Kualitas Seseorang Terlihat Dari Ciri Terpenting Ini!
Kita semua dengan akal sehat tak perlu diberitahu tentang kriteria orang baik itu seperti apa. Kita semua tahu orang yang berusaha membantu orang lain adalah orang yang berbuat baik dan orang yang membunuh adalah orang yang melakukan kekejaman dan kejahatan.
Menjadi baik adalah panggilan hati dan akal sehat manusia. Manusia yang sesuai dengan fitrah dan akal sehatnya takkan tega menyakiti sesamanya, ia akan berusaha berbuat adil dan menyebarkan kebahagiaan.
Pemahaman tersebut kerap membuat penilaian-penilaian tentang diri kita terhadap orang lain, pun sebaliknya. Meski kita bukan Yang Maha Benar dalam menilai seseorang, hal itu terefleksikan alami dalam diri saat bersosialisasi. Tentu kita ingin mendapatkan teman atau pasangan yang baik dan berkualitas baik secara iman, akal, hati dan jasmani. Oleh karena itu, kita akan menilai mana orang yang berkualitas, mana yang tidak.
Kualitas seseorang terlihat dari beragam ciri yang bisa kita lihat baik secara fisik atau perilaku hingga tingkat kebersihan hati/ketulusannya. Dari segala kriteria yang ada, salah satu hal yang valid no debat dalam melihat kualitas seseorang adalah dari tutur katanya sehari-hari. Terlebih tutur kata kepada yang di bawah dirinya dalam umur ataupun strata.
Memahami hal tersebut tak dibutuhkan kuliah puluhan SKS ataupun seminar ber-sesi-sesi. Berbicara dengan baik dan sopan adalah soft-skill yang didapat tidak hanya dengan materi dan doktrin dari orang ke orang, ia adalah sesuatu yang sudah membudaya dalam diri seseorang, ia menjadi bagian yang sangat sulit dipalsukan terus-menerus.
Pendidikan tinggi, bahkan hingga Doktor ataupun Profesor tidak menjamin seseorang akan bertutur kata baik, pun sebaliknya. Terlepas bahwa manusia adalah makhluk yang melakukan kesalahan dan khilaf, itu semua tidak bisa menjadi alasan bagi seseorang berkata buruk atau tidak sopan. Bertutur kata yang baik adalah pilihan, ditambah bagaimana lingkungan, terutama keluarga, mendukung dan membiasakannya. Banyak orang yang tahu bahwa kalimat "anjir" bukan hal yang baik apalagi sopan, tapi banyak juga yang dengan kesadaran penuh menggunakannya dengan santai di saat ia tahu bahwa itu adalah kalimat kasar. Entah karena gengsi, atau takut di-cap "nggak asik" kalau tidak menggunakannya, motif semua orang beragam-ragam.
Tutur kata yang baik tidak hanya sebatas kata-kata kasar atau tidak kasar. Menanyakan berat badan secara frontal kepada anak gadis, menanyakan gaji seorang pegawai supermarket terang-terangan juga merupakan tutur kata yang buruk dan tidak sopan, meski tidak ada kata "anjir" atau kata kasar di dalamnya. Pemilihan kosakata, target yang ingin diajak berbicara dan penyesuaian suasana--atau bahasa sederhananya adalah kepekaan dengan suasana dan kondisi lawan bicara juga merupakan yang merefleksikan kemampuan bertutur kata yang baik.
Hal tersebut adalah masalah dan perihal klasik di kehidupan kita. Kerap ia menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi ada juga yang tak menghiraukannya. Tetapi, kita tidak melihat bagaimana seseorang itu terlihat nyaman atau tidak dengan pertanyaan atau tuturan kita, tapi dari nilai kepantasan dan kenyamanan kedua belah pihak. Karena tak sedikit dari kita yang menanggapi kalimat "gendutan, ya..", "udah kerja belum?", "kuliah jurusan itu? Kalau lulus nanti cari kerjanya susah, mending ini aja.." dengan tawa hambar, seakan itu bukan apa-apa di hati kita. Padahal seringkali rasanya nyesek dan menjengkelkan.
Jika individu kita dibiasakan bertutur kata yang baik--tentu tidak hanya sebatas tidak berkata "anjir" di tiap akhir kalimat, ya--akan terbentuk masyarakat yang baik, mentalitas yang sehat dan lingkungan yang positive vibes. Ideal sekali, kan? Di dunia yang katanya tidak ideal ini, bukannya usaha untuk membentuk masyarakat yang baik dan--minimal banget--bertutur kata yang baik dan pantas adalah hal yang layak diperjuangkan?
Kita mulai dari diri kita, sudahkah kita bertutur kata yang baik--sesederhana tidak menambahkan imbuhan "anjir" di tiap kalimat obrolan kita--hari ini?


Komentar
Posting Komentar