Ini Yang Terjadi Kalau Kamu Konsisten Menabung Rp500
Satu hari saat liburan sekolah, saya yang berumur 9 tahun penasaran dengan grasak-grusuk di dapur rumah nenek, atau yang biasa saya panggil jida'. Ternyata beliau tengah beberes lemari dapur. Di sampingnya ada banyak sampah kaleng kental manis yang sudah bolong, saya ingat ada sekitar 7-11 kaleng.
"Ini apa jida'? Jida' lagi beberes apa?" Saya sok-sok ikut mengelap piring yang ada di lantai dan menyusunnya di meja makan.
"Jida' lagi bongkar celengan." Jawab jida' sambil tersenyum lebar, waktu itu beliau masih sangat sehat, masih kuat beberes rumah setiap hari.
Saya mengerutkan kening. "Orang tua kok masih nabung? Kan pas muda uangnya udah banyak dari hasil kerja sama dari pensiun." Ungkap saya bingung dan polos.
Jida' saya mengambil salah satu kaleng, membukanya dengan pisau dan mengeluarkan uang koin yang ada di dalamnya. "Wah, jida' tabungannya banyak ya, berapa lama nabungnya?" tanya saya.
"Sebulan ini, jida' sisain gopek-gopek-an di celengan kaleng ini, jida' cuci kalengnya, jemur, baru isi sampe penuh atau setengahnya." Jida' saya dengan tangan keriputnya itu menyusun koin 500 perak menjadi menara, beberapa darinya ada yang diselotip.
"Nih kak, kalau kamu nabung satu kaleng ini, kamu bisa dapat 50.000, tuh hasil celengan lain yang udah jida' bongkar, satu tumpukan yang diselotipin itu 5.000, dan per-kaleng jida' bisa dapet 10 tumpukan. Jangan pernah sepelein uang recehan, karena dia tetap ada nilainya."
Itu nasehat jida' yang saya selalu ingat sampai hari ini, uang seratus perak pun saya berusaha simpan dan selotip agar rapi. "Nanti bisa buat kamu jajan, atau buat sedekah juga bisa ke banyak orang, karena recehannya banyak." Ujar jida' saya sambil tersenyum lebar sekali melihat hasil nabungnya yang membahagiakan itu.
Saya ber-oo paham.
Terkadang kita kerap menyepelekan uang sekecil 500 rupiah, kita suka terlalu fokus terhadap nilai yang besar, bahkan greget dengan perak-perak yang mengganggu ambisi kita untuk mendapat uang dengan jumlah besar. Misal, 59.500 kerap membuat kita gregetan kenapa tidak ditulis 60.000 saja? Toh perak-perak itu nggak ada artinya juga, kita akan mengeluarkan uang 50 + 10 atau 100 ribuan untuk membayarnya, untuk apa kita menyisihkan uang perak repot-repot?
Dari generasi sepuh seperti jida' saya, saya kerap belajar dan memahami bahwa tidak ada jumlah uang yang tidak berharga. Sekecil berapapun nilainya, ia tetap uang yang bernilai. Tanpa 500 rupiah, uang 50.000 hanya akan 50.000, tidak bertambah sama sekali.
Bagi seorang pengamen atau pengemis, keranjang mereka yang terisi hanya 100-500 rupiah setiap harinya pasti berbeda dari keranjang yang kosong sebelumnya. Misal, meski har ini hanya dapat 5 keping 500 perak, dibanding keranjang mereka kosong, pasti mereka lebih bahagia dengan 5 keping 500 perak tersebut meski nampak tak bernilai. Kita menganggap memang bisa beli apa dengan uang segitu? Toh, kebahagiaan mendapat uang meski sedikit, menyaksikan wadah mereka dari yang kosong perlahan terisi beberapa keping adalah kebahagiaan yang tak bisa kita pahami jika kita tak pernah berada di posisi mereka.
Kita sebagai manusia yang banyak mau kerap mengabaikan hal-hal kecil di sekitar kita, seperti uang 500 perak. Padahal, uang 100.000 nilainya juga terdiri dari uang-uang 500 perak, hanya saja bentuk luarnya saja yang beda.
Saat saya mencoba trik dan saran jida' saya, saya jadi lebih menghargai kembalian 500 perak atau sekecil apapun uang perak yang saya terima. "Kalau kamu malas simpan uang perak, kamu bisa sedekahin ke pengemis atau kotak infak kak, jangan biarin uang perak kamu terbuang atau hilang gitu aja. Biar berkahnya juga nyambung ke makhluk Allah yang lain." Begitulah nasehat jida' saya setelah selesai membongkar semua celengan dan beberes dapur.
Tidak ada batasan kalian ingin mencoba trik menabung 500 perak ini berapa lama, karena pemasukan "receh" setiap orang berbeda setiap hari, makanya saya juga tidak menulis di judul berapa hari menabungnya. Tapi, semoga dengan kisah pendek di atas membuat kita menyadari bahwa uang sekecil 500 rupiah juga bermanfaat tergantung bagaimana kita mengelola dan menjaganya.


Komentar
Posting Komentar