Se-fruit Opiniku Tentang Konten Self-Development/Healing
Jika direnungi lebih jauh, konten self-develoment ini menjamur semenjak wabah COVID-19 tahun 2020. Meski saya tidak mencantumkan bukti ilmiah di sini, tapi pengalaman yang melibatkan panca indera saya, dan saya juga adalah alumni COVID saat kelas 1-2 SMP cukup membuat yakin akan hal tersebut. Hampir semua orang juga merasakannya.
Buat saya, kesan pertama kalimat menenangkan ala self-development atau self-healing cukup menggelikan dan tidak menyelesaikan keresahan. Memang awalnya itu membantu, tapi buat saya usaha menenangkan diri kerap digantungkan pada konten-konten semacam itu. Padahal yang terpenting dalam menghadapi badai dan gebrakan hidup adalah memperbaiki hubungan dengan diri sendiri dan Tuhan/Allah SWT.
Maka, sebenarnya tulisan ini dibuat bukan untuk menyalahkan konten atau quotesnya, melainkan evaluasi bagi kita sebagai manusia yang terkena paparan konten tersebut.
Self-Development/Self-Healing
Kadang, saya merasa menuliskan hal seperti ini terasa serbasalah. Bukan berarti saya adalah manusia paling kuat dan tidak membutuhkan motivasi. Ini semua berdasarkan pengalaman saya,
seringnya konten-konten tersebut yang beredar di media sosial, lalu tertanam ke pikiran orang-orang tanpa memiliki kerangka berpikir yang matang, serta bisa memisahkan secara objektif adalah hal yang rentan membuat seseorang jadi selalu merasa tervalidasi.
Bahwa tindakan seseorang menangis terus-menerus adalah hal yang normal dan "harus diterima", bahwa tindakannya menjadi sosok yang agak manja karena fatherless adalah hal yang "harus" diwajarkan. Dan tindakan sejenis lainnya yang mencerminkan sosok problematik buat saya cukup menggelikan dan tidak patut direspeki.
Meski saya tidak men-cap semua orang seperti ini. Hanya 1 orang yang saya temui di hidup saya bisa menyikapi itu semua dengan netral. Sisanya terlarut dalam doom-scrolling dan pada akhirnya tidak menunjukkan kemajuan sama sekali, dan hal itu berdampak pada saya sebagai sosok yang ada di sekitarnya dan terus berinteraksi mau tak mau.
Ya, mau tidak mau saya harus mengakui, saya menulis ini dengan emosi dan beragam kenangan tidak menyenangkan di kepala dan hati.
Memang Allah SWT menganugerahi kita potensi dan kekuatan yang berbeda-beda. Ada kurang-lebih. Tapi, dalam hal konten self-developmen/'self-healing, buat saya; ketika tidak ditelaah secara objektif dan diproyeksikan menjadi amalan yang tepat dalam keseharian hingga mencerminkan kepribadian yang stabil... ngeselin dan jengkel ya jujur.
"Lho? Memang kamu udah stabil?"
Kita semua dengan akal sehat dan upaya maksimal tidak mungkin meleset dalam kontrol diri terus-menerus. Lagipula, kalau orang sudah konsisten lalu tiba-tiba ia jatuh dan gagal sekali apa itu artinya ia gagal total? Tidak. Pasti ada sesuatu besar menimpanya, dan pasti itu hal yang berat sehingga orang yang biasanya konsisten jadi kacau.
Pada akhirnya, kita semua memiliki cara bertahan masing-masing. Tapi, saya peringatkan sekaligus do'akan agar kita bertahan dan berjuang dengan cara yang diridhai Allah SWT. Meski manusia diciptakan dengan keadaan lemah, tapi kita adalah makhluk yang kuat dan diciptakan dengan penciptaan sebaik-baiknya untuk menjadi hamba Allah di bumi ini.

Komentar
Posting Komentar