Terpaksa
Satu hal yang paling menyengsarakan dalam hidup (versi saya) adalah terpaksa.
Terpaksa dalam hal apapun.
Buat saya, setiap mendengarkan kisah orang lain semacam;
"Aku terpaksa masuk pondok soalnya."
"Aku terpaksa kuliah di jurusan ini."
Saya selalu mellow dan turut merasakan berat hati melihat yang mereka rasakan. Bahkan seringnya perasaan itu terbawa sampai saya tidur dan memengaruhi produktivitas harian (kalau lagi parah-parahnya, tergantung keterpaksaan apa yang terjadi dan diceritakan pada saya). Rasanya tuh kayak: "oh my god.. how can you stand this life? Dengan segala keterpaksaan itu? NOO!!"
Tapi, Hidup Ini Banyak Berisi Pengalaman Yang Membuat Kita "Terpaksa" Menerimanya
Ya, hidup ini sejatinya juga banyak membuat kita "terpaksa" memilih atau menjalani sesuatu. Tapi, dari segala keterpaksaan yang ada, selagi itu masih bisa diusahakan dan saya mampu menanggung resiko yang tidak menyenangkan, asal sesuai dengan prinsip dan kemauan saya (tanpa menyalahi syariat tentu ya) akan saya jalani tanpa nego dan pasti totalitas. Resiko baik dan buruk akan saya telan meski sambil dumel-dumel.
Seperti keputusan saya untuk mondok: menjalaninya selama 6 tahun sambil menyaksikan kepergian teman-teman dan comfort people satu per satu tiap semester/tahunnya, mondok di pondok non-formal yang mana harus merelakan kegemaran saya belajar IPA, merelakan ambisi untuk mengikuti olimpiade biologi dan bahasa inggris yang amat sangat saya inginkan, merelakan kesenangan bedah ikan dan eksperimen kimia saat praktek IPA dulu dan lain sebagainya. Tapi, saya mendapatkan banyak hadiah pengalaman dan anugerah yang luar biasa dari mondok ini: pengalaman bersosial dengan orang beragam latar belakang dan kepribadian, belajar untuk tetap stabil di bawah tekanan, dan banyak hal lainnya.
Bukan berarti saya "ikhlas" mondok = segala hal berjalan lancar.
Justru di sini adalah titik di mana saya menemukan segala pengalaman berat, menyakitkan, penuh pelajaran, bahagia, sedih, kecewa, dicampakkan, dinomorduakan, dan segala macam pengalaman ada di sini. Saya yang tadinya ingin mondok dan belajar di dalamnya dengan serius dalam 6 tahun ditakdirkan pada kondisi-kondisi yang tidak bisa saya kendalikan; dan kondisi itu selalu membuat saya terbebani secara fisik dan terutama psikologis.
Stay Waras dan Bersyukur Ya, Karena Hidup Udah Berat, Jangan Bikin Makin Melarat
Sebagai anak yang selalu diajarkan untuk mengambil ibrah dan pelajaran baik dari pengalaman yang menyakitkan sekalipun, saya tidak suka langsung merasa "kenapa hidup ini berat sekali? Kenapa segala hal susah banget? Kok saya bodoh banget?", pokoknya jadi yang agak mellow gitu. Kayaknya kurang afdol kalau langsung merasa terpuruk padahal usaha yang kita kerahkan belum se-mati-mati-an itu. Banyaknya karena kita sedih dan lagi terpuruk aja. Sejatinya kenyataan nggak sehancur kita kok (ya tapi kalau kenyataannya sehancur dan semenyedihkan itu, mau gimana lagi? Sudah ditakdirkan terjadi ya terima aja dulu meski sambil nangis). Kitanya suka banyak drama, meski itu wajar dan harus dilakukan untuk melepaskan emosi.
Apakah dengan ikhlas mondok saya jadi menyukai semua pelajaran? Jadi legowo menghafal mufradat yang se-abrek? Jadi selalu bahagia ketika kelas padat seharian? Nggak juga. Nggak selalu. Ada masa-masa saya futhur atau sedang lemah iman, de-motivasi. hingga akhirnya lalai dan abai dalam tindakan dan keseharian, dalam belajar maupun ibadah.
At The End Of The Day...
Sebenarnya mau itu hal yang dipaksa atau tidak dipaksa, dalam menjalaninya selalu ada rasa jenuh dan lelah hingga hampir menyerah. Tapi, selagi kita mengingat idealisme kita untuk menuntaskan segala yang sudah dimulai, bertanggung jawab atas keputusan yang dipilih, hingga prinsip sebagai hamba Allah yang menjalani segala hal karena-Nya, itu semua akan menjadi pondasi yang kuat, setidaknya untuk bertahan dalam keseharian dulu, menjadi yang terbaik dan tertinggi akan menyusul dalam proses bertahan tersebut.
Karena tidak semua orang bisa menjalani hal yang diinginkan. Selama kita tidak terpaksa menjalani sesuatu, maka lakukanlah dengan serius. Jika terpaksa melakukan hal itu, apalagi bukan minat dan yang kita sukai; tetap jalanilah dengan pemikiran; "Allah SWT akan membalas ini dengan hal yang lebih baik, meski sekarang aku sedang menjalani takdir yang tidak sesuai keinginanku." Semoga, kerelaan kita dalam menjalaninya menjadi wasilah agar kita dapat meraih impian dan hal-hal yang kita inginkan di dunia ini.

Komentar
Posting Komentar