Sekelumit Arti Hidup dari Kacamata Seorang Santri: Spesial Hari Santri 2025

 

Foto yang saya tampilkan berikut adalah potret tim konsumsi di acara Idul Adha pondok saya tahun 2022, saya sebagai bagian dokumentasi yang memotret mereka. Tiga orang dari kiri adalah anak binaan saya waktu saya menjadi mudabbirah dulu, dan yang paling kanan (dan yang dibelakangnya ketutupan, jadi nggak jelas siapa orangnya) adalah salah satu teman seangkatan saya waktu SMA. Potret tersebut hanyalah butiran pasir dari banyaknya jutaan kenangan dan pengalaman yang saya alami dalam samudra kehidupan mondok. 

Tak butuh waktu lama bagi saya memutuskan untuk menjadi seorang santri, tepat setelah saya menyaksikan film Negeri 5 Menara di umur ke-5 tahun, melihat nuansa pondok pesantren yang kental dengan keilmuan agama dan teman-teman yang beragam asal dan latar belakang seketika membuat saya "terhipnotis". 

"Kakak mau mondok nanti ya bun!" Ujar saya semangat sekali waktu itu. Tak terbayang pondoknya di mana, saya hanya berkemauan keras untuk mondok saat SMP nanti. 

Sekarang, saya sudah jadi alumni pondok pesantren di Depok. Pondok saya hanya berjarak 900 m dari rumah, bahkan kalau saya kabur pun bisa, tapi dikejarnya gampang. Dulu 6 bulan pertama mondok jadwal perpulangan santri 2 minggu sekali, kerap saya lebih betah di pondok daripada di rumah, jadilah biasa saya pulang ke rumah hanya 1 bulan sekali saja di beberapa kesempatan waktu itu. 

Di bulan ke 4 menjadi alumni ini, hari santri tak lagi sama. Tak ada lagi seminar spesial hari santri di pagi hari, atau lomba-lomba untuk meramaikan hari santri, juga talkshow dan nasehat ustadz di shubuh hari. Hari santri selama 6 tahun mondok yang saya jalani penuh dengan agenda dan kegiatan bersama teman-teman dan adik-kakak kelas sekarang digantikan dengan pagi yang sepi, hanya ditemani kicau burung dan kesibukan keluarga dan saya pribadi di rumah. Sedikit-banyak ada notifikasi dari media sosial tentang hari santri, tapi semuanya hanya ramai di ponsel, bukan lagi di kegiatan harian saya.

Setelah masuk pondok, saya dihadapkan pada realita bahwa pondok tidak selalu se-indah film yang saya tonton itu. Ada banyak tantangan dan cobaan yang harus saya lewati, keramaian penuh keharmonisan yang saya dambakan dari film tak selalu sama dengan realita. Selang beberapa bulan, satu per satu teman seangkatan mulai memutuskan berhenti dan pindah ke institusi pendidikan lain. Saya memulai perjalanan mondok saya dengan jumlah 9 orang santri akhwat termasuk saya dan 17 santri ikhwan, lalu lulus dengan 3 orang santri akhwat dan 12 santri ikhwan. 

Belum lagi, pondok saya memiliki kurikulum yang berbeda dari pondok kebanyakan, 2 tahun SMP, 2 tahun SMA dan 2 tahun terakhir Pre-University. Perbedaan ini tak berpengaruh banyak terhadap saya, tapi tetap menjadi sebuah pengalaman yang saya hargai. Dengan sistem ini, saya seakan mengalami kuliah lebih dulu daripada teman-teman sebaya saya di luar, bertemu dosen-dosen dan doktor dengan prestasi internasional. Sebuah pengalaman yang sangat mahal.

Perbedaan latar belakang dan asal yang saya tangkap lewat film adalah sesuatu yang membuat hidup berwarna tak selalu berjalan mulus, bahkan sampai h-1 wisuda, saya masih belajar dan mengevaluasi kesalahan yang saya lakukan pada teman saya. Kerap keberagaman kepribadian, apalagi kalau sudah lintas angkatan dan kelas membuat saya burnout dan lelah berkepanjangan. Seiring naik kelas di pondok juga membuat amanah dan tanggungjawab bertambah, bukan hanya belajar, tapi juga menjadi pengurus santri hingga menjadi asisten dosen saya di pondok adalah kegiatan yang saya jabani dengan lika-likunya. 

Tapi, tak ada penyesalan yang berarti bagi saya selagi mengenang hidup saya di pondok. Baik susah-senang, semuanya adalah pelajaran hidup yang sangat berharga. Mau itu pengalaman pahit-manis, semuanya saya telan dan jalani dengan baik. Karena niat saya memang ingin belajar dan menjadi santri dengan baik dan semestinya. Itu saja.

Hidup di pondok yang tak seindah film Negeri 5 Menara mengajarkan saya, bahwa di tengah gebrakan masalah pun saya harus tetap stabil, atau setidaknya tidak banyak mengeluh. Menghadapi perbedaan latar belakang dan pemikiran teman-teman yang beragam tak jarang menjadi debat panas saat tengah makan, tapi karena kebersamaan kami 24/7, mau tak mau kami semua harus menerima perbedaan dengan kepala dingin. Tidak muluk-muluk egois atas prinsip sendiri.

Menjadi santri yang merupakan pilihan pribadi mengajarkan saya pula untuk bertanggungjawab atas pahit-manis hidup di pondok. Kadang, semuanya tidak sesuai dengan bayangan dan khayalan kita, sekalipun sudah kita usahakan untuk kompromi dengan keadaan dan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya, lika-liku kehidupan tetap harus kita jalani bahkan dengan hal pahitnya sekalipun. Dan itu hal yang bukan mengapa, karena tugas santri adalah belajar dengan baik, menuntut ilmu karena Allah SWT, berkhidmat pada pondok dan asatidz di dalamnya. Mencari ilmu yang berkah adalah tujuan utama, bukan mencari teman dan pengalaman organisasi untuk sok keren saat kumpul dengan teman-teman di luar pondok. 

Terakhir, hidup menjadi santri dan mondok mengajarkan saya pula untuk bertahan. Bertahan hingga lulus adalah hal yang melegakan untuk saya. Mau itu di pondok atau tidak, sebenarnya gebrakan hidup selalu ada, tapi, dari hidup santri yang tidak hanya pusing masalah ranking akademik, tapi juga ada beban sosial kepada teman, sebagai pengurus santri, sebagai asisten dosen/guru dan kekhawatiran pada orangtua dan keluarga di rumah, uang bulanan yang suka habis dengan pengeluaran tak terduga, atau uang bulanan yang dipaksa bertahan untuk cukup hingga berbulan-bulan, bersabar menunggu paket kiriman orangtua, berhadapan dengan teman sesama santri yang berbeda kasta dan sebagainya, melewati semuanya hingga tuntas adalah arti hidup yang paling berarti bagi saya; seorang santri meski yang sudah tidak mondok, saya tidak akan lupa bahwa saya adalah seorang santri.

Selamat Hari Santri 2025, sebagai santri, saya bangga mondok memberikan pengalaman yang begitu berarti.


Komentar

Paling Banyak Diminati