Sebelum Tak Ada Kesempatan Lagi, Lakukan Ini!

 

Dokumentasi pribadi nonton di bioskop bareng sepupu attaqwa gang

Lahir di keluarga besar aliran Betawi yang menuntut setiap (minimal 1x) tahun silaturrahim ke rumah seluruh kerabat dan sesepuh yang masih hidup (dari pihak bunda sih. Keluarga besar dari pihak ayah nggak sebanyak bunda) adalah hal yang amat melelahkan dan menjengkelkan buat saya. Tapi, bukan berarti saya benci dan ingin menutup diri. 

Hanya saja, saya frustasi kenapa rasanya sulit sekali untuk reach out atau menggapai atau setidaknya PDKT sedikit dengan sepupu-sepupu dekat ataupun jauh? Ditambah, saya bukan anak yang supel dan lihai mencari topik obrolan yang asik dan menarik untuk diajak interaksi. Jadi, kalau lihat orang yang bisa santai bersosial dengan sepupu bahkan dengan perbedaan umur yang jauh, saya jadi sangat iri. 

Di tengah perasaan seperti itu, hal yang amat saya usahakan dan hargai adalah bagaimana interaksi dan waktu yang disediakan dalam kumpul keluarga ini dihabiskan untuk menjalin silaturrahim pada sepupu. Itu adalah modal/aset pahala di akhirat. Tidak dekat ya tak apa, yang jelas kita tidak berniat untuk memutus tali silaturrahim. Itu semua jika diusahakan dengan maksimal, setidak sukanya kita pada acara kumpul keluarga besar, tidak akan semenjengkelkan dan seberat itu di hati.

Peran Sepupu Dekat Untuk Anak Gagu Dalam Sosialisasi Seperti Saya

Sebenarnya, dinamika dalam kumpul keluarga besar adalah hal yang ada di luar kendali. Kita tidak bisa mengatur orang. Tapi, semakin besar saya menyadari bahwa ada "benang merah" atau hubungan yang memang sudha ditakdirkan untuk tidak terjalin sekeras apapun kita berusaha akrab ke sepupu, atau sebaliknya; kita tidak seberusaha itu untuk akrab, tapi kehidupan membawa kita sering berinteraksi hingga akhirnya saling membutuhkan satu sama lain. 

Jadi, ketimbang merasa jengkel terus selama kumpul keluarga yang hanya satu tahun sekali (tapi bisa 7 hari nonstrop keliling rumah kerabat ke kerabat lain ya ampuunn), saya mensyukuri dengan teramat dengan apa yang saya miliki di sisi:

Ya sepupu-sepupu saya ini. 

Kalau ditanya apa yang saya nikmati selain makanan yang melimpah di sana, saya akan jawab; karena ada sepupu "andalan" di sana. Sepupu yang selalu saya tempeli setiap saya bingung dan planga-plongo di tengah keramaian. 

Seperti foto yang ada di atas, itu adalah sepupu-sepupu saya (saya yang kedua dari kiri) yang alhamdulillah masih Allah SWT takdirkan untuk berada di sisi saya dan menjadi support system satu sama lain dengan kepribadian yang berbeda-beda. Sebenarnya masih ada yang lain, tapi yang ada di foto adalah yang se-line dengan saya; kelahiran 2006-2007; yang umurnya tidak terlalu jauh, kami berempat juga mondok di pondok yang sama. 

Sebagian dari mereka ada yang memang sudah dekat sejak masih berpopok, tapi ada juga yang baru bertemu di paruh akhir SD dan menjadi lebih cair suasananya di pondok. Dulu, mereka terasa tidak se-spesial yang saya pikirkan hari ini. Bukan berarti mereka tidak berharga, tapi kehidupan membawa saya pada masalah dan badai-badai yang tak terprediksi sama sekali; di saat yang sama, sepupu-sepupu saya tersebutlah yang berada di sisi, menyemangati dan "pasang badan" seandainya saya butuh "bala bantuan". Tentu dengan sekuat tenaga mereka.

Ada kalanya mereka tahu mereka tidak memiliki upaya yang solutif dan bisa langsung membereskan masalah yang saya hadapi. Jadi, mereka kerap memilih tidak banyak berkomentar dan menunggu saya speak up untuk minta tolong. Meski dengan segala kekurangan yang ada, jika memungkinkan sejauh ini mereka tidak pernah mengkhianati saya atau mencampakkan (amit-amit ya, semoga nggak gini) serta meninggalkan saya dalam kesulitan. 

Meski kami semua memiliki orang tua yang berbeda-beda (ya meski masih kehitung kerabat tapi kan tetap beda), alhamdulillah kami tetap ditakdirkan dalam satu frekuensi yang sama: sama-sama santri, tidak pacaran, menghadapi hafalan di pondok yang sulit, kabar-kabaran sesempatnya meski hal receh dan hal lainnya. Yang mana kalau saya ingat lagi, saya merasa belum mengusahakan yang terbaik untuk mereka sesuai yang saya inginkan. 

Sekarang tiga orang dari kami sudah lulus pondok, dan mulai menapaki hidup masing-masing. Jadi, saya banyak mengingat momen ketika kami masih mudah untuk kumpul bersama di rumah salah satu dari kami. Maka, sebelum tak ada kesempatan lagi untuk berbuat baik lebih kepada mereka dengan keberadaan saya di satu lingkungan yang sama, saya ingin mengumpulkan sedikit demi sedikit memori dan pesan-pesan dari mereka untuk bekal saya menghadapi kehidupan kuliah nanti. 

Berterima kasih itu pasti. Tapi yang jelas, di masa-masa sebelum kuliah ini, sebelum kami semakin sibuk dengan hidup masing-masing, saya akan fokus untuk berbuat dan menjadi saudara/sepupu yang baik untuk mereka terutama ya. Untuk semua orang ya pasti akan selalu baik karena Islam tidak mengajarkan untuk berbuat buruk. Tapi, rasanya ketika nanti kesempatan untuk bersama-sama, masih bisa telfonan, chat-an dan berbagi reels receh sepanjang hari seperti sekarang hilang atau berkurang, saya tidak mau masa itu hanya lewat begitu saja di ingatan. 

Ini bukan hanya untuk mereka, tapi untuk semua sepupu dan saudara se-iman yang secara saya sadar dan tak sadari keberadaannya selalu membantu dan membuat saya senantiasa bersyukur; bahwa Allah SWT menakdirkan kebersamaan dan hubungan kita tetap terjalin agar senantiasa saling mengingatkan untuk mencapai ridho-Nya dan menjadi hamba yang baik. Jadi, semoga mereka semua senantiasa sehat, banyak uang, dan bahagia selalu. Jadi, kalau ada kabar baik 'kan saya bisa ditraktir minimal di restoran lah, haha.

Komentar

Paling Banyak Diminati