Meraih Puasa Paripurna dengan Menjaga Lisan

sumber: ilustrasi menjaga lisan

Betapa menyedihkannya puasa kita jika hanya diisi dengan menahan lapar dan haus. Ibarat diberi uang 100 juta, kita menghabiskannya untuk jajan dan membeli semua yang kita inginkan. Meski hal tersebut tidak haram atau berdosa besar, tapi ketidakmampuan kita untuk memaksimalkan kesempatan yang diberikan adalah indikasi bahwa kita pribadi yang biasa saja.

Sesuatu yang biasa saja tidak memiliki hal spesifik yang membuatnya spesial dan mendapat nilai lebih. Kita sebagai muslim di bulan Ramadhan, bulan yang pahala dari ibadah, dzikir dan do'a dilipatgandakan, anugerah dan kebaikan tersebar di mana-mana, masa iya ingin melewatkan momentum ini dengan usaha yang "seadanya" saja?

Oleh karenanya, demi memaksimalkan dan mengukir pahala dan ibadah yang indah nan paripurna itu, hendaknya kita hias dengan akhlak mulia yang dicerminkan dalam kegiatan sehari-hari, salah satunya yang paling krusial adalah: menjaga lisan.

Kriteria Menjaga Lisan Yang Ideal

Bukan berarti tidak boleh marah sama sekali atau hanya menhana emosi selama satu bulan penuh. Islam sudah mengatur sedemikian rupa agar ibadah dan amalan yang diajarkan tidak melewati batas manusiawi, tinggal kitanya ingin mengamalkan dengan sekuat tenaga atau tidak?

1) Berdusta/Berbohong


Berdusta/berbohong di sini juga termasuk melebih-lebihkan sesuatu di kondisi yang tidak tepat. Sebagaimana pahala, dosa yang dilakukan di bulan Ramadhan juga akan dilipatgandakan. Lisan kita adalah anggota yang kerap lepas kendali, oleh karena itu mari bersama-sama mulai hari ini pikiran setiap ucapan yang akan keluar dari lisan kita, karena ucapan yang keluar tidak akan bisa ditarik. Kalau sudah terlanjut keluar ucapan yang dusta, urusannya bukan hanya soal dosa-pahala, tapi juga status kita sebagai hamba Allah ternodai.


2) Ghibah


Definisi ghibah adalah: kita membicarakan sesuatu di belakang seseorang, dan seandainya orang itu mendengar pembicaraan kita tersebut ia akan marah dan tidak rela meskipun itu hal yang benar. Akan tetapi, bukan berarti kalau orang yang kita bicarakan jadi boleh dan sah saja kegiatan ini. Tetap kurangi hal yang banyak mudharatnya ini, ya!


3) Kata-kata Kotor & Tidak Pantas


Ada banyak kata-kata kotor/tidak pantas yang sudah kita ketahui. Sederhananya, berkatalah sesuai tempatnya, dan perhatikanlah tempat di mana kita ingin berkata sesuatu. Berda'wah atau menasehati seseorang itu bagus karena mengarahkan mereka ke jalan yang benar, tapi kalau diungkakan terang-terang di depan semua orang apakah itu hal yang tepat? Tentu nasehatnya akan sulit diterima dan malah akan menghancurkan silaturrahim yang sudah terjalin.


4) Obrolan Receh


Obrolan yang tidak bermanfaat, tidak ada nilai-nilai ilmu atau yang hanya ngalor-ngidul termasuk pada kategori tidak bermanfaat, ya. Tolak ukur kebermanfaatan ya sesuai dengan agama kita; Islam dan kebutuhan urusan kita.


5) Doomscrolling


Menjaga lisan tidak hanya lidah di mulut, tapi juga menjaga jari kita dari menghabiskan waktu di sosial media dan mengetik komentas-komentar yang gabut atau terlalu receh di frekuensi yang terlalu sering. Doomscrolling adalah pintu memasuki itu semua.


Selain itu, mengamalkan sunnah Rasul juga akan semakin menyempurnakan ibadah puasa kita. Akan tetapi, mulai dari hal kecil seperti menjaga lisan dulu adalah langkah awal yang baik. Karena sesuatu besar dimulai dari kebiasaan kecil yang baik dan rutin.




dari catatan tausiyah sebelum tarawih hari ke-3 Ramadhan di Masjid al-Muhajirin, Cluster Jasmine, Sabtu 21 Februari 2026

Komentar

Paling Banyak Diminati