Bukan Motivasi, Bukan Validasi, Kita Hanya Butuh Ini!

Pelatih Lei Cheng, pelatih pribadi Xu Tan (eps. 34)

Episode paruh akhir drama china 'Ping Pong Life', tepatnya episode 29-30-an menunjukkan kehidupan Xu Tan pasca dipecat dari timnas 1. Ia dikirim ke universitas olahraga setelah dengan nekatnya mengajukan diri untuk mengganti pelatih. Pelatih Zheng adalah pelatih yang dimaksud, ialah pelatih otoriter yang sangat keras dalam menilai dan mengecam Xu Tan. Sekeras apapun Xu Tan berusaha membuktikan diri, pelatih Zheng tetap memandangnya sebagai sosok yang tidak layak untuk ikut tanding internasional mewakili timnas 1. 

2 tahun lamanya Xu Tan off sebagai atlet nasional tenis meja, ia menjadi mahasiswa pindahan semester 2 di kampus tersebut. Kehidupannya yang dari latihan fisik intensif setiap hari menjadi keseharian mahasiswa jurusan Manajemen adalah plot twist yang membuatnya semakin tidak bersemangat. Ia menjalani hari dengan lesu disertai ketidakberanian yang begitu besar untuk kembali bermain tenis meja, bahkan ketika manajer tim tenis meja universitas tahu kalau ia adalah mantan timnas. 

Saat itu, ia benar-benar berpikir untuk meninggalkan tenis meja. Merasa usahanya bertahun-tahun untuk mendapatkan posisi di timnas 1 dan mengikuti kejuaraan dunia adalah hal yang benar-benar tidak bisa digapai oleh underdog sepertinya. Kemampuannya yang terus menerus dibandingkan dengan Yu Kenan membuatnya mati kutu, kehabisan kata-kata dan energi untuk membuktikan diri. Merasa semua pelatih benar-benar tidak berpihak padanya, lalu berubah menjadi pribadi yang dingin dan menjalani hidup apa adanya. Sosoknya yang biasanya optimis, logis, kritis, dan penuh semangat berlatih terganti; karena itulah sistem dirinya bertahan melewati hidup. 

Bukan berarti semangat tenis meja itu sudah hilang sepenuhnya. Dibanding mengukur semangat-tidak-nya, ia lebih merasa semain ragu, tertekan, dan takut dengan langkah hidupnya ke depannya. Ia tahu hidup memang penuh ketidakpastian, tapi dengan semua pengalaman pahit yang ia alami di timnas membuatnya semakin bertanya-tanya pada semesta dan dirinya sendiri; 

"Apa kemampuanku memang hanya segini? Kenapa cuma segini? Apa mustahil lebih daripada ini?" 

Tapi, sebagai sosok yang reflektif dan selalu introspeksi diri, Xu Tan memilih menikmati hidup sebagai mahasiswa di kampus. Bermain basket bersama teman, makan bersama di kantin, mengerjakan tugas bersama, piknik di pinggir sungai sambil kerja kelompok, mulai berpacaran dengan manajer tim tenis yang mana ia adalah support system terbesar Xu Tan; berusaha menerima realita hidup yang tidak bisa ia kendalikan. 

"Bagaimana hidup di sini?" Suatu hari pelatih Lei (yang merekeomendasikan Xu Tan untuk masuk tim regional) mengunjunginya dan bertanya kabarnya setelah beberapa bulan tidak bermain tenis meja lagi. 

"Cukup baik. Di sini nyaman. Aku pikir.. aku mulai suka hidup sebagai mahasiswa." Jawab Xu Tan. Mereka berdua mengobrol di dekat danau. "Bersantai, tidak tertekan dengan skor latihan, lebih banyak waktu luang."

"Masih tidak mau bermain tenis meja?" Pelatih Lei sangat mengerti tekanan batin yang dialami Xu Tan, tapi di saat yang sama ia tahu bahwa muridnya ini sangat loyal, tekun, dan ulet, sehingga tidak mungkin tenis meja akan ia lepas begitu saja. 

Saat ditanya demikian, Xu Tan hanya berpikir sambil ragu-ragu; "kalau Anda yang latih sih, untuk main-main saya mau aja..." Jawab Xu Tan sambil berbinar-binar, karena ia tahu kalau ia memutuskan masuk tim tenis meja universitas, pelatih Lei akan melatihnya, sama seperti ia saat kecil dulu; hanya mereka berdua tenggelam dalam keasikan bermain tenis meja. 

