampai ke shahabat-shahabat Rasul dan berkaitan juga sama sejarah penyebaran Islam di dunia)
Segitu aja. 

Banyak juga, ya. Tapi di luar ini masih banyak juga mapel yang unofficially diuji (Tafsir, Naskah Melayu, dkk), jadi cuma "nyelip" materinya di mapel yang diujiin. 

At the end of the day...

Saya sudah mencoba sebaik mungkin dan tidak ada penyesalan mendalam. Fokuslah pada kuliah dan persiapannya. Hidup tidak berhenti di sini kawan. 

Sukses selalu pembaca semua, tetap berjuang dan semangat. Kalau capek, tidur, makan atau nonton drakor ya biar tetap waras. 

Komentar

Paling Banyak Diminati