Peringatan Keras Kepada Kaum Gratisan: Ini Realita Yang Nggak Semua Orang Ingin Tahu
Bisa mencoba sample pizza atau daging di tengah car free day, mendapatkan voucher beli 4 gratis 1 atau mendapat potongan besar dari harga normal (yang kadang hampir tidak masuk akal) dari voucher TikTok adalah hal yang menggembirakan. Belum lagi kita bisa memutar "roda keberuntungan" dan jika kita beruntung anak panahnya menunjuk ke pilihan "belanja sepuasnya total 1 juta" atau "gratis 2 rice bowl teriyaki", siapa yang menafikan kebahagiaan dari "keberuntungan" itu? Kita bisa menghemat pengeluaran, bahkan bisa sampai tidak mengeluarkan uang sepeserpun dengan keberuntungan-keberuntungan tersebut.
Siapa yang tak suka makanan dan barang gratis? Terlebih jika itu adalah kesukaan atau yang didambakan sejak lama. Tak jarang diskon harga, ongks kirim ketika belanja online dan voucher belanja di supermarket adalah hal kita kejar demi mendapat "untung banyak" dengan pengeluaran yang tak seberapa, bahkan kalau bisa Rp0 ya kita usahakan. Katanya, sih mumpung ada kesempatan, kapan-kapan lagi dan alasan lainnya. Yang jelas, mayoritas kita semua bukan dari kalangan elit yang jajan dan belanja tanpa liat label harga, ditambah kondisi ekonomi yang rentan mendorong kita untuk menekan pengeluaran. Maka, ketika kesempatan untung banyak dengan diskon dan voucher ada di hadapan mata, wajar kita kalap dan lupa daratan.
Pernahkah kita berpikir apa saja proses yang dilewati dalam produksi sebuah barang atau makanan viral sebelum ia ramai dijual di khalayak? Pernahkah kita memikirkan nasib pegawai toko yang dibayar rendah hanya karena kita nafsu mencari diskon besar-besaran? Atau kasir minimarket yang katanya harus meng-gratis-kan belanjaan kita seandainya mereka lupa memberikan struk dan akhirnya diganti dengan gaji mereka yang dipotong?
Ini semua adalah realita. Realita pahit dari segala diskon gila-gilaan dalam marketing sebuah perusahaan demi mencapai target omset. Bahasa kasarnya, peduli apa pada kasir minimarket dan petugas kebersihan atas gaji atau kompensasi mereka? Toh digaji satu-dua atau pas-pas-an UMR juga sudah cukup. Bukankah mereka justru yang butuh kepada perusahaan untuk bekerja dan menerima gaji? Berapapun gajinya, mereka akan terima daripada tidak berpenghasilan sama sekali, bukan? Begitulah kenyataan hidup.
Kita sebagai konsumen kerap hanya melihat dari kacamata kita yang ingin harga termurah dengan kualitas yang terbaik, tapi seringkali kita tidak memahami dari kacamata produsen di pabrik, atau chief officer dan CEO yang bertahun-tahun riset inovasi produk bersama timnya demi mewujudkan produk yang layak dijual di khalayak dan meraup omset sesuai target.
Itu semua bukanlah proses yang sederhana. Sekali lagi, itu semua bukan proses yang se-sederhana kita melihat barang di etalase diskon dan membayarnya di kasir, lalu dengan senyum bahagia memandang barang diskonan atau bahkan gratisan yang kita ambil itu.
Gratis ongkir yang kita kejar mati-matian itu, iPhone RP1.000 di tanggal kembar, war di live flash sale adalah mekanisme marketing untuk menarik calon pembeli yang membantu perusahaan mendapat omset, nantinya penghasilan akan di-distribusikan untuk biaya operasional perusahaan, biaya perawatan gedung jika memiliki gedung, membayar pegawai-pegawainya, petugas kebersihan, biaya perawatan AC dan perangkat elektonik yang ada di dalamnya dan masih banyak hal lainnya. Semua itu dihitung dengan perhitungan yang detail dan rumus-rumus yang rumit. Itulah tantangan CEO perusahaan untuk mendapat hasil yang tidak hanya cukup atau balik modal, tapi juga lebih agar bisa mengembangkan perusahaan dan memaksimalkan ekspor produk, atau yang biasa kita dengar; keuntungan.
Untuk menaikkan reputasi dan nama baik perusahaan, gratis ongkir dan diskon besar-besaran digalangkan, contoh iPhone RP1.000, pernahkah kita berpikir atas ketidakmasukakalan harganya itu?
