Rasanya Pertamakali Juara Menulis Nasional
Tidak ada yang mengajarkan atau menuntut bahwa saya harus jadi yang terbaik atau pemenang secara agresif, bahkan orang tua saya sekalipun.
Semua kegemaran, ketekunan dan kegiatan menulis, membaca hingga riset adalah hasil dari dorongan pribadi. Orang tua hanya memfasilitasi buku dan hal-hal yang diperlukan dalam pembelajaran. Kalaupun menang perlombaan, itu adalah bonus bagi mereka, karena bagi mereka semangat untuk belajar terus pada anaknya adalah hal yang lebih berharga daripada berapa banyak piala yang terpajang di rumah.
Untuk pertama kalinya bagi saya, di umur 15 tahun, lebih tepatnya saat saya menduduki jenjang PRISTAC 1/3 SMP saya menjuarai lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Tapi hanya juara 3. Ya, hanya juara 3 mungkin terdengar agak angkuh, tapi maksud saya mencantumkan kalimat itu bukan untuk merendah ataupun meroket sama sekali, karena itu adalah langkah awal bagi saya dan bukan prestasi satu-satunya, masih banyak hal dalam penulisan saya yang harus dikoreksi. Menjadi juara 3 bukan berarti tulisan saya sempurna.
Lomba karya tulis ilmiah itu bertema tentang da'wah di era disruspi yang diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia tahun 2022. Saya adalah satu-satunya santri PRISTAC yang mengajukan diri mengikuti lomba karya ilmiah tersebut. Karena sejatinya ada 2 macam lomba, yakni essay dan karya tulis ilmiah, yang mana essay wajib diikuti oleh semua santri PRISTAC, akan tetapi beberapa orang yang dinilai terampil dan memiliki kapabilitas lebih, mereka tidak mengikuti essay, melainkan diarahkan dan dibimbing langsung oleh guru sejarah kami di pondok untuk penulisan karya ilmiah. Padahal, normalnya kami baru menulis makalah ilmiah di jenjang PRISTAC 2, oleh karenanya tidak semuanya dipilih untuk menulis karya ilmiah.
Panggilan hati untuk me-manuver niat dari yang hanya menulis essay dakwah sederhana menjadi karya ilmiah dengan total 20 halaman (yang itu sudah dikompres, aslinya lebih banyak tapi panitia lomba hanya menerima maksimal 20 halaman) terjadi 4 hari sebelum deadline pengumpulan karya. Sudah dari jauh hari essay milik saya sudah selesai, tapi masih menunggu teman-teman lain untuk bisa diserahkan kepada guru secara bersama-sama. Tapi, melihat salah satu tema akhwat saya yang bolak-balik bimbingan karya tulisnya yang akan dilombakan itu, perlahan membuat saya penasaran, apa rasanya menulis karya ilmiah?
Pada dasarnya semuanya dimulai dari rasa kepo, sih.
Saya bukan orang yang dinilai cukup untuk mengikuti lomba karya ilmiah waktu itu, tapi dengan kesadaran penuh saya memutuskan untuk mulai mencobanya setelah membaca sekilas buku Fiqhud Da'wah-nya Mohammad Natsir. Ini adalah keputusan yang gila bagi teman-teman saya saat mereka bingung melihat saya sibuk mengetik lagi. "Oi, kamu ngetik apa lagi? Bukannya essay kamu udah selesai?" Tanya mereka heran.
"Aku mau nyoba ikut lomba karya ilmiah." Jawab saya sambil sibuk mengetik. Mereka berdecak heran.
"Emang dibolehin sama beliau?" Mereka memastikan dengan menyebut nama guru sejarah saya waktu itu.
Saya berhenti mengetik, menyandar pada punggung kursi, lalu menjawab, "emang nggak dibolehin?" saya balik bertanya.
"Enggak, kita cuma takut karena kamu nggak dipilih malah nggak boleh submit, padahal kamu udah bikin capek-capek." Saya sempat takut akan hal itu. "Tapi nggak papa deh, semangat!" Saya tetap senang mereka masih mendukung saya, meski mereka tak habis pikir kenapa saya berani ambil keputusan ini di tengah padatnya jadwal belajar dan kami semua tak ada pengalaman ataupun arahan metode menulis ilmiah, kecuali santri-santri yang dipilih itu.
Saya pun begadang tanpa tidur sama sekali 4 hari 4 malam (waktu itu aturan larangan begadang belum ada, syarat terpenting bagi yang mau begadang adalah melakukan hal yang bermanfaat dan tidak boleh mengantuk saat tahajjud), kadang bersama teman akhwat saya itu, kadang sendirian. Yang jelas dan saya ingat sekali waktu itu, rasanya nikmat sekali saat ide mengalir lancar di kepala dan saya mengetik tiap paragraf dengan sangat effortless.
Ajaibnya, saya sama sekali tidak mengantuk di kelas ataupun saat zikir setelah shalat berjamaah. Dalam 4 hari itu, hati saya berdebar-debar, senang sekaligus terpacu adrenalinnya untuk terus menulis materi dan buku referensi tentang da'wah terus terbayang-bayang di depan mata saya, saya bahkan hafal materi penting hingga halamannya, sampai baris keberapa dan di halaman bagian kanan atau kiri saking semangatnya waktu itu.
Berasa ustadz Adi Hidayat aja ya, haha. Aamin...
