Gladi Wisuda Ketiga di Hidupku

foto gabut di sela sesi gladi bersih pakai iPhone adik kelas

Sayang beribu sayang, saya tidak catat waktu presisi foto ini diambil. Rasanya rubrik #backstory ini kurang nendang dan sejalan dengan prinsip saya yang harus menyantumkan waktu presisi (ea, si Paling Prinsip). Tapi gak papa, memang bukan rezekinya. 

Waktu itu saya menduduki bangku PRISTAC 2 (setingkat 1 SMA), foto ini diambil dalam kurun waktu 2 minggu sebelum wisuda PRISTAC tanggal 19 Juli 2023 dilaksanakan. Harusnya kita foto berlima bareng Kiya, tapi waktu itu dia lagi ke luar, jadi Hira yang memegang ponsel dengan randomnya mengambil foto untuk mengabadikan momen.

jujur, senyum-nyengir saya kenapa aneh gini ya?

Begitulah "tugas" Hira di antara kami berlima, untuk hal ini saya amat banyak berterima kasih padanya, karena jadi banyak momen yang divisualisasikan di layar ponsel dan laptop dalam bentuk foto (meski jadinya cukup menuhin memori, dan saya sebagai orang yang selalu organisir galeri paling nggak betah sama hal begini). 

Chamilla paling kiri, yang memegang ponsel Hira, yang wajahnya tertutup ponsel Azra, dan saya (paling kanan) hanya tertawa sambil menyender di dinding toilet wanita yang berada di sebelah kiri panggung kami gladi melihat mereka bertiga sibuk mirror selfie. Seingat saya, waktu itu sedang jeda setelah gladi berjam-jam, waktu tepatnya jam 2 siang. Kita nggak tahu ada kamar mandi di dekat panggung, Kiya yang nemu kamar mandi itu dan akhirnya kami berlima jadi "nongkrong" di sana. 

Kalau dipikir-pikir, aneh banget nongkrong di kamar mandi, ya. 

Awalnya Azra mau buang air kecil, lalu kami ngikut karena gabut. Eh, akhirnya malah kelepasan santai-santai di sana. Kamar mandinya ukuran sedang, tapi kacanya sangat lebar dan cukup jernih disertai pemasangan lampu yang memberi efek pencahayaan yang cukup baik saat kita bercermin. Saya sih nggak begitu suka ngaca, tapi kondisi tersebut membuat Chamilla dan Hira yang suka ngaca jadi betah. 

formasi andalan kalau mau foto berempat dan perbedaan tinggi badan kami cukup beragam

Saya ingat sekali beberapa percakapan receh kami selama kurang lebih 30-40 menit nongkrong di sana:

"Nanti ceritanya kita set make up di sini," Hira berlagak re-touch make up sambil ngaca, di sampingnya hanya ada Chamilla yang mangut-mangut. 

"Kalo di sekolah luar mah di meja sini rame nih; catokan dan make up lain. Terus ada juga yang bisa nyampe bawa kotak make up yang gede itu, lho." Tambah saya sambil mengira-ngira kapan Hira dan Chamilla puas foto-foto dan kita bisa keluar. 

Sebenernya saya bisa keluar sendiri. Tapi kapan lagi ada momen random kayak gini di toilet? Meski yang tidak lanjut ke Atco nanti hanya Azra dan Kiya dan hanya ada Azra waktu itu, saya merasa agak disayangkan kalau saya menuruti ego duduk sendirian di luar. 

"Jernih banget kameranya, eh," komentar Azra sambil melihat-lihat hasil jepretan Hira. 

"iPhone berapa, deh?" tanya Chamilla sambil membolak-balik ponsel dan agak meraba kamera bobanya. 

"iPhone 12 Pro deh kalau nggak salah. Ya nggak sih Zra? Kalo kameranya yang kayak gini.." Hira menjawab Chamilla dengan jawaban setengah yakin. Saya hanya bersandar di dinding, mengamati setiap sudut toilet dan mendengarkan celoteh mereka sambil merekam momen ini dalam pikiran sejelas mungkin. 

"Kamu nanti bawa make up apa Zra?" tanya Hira pada Azra.

"Gak tau, liat aja nanti." Jawab alakadar sambil berpose dan ngaca.

"Nanti pake cushion aja gak si? Kamu mau pake foundation ntar hir?" tanya Chamilla.

"Mau sih. Tapi gak mau ribet. Cuma kalau pakai cushion nanti nge-crack gitu gimana? Tapi aku maunya hasilnya mulus kayak foundation gitu. Tapi kalau pake cushion lebih simpel. Tapi tergantung kondisi kulit sih, ya. Kalau mulus pun pake cushion sama liptint dikit udah stunning banget. Tapi aku maunya tuh nggak yang kayak gitu juga." 

Saya hanya terkekeh kalau Hira udah bawel gini. Karena nantinya dia yang ambil kesimpulan sesuai kemauan dia. 

"Kalo cushion merek apa?" tanya Chamilla. 

"Apa ya? Aku pake punya kakakku pokoknya. Aku mau minjem semua make up dia nanti." Jawab Hira tak mau ambil pusing mikirin merek. 



"Eh, kok bidetnya lucu sih ini?" Azra masuk kamar mandi dan mulai me-review fasilitas yang ada. "Tapi pas aku pipis kok aku nggak lihat, ya?" 

Saya mikir: terus dia bersihin habis pipis pake apa? Barusan saya juga ke kamar mandi dan mengandalkan pancuran dari toilet, tapi saya tetap pakai bidetnya. Jadi ya... saya hanya tertawa melihat Azra kayak gitu. 

"Gede banget airnya ih!" Dengan randomnya Azra mencet bidet dan keluarlah aliran air yang deras banget, untung nggak muncrat sampai keluar. Cukup membuat lantai kamar mandi kuyup dan agak becek di depan pintunnya.

Aneh-aneh aja lagi.



Dan ini foto terakhir sebelum kita keluar dari toilet. Instruksi Hira sih: "ayok, ayok, terakhir nih. Sini Oi berempat!" 

Tapi akhirnya tetap foto beberapa kali. Karena sudah yang terakhir, saya melangkah pelan ke luar menuju area gladi.

lucu banget mereka tiga beruntun gini

Hari itu adalah masa-masa pemulihan luka usus buntu saya pasca operasi. Jadi, saya nggak berani dekat-dekat orang. Sebelum kami masuk toilet ini, saya berjalan beriringan dengan mereka bertiga, tapi karena kita asik ngobrol dan terlalu ekspresif, tangan Azra nggak sadar terangkat dan nyenggol perut kanan bawah saya yang masih ada jahitannya yang cenat-cenut itu. 

Sakit. Tapi saya cuma bisa nyengir sambil senyum tegar pas Azra panik takut jahitannya robek. Nggak selebai itu sebenarnya. Nggak bakal robek juga jahitannya. Kalau ada potensi robek, dokter nggak akan biarin saya balik ke pondok dong. 

Komentar

Paling Banyak Diminati