Hampir Dikira Maling Kantin Pondok
Disclaimer, cerita ini agak jijik dan saya saranin stabilkan mental sebelum membaca. Kisah ini ditulis bukan untuk mencederai nama baik pihak yang disebutkan, tapi hanya murni sudut pandang pengalaman saya sebagai mudabbirah.
Malam itu adalah salah satu dari banyaknya tidur saya yang paling tidak nyenyak, beberapa bulan sebelum wisuda PRISTAC (tahun 2022) adalah musim pancaroba yang mana pergantian musim membuat anak-anak binaan saya banyak yang sakit. Pernah sampai 6 dari 11 orang mereka sakit.
Alhamdulillahnya saya nggak sakit. Tapi mengurus anak-anak sakit adalah hal yang cukup membuat saya lelah mental, kalau fisik si nggak ya soalnya mereka gampang disuruh makan. Peraturannya nih kalau saya yang merawat mereka sakit, saya suka kasih pilihan: sakit menderita di kamar atau sehat dan bisa jajan sesuka mereka. Manjur juga ternyata. Jadi nggak ada yang pura-pura sakit.
Dari segala cerita merawat anak sakit, kisah ini adalah yang cukup epic selama sejarah saya menjadi mudabbirah yang mengurus anak sakit. Karena saya sampai dikira maling kantin.
Gimana ceritanya?
Satu malam anak saya ada yang muntah setiap setengah jam, jadi saya selalu terbangun setiap setengah jam dan stok tisu, plastik kresek, tolak angin, minyak angin dan lap apapun yang bisa membersihkannya. Anak itu saya minta tidur di dekat saya agar mudah saya kontrol.
Jam tidur malam adalah jam 22.00 WIB. Tapi jelas saya harus memastikan dia nggak huek-huek dan bisa tidur dengan nyaman sembari pijit-pijit tengkuknya dengan minyak angin. Sampai di siklus muntahnya itu, pukul 00.30 saya sudah kehabisan amunisi membersihkan muntahnya.
Alhamdulillah saya orangnya nggak jijik-an, karena dari kecil udah biasa beresin muntah saya sendiri dan adik saya. Tapi menahan ngantuknya ya cukup sulit.
Divisi kesehatan sudah kehabisan amunisi alat dan obat, ya karena saya habisin semua buat anak ini. Akhwat lain yang punya stok plastik juga sudah saya mintain semua, nggak ada sisa lagi. Hingga akhirnua saya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar musyrifah, di saat saya bingung jalan bolak-balik di jemuran, di kamar saya anak itu makin huek-huek dan muntahnya udah otw menggenang saking nggak ada wadah lagi (in fact pas saya cek lagi muntahnya udah menggenang sampai kena kasur saya dan dia udah tergeletak di lantai menyedihkan kayak orang sakaw).
Saya kok enek ya nulis ini sekarang? Padahal waktu itu santai banget saya serok muntahnya pake lengan saya dan saya cuci baju dia yang kena muntah tengah malem di tempat cuci baju. Sampai saya dikira makhluk penunggu asrama lagi nangkring.
"Kak, mau minta kunci kantin buat ambil plastik sama obat divisi kesehatan, anak aku muntah-muntah, nggak ada plastik sama obat lagi." Saya hanya pakai rok dan atasan mukena warna ungu tua, dengan wajah nahan ngantuk saya menerima kunci dan membuka gerbang asrama yang terbuat dari seng dan hanya digembok tanpa dikunci (jadi cuma cantelin gembok, nggak dikunci gemboknya).
Kantin hanya 10 langkah di depan gerbang asrama untuk langkah kaki saya. Segera saya buka pintu (kantin waktu itu belum ada penjaganya) dan mengambil beberapa tolak angin di etalase dan plastik kresek di nakas lemari. Rasanya kayak maling, tapi izin dulu.
Suasana sepi, saya bahkan bisa dengar detak jam dan merasakan angin semilir tengah malam di kulit saya yang dingin mencekam. Lebay banget ya? Haha. Saya nggak banyak mikir, pokoknya gimana caranya anak binaan saya nggak huek-huek lagi, karena nggak ada lagi yang bisa beresin per-muntah-an selain saya malam itu.
Fun fact, muntahnya nggak bau sama sekali, karena si anak ini makannya dikit banget, cuma buat pengisi perut untuk syarat minum obat. Dia banyak minum sih, jadinya kembung. Malam hari itu kan puncak pusing dan sakit kepala, jadi dia huek-huek dan akhirnya...
Keluarlah itu segala sumber pahala dan ujian kesabaran saya.
Saya beberapa kali berdiri diam sambil berpegangan rak dan dinding karena nyawa saya belum terkumpul sepenuhnya. Dibilang sadar juga masih setengah, dibilang ngantuk pun nggak, sempoyongan aja karena langsung autopilot bersihin muntah pas bangun tidur.
Sampai 10 meter di depan kantin ada cahaya senter dan saya dengar langkah sendal dan suara orang ngobrol. Koplaknya saya malah sembunyi dan kaki saya kepentok rak, jadi mencurigakan dan sakit, padahal saya nggak berbuat kriminal.
Ada dua orang, mereka mendengar suara aneh dari kantin dan akhirnya mendekat. Selain derap langkah kaki, ada suara tongkat pramuka juga. Saya takut mereka pasang ancang-ancang untuk gebukin saya nanti, makanya saya cuma jongkok, sembunyi. Suara mereka makin jelas.
Tapi saya nyengir.
Akhirnya saya nongol di jendela sambil nyengir, karena saya kenal mereka berdua siapa.
"Heh, Oi! Ngapain?!" Namanya Farros, dia menyoroti wajah saya dengan senter seakan-akan lagi menangkap basah buronan. Dia abang sepupu saya sekaligus teman sekelas, jadi saya pede reveal diri sambil nyengir kuda.
Di sampingnya ada teman saya lagi, namanya Jenner, dia yang memegang tongkat pramuka. Mukanya bingung melihat makhluk bermukena ungu janda ini di kantin sambil nenteng kresek isi tolak angin segepok.
"Ngapain?!" Tanya Farros lagi. "Dikirain siapa..."
"Anak aku ada yang sakit, bang. Dia muntah-muntah, aku mau ambil obat divisi kesehatan, di asrama udah habis semua." Saya memasang wajah kasihan. Segera saya mengunci pintu kantin, memakai sendal dan menuju pintu gerbang asrama.
Farros dan Jenner hanya melihat saya aneh. Mereka mengecek lagi kondisi kantin lalu kembali berjalan untuk ronda keliling pondok. Gak tau ya apakah mereka masih ingat ini? Kalau saya sih inget banget, cukup senang yang melihat saya mereka, bukan adek atau kakak kelas jadi saya nggak canggung.
Saya kembali dengan anak saya yang sakit itu. Sampai pukul 03.00 pun siklusnya tetap sama saja. Tapi, alhamdulillah di pagi harinya jam 07.00 sudah mendingan, tidak muntah meski masih lemas. Lusanya dia sudah bisa masuk sekolah.

Komentar
Posting Komentar