Bedah Ke-relate-an Tokoh Xu Tan dengan Kita Semua
![]() |
| sumber: pinterest |
Tentang Xu Tan di Drama Ping Pong Life (荣耀乒乓 - Róngyào Pīngpāng)
Xu Tan (徐坦) adalah tokoh fiksi yang diperankan oleh Bai Jingting dari drama China berjudul 'Ping Pong Life' yang dirilis oleh iQIYI pada tahun 2021. Karakternya digambarkan sebagai sosok yang lemah secara fisik, tapi memiliki mental yang kuat dan keinginan yang gigih. Segala keterbatasan yang ia miliki dari segi fisik, finansial, relasi, hingga kesempatan yang diberikan oleh pelatih tim nasional untuknya membuatnya menjadi underdog. Sosok yang bukan berbakat alami atau born-to-be-a-star, tapi berawal dari bayang-bayang impian menjadi juara tenis meja dunia hingga 10 tahun kemudian impiannya menjadi nyata.
Saya sudah rewatch 3-4 kali drama ini, terutama episode-episode tertentu dengan momen-momen krusial dan 'ngena' bagi saya pribadi. Kedepannya akan ditemukan artikel review dan analisis kecil-kecilan terkait mindset dan kerja keras Xu Tan mewujudkan impiannya yang saya pikir amat layak di-review di sini dengan sedikit sentuhan nilai Islam. Saya juga suka dengan konsep "menyiksa tokoh utama" cerita; tokoh utama tidak di-setting luar biasa dan berbakat di luar akal, tapi dengan tempaan dan cobaan hidup berat. Karena pada nyatanya, lebih banyak underdog dari pada born-to-be-a-star di dunia ini.
Xu Tan sangat mirip dengan kita semua. Meski tidak semua dari kita ingin menjadi atlet top, tapi bagi kita semua yang ingin mengalahkan diri sendiri dan menjadi yang terbaik di bidang yang kita tekuni, ada beberapa poin yang bisa saya tampilkan di sini terkait hal tersebut dan hubungannya dengan Xu Tan karakter yang menggambarkan itu semua dengan baik:
1. Mulai dari titik ragu dengan diri sendiri
Episode 1 drama ini menunjukkan Xu Tan yang sedari kecil (umur 6-7 tahun) bermain tenis meja memutuskan untuk menyerah dan keluar dari pelatihan. Di umurnya yang baru 16 tahun (sudah bermain tenis meja 9-10 tahun), ibunya merasa ia tak ada harapan lagi di tenis meja karena tidak ada prestasi sama sekali yang ia toreh.
"Tenis meja tidak memilihmu. Dulu waktu SMP nilai IPS-mu bagus, kalau kamu belajar dengan tekun kamu akan bisa masuk PTN favorit." Titah ibunya dalam salah satu dialog. Surat pengunduran diri hendak diberikan dan pengumuman seleksi tim regional/provinsi akan diumumkan. Tapi, dengan dukungan sang ayah dan keputusan nekat untuk turun dari bus dan kembali ke pelatihan meski masih ragu dengan dirinya sendiri, ia hanya memegang teguh prinsip ini:
"Tenis meja memang tidak memilihku, tapi aku bisa memilih tenis meja."
2. Peringkat 64 dari 77 orang
Surprisingly, Xu Tan masuk ke tim regional jalur rekomendasi. Ketua pelatih di pelatihan itu, pelatih Lei Cheng memilihnya langsung dengan dua teman lainnya yang ada di peringkat 1 dan 2. Meski heran dan merasa rendah diri, dengan semangat tenis meja ia dengan 'langkah gemetaran' menjalani itu semua. Memanfaatkan kesempatan yang ada meski ketidakyakinan pada dirinya amat besar.
Apa jalannya mudah? Tidak.
Tim regional/provinsi lebih ketat, latihannya intensitas tinggi dan gemblengan mental lebih keras. Bayangkan begini; dari seluruh kota di Jawa Barat, hanya 3 orang/kota yang lolos ke tim regional, sedangkan di pelatihan kabupaten/kota, anggotanya ratusan orang. Di tim regional pun yang hanya menerima 77 peserta, Xu Tan stuck di peringkat 64, direndahkan oleh rekan timnya sendiri, dituduh lolos tim regional dengan menyogok, dan lain-lainnya.