Di sinilah dapat disadari, bahwa di saat kondisi paling tertekan, bukan motivasi dan validasi untuk membuat kita berani bermimpi dan berjuang lagi. Tapi, menerima dan menyadari bahwa kemampuan kita baru "segini", tapi bukan berarti "hanya segini". Hanya kita dan diri kita-lah yang menentukan keberhasilan proses menerima diri dan mengevaluasi berjuta kekurangan dalam diri yang ada. 

Turning Point Setelah Tekanan Luar Biasa Itu Akan Terjadi, Cepat atau Lambat

Titik balik Xu Tan yang mulai mengejar ketertinggalannya selama beberapa bulan tidak bermain tenis meja menorehkan prestasi luar biasa yang belum pernah ia bayangkan seumur hidup. Untuk pertamakalinya, bahkan setelah dikeluarkan dari timnas 1 yang notabenenya berisi anggota terbaik untuk mewakili negara di kancah internasional, Xu Tan mendapatkan medali emas tenis tunggal putra dalam Universiade tahun 2011 di Shenzen.

Universiade adalah kompetisi olahraga mahasiswa dan pemain profesional tingkat dunia yang melibatkan banyak universitas olahraga dan cabang olahraga di dunia. Saat final, Xu Tan berhasil mengalahkan atlet top Jepang bernama Minano Hideichi dengan teknik anti-spin yang diajarkan pelatih Lei padanya (bukan mahasiswa olahraga top). Meski tidak selevel dengan turnamen tenis meja dunia oleh ITTF (International Table Tennis Federation) yang mana juaranya akan dinobatkan sebagai juara dunia, tapi pretasi pertamanya ini benar-benar membuatnya terharu.

Dari semua rival yang kerap membuat Xu Tan tekuk lutut dan kalah, ia menemukan satu pola bermain yang selalu dimiliki lawannya; gaya kasar dan agresif seperti Yu Kenan. Di sini, pemikiran reflektif Xu Tan bermain dan mulai mengevaluasi:

  1. Permainan tenis meja putra memang mengandalkan kekuatan, kecepatan dan pukulan yang penuh dengan tenaga. Pelatih Zheng juga selalu  mengejek gaya bermain Xu Tan yang tidak manly sebagaimana atlet putra seharusnya. 
  2. Tapi, menurut logika Xu Tan, gaya bermain penuh kekuatan atau tidak, itu tidak selalu menentukan/mutlak siapa pemenangnya. 
  3. Jika ingin jadi pemenang harus dengan selalu menggunakan teknik yang agresif setiap memukul bola, gaya permainan akan selalu "keras" dan "liar". 
  4. Lagipula, dalam logikanya juga; tidak harus selalu bermain penuh tenaga, karena semua ada porsinya, menggunakan tenaga 100% dari awal hingga akhir set juga tidak realistis.
  5. Ia juga bukan berarti tidak bisa bermain full tenaga seperti Kenan, ia bisa, hanya saja tidak bertahan se-lama Yu Kenan dan pemain sejenis lainnya. 

Bertahun-tahun lamanya ia berusaha mengembangkan skill dengan pemikiran demikian tanpa adanya bukti nyata, setelah juara Universiade barulah ia merasa sudah ada titik terang dalam karirnya di tenis meja. 

Kesimpulan Sederhana

Pelatih Lei ada melatih dan mengevaluasinya, pacar Xu Tan bernama Wang Siheng yang mana seorang manajer tenis meja memahami potensi dan gairahnya dalam bermain dengan sangat baik, teman-temannya yang lain tidak judging sebagaimana teman-teman saingannya di timnas. Segala hal yang nampak sepele ini ia jadikan kekuatan untuk bangkit dan mencoba sekali lagi; menapaki jalan menjadi juara dunia.  Karena hanya keyakinan ia dan dirinya sendiri yang bisa melakukan dan menentukan hidup dan masa depannya, dalam tenis meja dan dalam apapun. 

Seperti itulah gambaran sederhana untuk diri kita; ketika mungkin kita mengalami yang dialami Xu Tan, tidak semua orang yang menjadi support system selalu hadir untuk kita, tapi, ketika kita sudah selesai dengan pikiran kita sendiri dan berusaha menerima keadaan, orang-orang itu akan datang di saat yang tepat dan mendukung kita yang sudah selesai dengan badai pikiran kita sendiri. 

Jadi, ungkapan "you are what you think" juga tidak salah, meski tidak selalu benar. 



Komentar

Paling Banyak Diminati