Hari libur dari pukul 07.00 pagi sampai 05.00 sore full saya gunakan untuk menulis dan membaca, makan pun lupa, untungnya ada teman saya yang peduli dan memisahkan jatah makan untuk saya, bahkan seingat saya dia juga menyuapi saya sambil dumel-dumel, "nanti sakit aja, kalau kamu tiba-tiba pingsan aku gak mau tanggungjawab, ya." Senang sekali diperhatikan seperti itu kalau dipikir-pikir lagi sekarang.
Hingga saat hari pengumpulan, saya belum mengabarkan ke guru sejarah saya tentang partisipasi saya, tapi segera saya mengumpulkan file word makalah. Sembari menyerahkan flashdisk saya bergumam percaya diri (ditambah hasil tahajjud dan semedi di perpus ber-jam-jam); "bismillah, minimal juara 3 bisa lah ini."
Dan saat perpulangan ke rumah, bunda saya berteriak senang memanggil saya yang baru pulang dari jalan pagi. "KAK! MENANG KAK!"
"Menang apa?" Saya bingung. Tidak paham konteksnya. Saat melihat layar ponsel bunda saya, barulah saya jatuh terduduk di sofa terharu. Saya juara 3 dari total 18 peserta, dan saya adalah satu-satunya siswa yang ikut, sisanya mahasiswa semua.
Saya nge-freeze sambil membatin senang: "alhamdulillah ya Allah, ternyata gini ya rasanya jadi juara nasional, meski aku cuma juara 3"
Keesokannya saya demam typus seminggu (tapi tetap memaksa masuk kelas karena demam dan pusingnya masuk kategori yang bisa saya tahan, meskipun tetap sakit kepala nggak karuan tiap malam). Ya karena 4 hari 4 malam itu hanya sibuk menulis, membaca dan shalat. Ini tidak boleh ditiru para pembaca sekalian, cukup menjadi kisah hidup saya. Work-life atau Study-Life balance itu harus, jangan terlalu keras dengan diri kalian sampai sakit seperti saya.
Minggu depannnya, saat kelas sejarah guru sejarah saya bertanya pada saya; "kamu menang ikut karya ilmiah?" Saya tersenyum sambil menjawab "iya ustadz, alhamdulillah". Saya adalah satu peserta yang banting setir dan menulis tanpa bimbingan beliau, tapi hasilnya alhamdulillah bisa membawa nama baik pondok, di saat santri pilihan waktu itu belum ada yang memenangkan karya ilmiah.
Hal yang harus pembaca semua ketahui, jauh sebelum itu, 9 tahun sebelumnya adalah perjuangan saya jatuh-bangun dalam sepak terjang di dunia menulis fiksi dan ilmiah. Berawa jatuh cinta dengan ensiklopedia Oxford dan KKPK mendorong saya mulai menulis artikel tentang alam dan cerita pendek, dari menulis manual dengan pensil sampai mengetik saya jabani. Puluhan penerbit mayor lebih menolak karya yang saya buat, ada yang tanpa memberikan masukan dan saran sedikitpun, ada yang bilang karya saya terlalu bertele-tele, tidak sesuai standar mereka dan sebagainya. 9 tahun ke belakang saya mengalami banyak penolakan dan kekalahan di lomba menulis ilmiah, di titik itu saya sadar bahwa saya hanya menjadi jagoan kandang.
Ya, saya banyak dapat apresiasi tentang kelihaian saya dalam menulis, tapi hanya di sekolah dan di keluarga. Kemampuan saya belum cukup untuk diakui secara publik. Hal itu membuat saya terus menerus mendorong diri, mencoba genre dan gaya menulis yang awal mulanya tidak saya sukai, tapi ternyata memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan menulis saya.
Hingga saatnya tiba saat saya memasuki pondok saya, kemampuan menulis ilmiah berkembang. Hingga mencapai titik ini. Saya banyak berkonsultasi pada kakak kelas yang tengah menulis skripsi dan makalah ilmiah, bagaimana menulis catatann kaki yang benar, bagaimana penggunaan tanda baca yang tepat, bagaimana menggunakan parafrase yang tepat dan mudah dipahami. Tak lupa berlatih presentasi, karena tulisan yang bagus akan semakin mantap jika kita sebagai penulis bisa "menjelaskannya" di khalayak. Kalau bisa pandai berbicara dan menulis, kenapa harus pilih salah satu saja?
Pengalaman ini menjadi kekuatan bagi diri saya kala saya merasa "kalah" atau "payah", sejatinya kita sebagai manusia pernah mengalami jatuh-bangun dalam diri kita. Dalam hal mengenang "masa kejayaan" saya ini, tentu menyebutkan prestasi hanyalah omong kosong belaka jika diikuti flexing tanpa henti. Jangan pernah puas dengan pencapaian kecil, karena kita sebagai muslim memiliki tokoh-tokoh hebat dengan prestasi menjulang tinggi. Tidak mungkin orang yang mengerahkan usaha tinggi tidak mendapatkan hasil yang sepadan.
Bersama Pesantren At-Taqwa Depok dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, pengalaman ini adalah hal berharga yang takkan saya lupakan. Semoga ke depannya saya mendapat banyak kesempatan lagi untuk unjuk gigi dari potensi yang saya miliki.




Komentar
Posting Komentar