Pentingnya Health-Rivalry Relationship
![]() |
| sumber: ilustrasi tanding ganda |
Memasang standar tinggi untuk dicapai dalam perjalanan meraih impian bukanlah hal yang cukup. Semangat dan ambisi dalam diri memang bahan bakar yang baik, tapi untuk mencapai impian besar/world-high-class, jika tidak ada target spesifik yang mana benar-benar harus kita lampaui, kita sejatinya hanya ingin melampaui angan kosong/ekspektasi kita sendiri yang amat mustahil jika tidak direpresentasikan secara realistis dengan menunjuk wujud/sosok nyata yang ada di sekitar kita.
Seperti Xu Tan di episode 3 drama Ping Pong Life yang menetapkan Yu Kenan yang merupakan sosok berbakat dan bibit unggul juara dunia adalah target yang harus ia lampaui. Di episode 24, mereka berdua sudah masuk timnas 2, akan tetapi jika ingin mengikuti kejuaraan dunia harus masuk ke timnas 1 lalu mengikuti seleksi pemilihan lagi. Di sinilah, dengan segala ke-bertolakbelakang-an mereka, membentuk sebuah jalinan hubungan teman-saingan yang sehat dan membangun.
Episode 24: Permainan Ganda Pertama Xu Tan-Yu Kenan
Atas nama ambisi mereka berdua; kepercayaan diri Yu Kenan dan keyakinan Xu Tan, dengan segala latar problematik yang mereka miliki di catatan pelatih tenis meja nasional (jadi sebelumnya mereka berbuat beberapa ulah dan akhirnya dihukum beberapa minggu oleh pelatih, setelah itu baru diizinkan ikut seleksi masuk timnas 1), mereka dengan lawan dan kondisi yang tidak sepadan untuk berduet harus melawan juara dunia ganda putra di timnas 1.
Kepribadian dan teknik bermain mereka yang berbeda membuat latihan mereka terasa berat dijalani, dan rasanya tanding dengan juara ganda putra hanyalah jalan pintas untuk mempermalukan mereka. Yu Kenan memiliki gaya bermain yang agresif dan mengandalkan insting tanpa strategi, sedangkan Xu Tan mengandalkan logika, langkah yang teknis dan detail dalam bermain. Yu Kenan merasa Xu Tan terlalu lemah dan banyak berpikir, Xu Tan merasa Yu Kenan terlalu gegabah. Mereka mengakui satu sama lain bahwa faktor itu membuat mereka tidak bisa bermain ganda dari awal berteman, tapi situasi kali ini memaksa mereka untuk saling memahami dan menurunkan ego satu sama lain.
Berikut clip singkat dari adegan tanding yang bisa saya rekam dan bagikan di sini, kalau ada rekaman dengan kualitas lebih baik tentu akan saya bagikan lagi:
Karena mereka tahu lawan mereka tidak sepadan, serta mengandalkan teknik dan kemampuan mereka semata tetap cara yang mustahil untuk menang, mereka mengandalkan trik tipu-daya di set 1 untuk melihat gaya bermain lawan.
Cara ini bisa dilakukan karena Yu Kenan memutuskan untuk mengikuti saran Xu Tan untuk tidak bermain agresif di awal.
"Kita harus melihat gaya bermain lawan, menganalisis baru meng-counter." Ucap Xu Tan dalam salah satu dialog. Ia juga menambahkan bahwa ketika saatnya bermain lepas, ia akan membiarkan Yu Kenan "Sang Juara" bermain bebas, dan ia akan bertahan di belakang Kenan.
Karena sudah menyeimbangkan ego kedua belah pihak, perdebatan mereka selesai H-1 pertandingan. Di sini Xu Tan merasa bahwa Yu Kenan memang sosok berbakat sejak lahir yang luar biasa. Meski sombong dan sulit diajak kerjasama, buat Xu Tan pribadi seperti itu adalah aset besar untuk dirinya maju dan membuktikan diri bahwa ia bisa melampaui dan menjadi juara dunia juga.
Konsekuensi Berteman dengan Rival Kuat
Xu Tan benar-benar kelelahan mengikuti ritme bermain dan pola latihan Yu Kenan, tapi ia tidak punya pilihan karena mereka akan latihan bersama. Dalam satu latihan pun, Yu Kenan kerap mengatakan padanya:
"Dengan kemapuanku ini, bahkan 3 Xu Tan di 1 pertandingan bisa kukalahkan!"
Perjalanan menurunkan ego (apalagi sesama lelaki) dan membuktikan diri, Xu Tan harus dihantam dengan kalimat merendahkan Yu Kenan yang tidak bisa dibantah, karena Kenan memang peringkat satu dan tidak ada yang bisa melampauinya saat itu, lagipula Xu Tan memang lemah seperti yang dikatakan Kenan. Inilah konsekuensi tidak menyenangkan dan membebani hati. Tapi, dengan segala daya dan upaya, Xu Tan berusaha memahami, memelajari kesalahannya, menerima cacian Yu Kenan dan mengejarnya meski tertatih.
Pada akhirnya, duel mereka melawan juara dunia ganda putra tersebut berakhir kalah dengan selisih hanya satu poin.
Xu Tan yang tidak bisa mengendalikan hasil pertandingan dan hanya bisa terus meyakinkan Yu Kenan untuk bekerja sama dalam teknik bertanding menerima hasil dengan hati berat dan bersiap dihajar Yu Kenan. Akan tetapi, surprisingly pelatih senior mengapresiasi kerja keras dan daya juang mereka berdua:
"Hasil pertandingan ini memang sesuai prediksiku. Tapi, mereka berdua bisa mencapai poin ini tidak perlu kuingatkan pada semua pelatih dan anggota pelatihan di sini tentang kualitas usaha mereka. Oleh karena itu, kepada timnas 1 sebagai senior, tolong didik junior kalian ini dengan baik."
Dengan itu, mereka berdua menjadi anggota timnas 1 dan dinas ke mancanegara untuk meraih medali juara. Memang hubungan teman dekat sekaligus rival adalah kerumitan yang sangat tidak mungkin dijelaskan dengan eksplisit dan tepat. Tapi, pengalaman pribadi, renungan dan upaya kuat memperbaiki diri akan membawa kita ke titik kemajuan yang mana kita sendiri juga tidak menyangka. Bahwa selalu ada jalan bagi orang yang berupaya dan menembus batas diri sendiri.


Komentar
Posting Komentar