Seorang Chief Engineer Officer alat elektronik di Depok pernah menyatakan contoh konkrit dalam sebuah wawancara terkait hal ini, contoh kasusnya yakni iPhone Rp1.000. "Impor iPhone dari pabrik (misal dari China) dan mendapatkan lisensi dari kantor pusatnya yakni di Amerika membutuhkan waktu dan uang untuk membayar pajak masuknya ke negara kita. Belum lagi dari gudang utama di bawa ke distributor pasti membutuhkan ongkos lagi dan bayaran kepada distributor atas iklan yang mereka sebarkan untuk menarik calon konsumen, belum lagi jika iPhone itu dijual di mall, harga produknya ditambah dengan biaya operasional di mall untuk menunjang promosinya pasti yang tidak murah." Ujarnya tegas.
"Lalu, kita membeli iPhone itu dengan aksesoris dan gadget pendukung lainnya dengan menawar harga yang kelewat murah atau tidak masuk akal. Bagaimana dengan diskon yang tertera di beberapa produk sejenis? Jumlah diskon pasti sudah dengan perhitungan tim marketing dan riset agar "sedikit berkurangnya" bayaran dari pembeli tidak berpengaruh hingga perusahan rugi. Oleh karenanya, tak jarang kita menemukan biaya beli satuan--misal--10 juta, tapi jika membeli paket bundling 5 unit ada diskon 25% ditambah gratis aksesoris. Itu bertujuan mendorong calon pembeli untuk membeli paket beli 5 unit diskon 25% dan gratis aksesoris daripada beli satu unit dan aksesoris secara terpisah, yang kalau dikalikan lima harganya lebih mahal daripada paket bundling tersebut." Lanjutnya, "semuanya ada perhitungannya, tidak bisa asal kasih gratis ongkir 100% terus menerus apalagi di satu transaksi kecil berjumlah 10-20 ribu."
"Kecuali ada donatur atau provider, orang kaya yang bagi-bagi iPhone obral RP5.000/unit, ya itu jatuhnya lelang dan berbagi, bukan untuk urusan berbisnis." Ujarnya sambil tertawa sedikit.
Rumit? Pusing? Begitulah adanya.
"Subsidi ongkir justru lebih menguntungkan pelaku usaha besar atau pusat gedung (warehouse seller) yang terintegrasi dengan logistik" (Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dampak Ekonomi Gratis Ongkir di Era E-Commerce", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/apriliarahma4258/683ed30fc925c43f224bd3a2/dampak-ekonomi-gratis-ongkir-di-era-e-commerce?page=2). Hal tersebut adalah kesimpulan dari usaha gratis ongkir besar-besaran yang tidak memberikan manfaat merata pada pihak distributor atau UMKM yang memasarkan produk langsung ke konsumen. Semuanya terpusat pada pelaku usaha besar di kantor pusat, hasilnya memang banyak karena yang belanja satu Indonesia, tapi jauh dari cukup untuk mem-provide seluruh biaya operasional yang nantinya juga dibutuhkan untuk memberikan gaji dan komisi pada distributor. "UMKM yang berada di luar pusat distribusi utama harus menanggung ongkir lebih mahal karena algoritma sistem mendeskriminasikan jarak dan volume pengiriman."
Apakah itu semua akan menyejahterakan hidup masyarakat dan pekerja? Tidak. Nafsu kita terhadap barang gratis dan potongan harga sebesar-besarnya men-zalimi kurir, pihak UMKM dan distributor, kita merampas hak mereka. Padahal, di dalam harga ongkos kirim 10.000-30.000 yang kita keluhkan: "mahal banget, ih, padahal harga barangnya nggak beda jauh, di toko sebelah lebih murah" bermanfaat bagi mereka untung menyambung hidup.
Apakah kita haram menggunakan potongan harga dan gratis ongkir? Ya tidak. Boleh-boleh saja menggunakan fitur itu, tapi ingatlah berbagai pertimbangan di atas, tidak banyak orang yang memikirkan kesejahteraan seluruh pihak yang terlibat untuk mengirimkan satu buah paket kita (yang kadang adalah barang sepele). Ego dan nafsu terhadap barang gratisan dan potongan harga besar sering membutakan mata hati kita, menutup pemahaman bahwa di balik transaksi sederhana ini ada orang-orang berjasa yang seringkali tak dibayar dengan layak.
Maka, salah satu usaha mulia yang bisa dilakukan adalam memberi tip atau hadiah bayaran lebih (bukan uang suap) ketika kita membeli barang yang kira-kira harganya terlalu murah dan tidak wajar. Langkah kecil nan mulia ini menyadarkan pada kalangan UMKM dan distributor lain bahwa masih ada orang-orang yang peduli pada keadilan dan kepantasan harga, bukan hanya yang bermental gratisan dan menumpuk voucher dengan slogan "hemat pangkal kaya". Di sini terlihat mana "orang kaya" dan "orang miskin" sebenarnya.
Bagaimana pendapat kalian? Kritik dan saran bisa ditulis di komentar untuk diskusi, demi mentalitas masyarakat dan masa depan negara kita yang lebih baik!


Komentar
Posting Komentar