Sebagai tokoh yang manusiawi. Hal ini menekan mentalnya begitu keras, membuat langkahnya yang sudah berat semakin terasa mustahil dijalani. Rasa semangat tetap ada, tapi ia bukan tokoh utama yang akan langsung mendapat kekuatan super karena diejek dan tiba-tiba bisa membalikkan keadaan lalu menjadi jagoan.
Segalanya ditampakkan dengan realistis di drama ini.
3. Tulus dan loyal pada teman seperjuangan
Karantinanya di tim regional bukan hanya tentang ingin lolos ke tim nasional. Xu Tan paham bahwa tidak ada kemajuan tanpa keharmonisan. Yang maju ke arena tanding memang hanya satu orang untuk pertandingan tunggal dan hanya dua orang untuk pertandingan ganda. Tapi, kekuatan dan kepercayaan diri pemain di arena untuk bisa menaklukkan lawan lahir dari hubungan harmonis dan saling mendukung sesama rekan seperjuangan tenis meja.
Di sela-sela latihan yang keras, Xu Tan yang bukan ketua kamar atau orang yang bertanggung jawab begitu peka dan kerap mengajak kumpul, bercerita dan berbagi keresahan dengan teman sekamar agar bisa merasa lebih nyaman di tim regional.
4. Menganalisis orang yang ada di level atas, meski dengan memikul banyak rasa keraguan, ketakutan, dan ketidakpastian
Hingga di episode 2 datanglah mantan anggota tim nasional yang sudah berprestasi sejak kecil, sebelumnya ia masuk tim nasional lewat jalur juara tenis meja cilik. Namanya adalah Yu Kenan.
Singkatnya, Yu Kenan adalah sosok born-to-be-a-star dengan segudang bakat. Kepribadiannya sombong dan angkuh. Meski pada kenyataannya memang ia adalah yang terbaik diantara peserta pelatihan regional lainnya, kecuali 1 orang yang mana adalah saingan Yu Kenan di tim nasional sebelumnya; Fu Jingchun.
Jadi, peserta pelatihan regional ini satu tempat pelatihan dengan tim nasional tingkat 2. Tim nasional dengan pangkat tertinggi adalah tim nasional tingkat 1 dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dan aula pelatihan yang terpisah. Fu Jingchun adalah peserta terbaik timnas 2, tapi kalau dikalkulasikan keseluruhannya, Yu Kenan masih menduduki peringkat kedua meski ia peringkat 1 diantara anggota tim regional lainnya.
Xu Tan merasa cukup masuk akal dan pantas jika orang seperti Yu Kenan bertindak sombong dan angkuh. Karena segala kesombongannya bukan bualan, melainkan kenyataan. Meski sikapnya tidak bisa dibenarkan, balasan terbaik untuk orang sepertinya adalah menapaki prestasi di atasnya. Oleh karenanya, setelah berbagai renungan, Xu Tan memutuskan untuk menjadikan Yu Kenan sebagai target yang harus ia lampaui.
Jalannya memang lebih sulit dari yang telah diperkirakan. Tapi, ketika kita menyaksikan secara langsung jatuh-bangunnya selama beberapa puluh episode ke depan, ending episode 44 yang memperlihatkan kemenangan Xu Tan melawan Yu Kenan di kejuaraan tenis meja dunia adalah pencapaian yang mengharukan.
Meski ini adalah drama fiksi, tapi latar pembuatan drama banyak mengadopsi kisah nyata dari para atlet tenis meja yang diwawancarai, dan banyak mengambil latar kisah hidup dua legenda tenis meja dunia; Ma Long (yang memiliki kepribadian seperti Xu Tan) dan Zhang Jike (yang memiliki kepribadian seperti Yu Kenan).
Apapun itu, sikap yang dicerminkan Xu Tan amat mirip dengan kita yang memilih untuk memperjuangkan passion dengan jalan yang lebih tidak mudah dari yang dibayangkan. Ada kisah menarik dari para pembaca atau titik relate lainnya yang kalian temukan? Atau mau komentar tentang drama ini? Boleh diskusi di kolom komentar, ya!
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar