Serba-Serbi PDKT
![]() |
| Sang Yan melamar Wen Yifan (sumber: pinterest |
Pendekatan dilakukan ketika kita tertarik atau menyukai sesuatu; barang, hobi, bidang hingga orang. Hal ini lumrah dan manusiawi, akan tetapi harus dikendalikan dengan sebaik mungkin.
Apakah saya orang yang berpengalaman dalam hal ini? Tidak. Tapi saya punya banyak riwayat teman yang di-PDKT-kan oleh lawan jenisnya dengan beragam motif; naksir, mau dinikahin padahal belum mampu, kepo dengan latar keluarganya, karena cantik, karena ibunya jualan es krim jadi bisa dapat diskon kalau jajan, dan beragam macam alasan lainnya.
Saya kerap jadi saksi mata dan 'konsultan' andalan, padahal saya hanya mendengarkan curhatan tanpa memberi saran yang serius. Lagipula, dari dulu hingga detik ini fokus saya ya; belajar. Kalau urusan seserius menyukai lawan jenis buat saya prioritasnya masih di kelas bawah.
Apakah saya tidak pernah menyukai lawan jenis?
Ya pernah dong. Celebrity crush kan termasuk lawan jenis. Dan saya punya beberapa celebrity crush yang mana saya menjadikan mereka motivasi, kalaupun klenger/terpesona karena ganteng/tampan/rupawan ya sudah itu resiko toh kan.
PDKT
Buat saya, mendekati seseorang dalam konteks ketika kita menyukai lawan jenis adalah hal yang rumit. Ya semua hal tentang manusia rumit sih, ini menuntut kita jadi long-life learner dan... itu capek.
Tapi, Allah SWT menciptakan semuanya di bumi ini bermacam-macam ya agar saling mengenali. Berkenalan harus dilakukan dengan pendekatan; baik secara kontak fisik atau non-fisik/media sosial (ya pokoknya kedua pihak harus saling tahu satu sama lain dong, bukan berkenalan dengan angin kosong). Berbicara tentang ini, saya baru selesai membaca satu novel healing romance dan di situ digambarkan dinamika sang tokoh utama laki-laki PDKT dengan tokoh utama perempuan dari mereka SMA hingga sang perempuan berhasil dilamar setelah 6 tahun sang laki-laki kukuh menyukainya.
Novelnya berjudul; 'The First Frost' (diadaptasi jadi drama china yang saya gila-gilai setahun terakhir meski saya tahu cowok se-greenflag Sang Yan tidak mungkin ada di dunia nyata) karya Zhu Yi yang seri pertama (ada dua seri) menggambarkan perjalanan pertemuan dan PDKT/pendekatan Sang Yan terhadap cewek yang disukainya, yakni Wen Yifan, hal ini mendorong kelebat pikiran dan pandangan saya beropini tentang PDKT ini.
Tidak ada salahnya mendekati seseorang yang kita sukai. Itu adalah dorongan yang bisa dikendalikan tapi permulaannya memang terasa bergejolak dan sulit ditahan, apalagi di masa muda. Islam mengajari kita menjaga pandangan, tapi tidak mungkin dong kalau kita benar-benar tidak melihat orang yang kita sukai/target yang ingin di-PDKT-kan oleh kita. Papasan, tatapan mata sejenak adalah sesuatu yang akan dilebih-lebihkan untuk orang sedang dimabuk asmara atau cinta monyet. Melihatnya mah gak papa, asal setelahnya ya jangan diterusin.
Baru tahan pandangan.
Meski saya tahu rasanya susah banget, ya. Bayangkan; saya juga susah sekali kok menahan diri tidak menonton ulang fancam bias k-pop atau memandangi scene estetik di drama china ditambah aktornya yang gagah itu. Bukan berarti itu semua diperbolehkan, usaha kita untuk kembali dan konsisten di jalan dan sikap yang seharusnya adalah yang menjadi tujuan.
Sang Yan (ML laki-laki di novel) mendekati Wen Yifan dengan gaya yang sangat terang-terangan dan terbuka. Tapi, ia tidak asal memegang Wen Yifan, menampakkan sikap murahan atau tidak senonoh dengan minta diceng-cengin oleh teman-temannya yang lain. Tipe modus dalam PDKT-nya adalah; kalau ada kesempatan ya manfaatkan, kalau tidak ada ya jangan paksakan.
Saat-saat Sang Yan di kelas bersama Yifan, jalan bersama sepulang sekolah adalah hal yang tidak dipaksakan, dan mau tidak mau mereka akan bertemu. Ia tidak memaksa Yifan duduk di sampingnya saat di bangku bus atau pemilihan tempat duduk di kelas, tapi kalau Yifan duduk di dekatnya ya sudah alhamdulillah gitu. Hehe. Ia memastikan Wen Yifan tidak merasa terganggu olehnya dan ia juga tidak peduli kalau Wen Yifan tahu atau tidak tentang perasaannya. Toh ini urusan Sang Yan yang menyukainya, urusan disukai balik ya nanti; pasti ada waktunya.
Tapi, yang namanya naksir pasti ada momen di mana kita mencari-cari kesempatan dengan orang yang kita sukai. Meski sesederhana papasan di lorong sekolah. Dan itu normal. Yang salah adalah ketika hal itu membuat kita lalai dan meninggalkan kewajiban sebagai muslim dan siswa. Gimana ya menjelaskannya secara gamblang? Ya namanya hati, nggak bisa ditolak sepenuhnya dong kalau hati sudah bilang 'wah, cakep juga nih orang, jadi suka'. Apalagi kalau tipikalnya yang susah suka dengan lawan jenis, tapi sekalinya suka jatuh sedalam-dalamnya sampai gagal move on.
Yang agak minusnya dari Sang Yan sih ya.. dia melanggar (tidak banyak, hanya satu-dua) dalam per-PDKT-an ini; tidak mengabari orang tua sama sekali saat ditanya progres sekolahnya, mengacuhkan orang tuanya saat wisuda dan malah main ke kampus Wen Yifan untuk mengucapkan selamat kelulusan dari kejauhan (karena waktu itu mereka sudah putus kontak dan beda kampus), memaksa pulang duluan ke apartemennya dan meninggalkan makan malam sakral di hari libur imlek demi bisa makan bersama Wen Yifan.
Untungnya keluarganya baik dan mengerti. Setelahnya Sang Yan juga menerima hukuman dan omelan dari orang tua dan dia juga menerimanya. Sang Yan adalah definisi jatuh cinta satu kali seumur hidup dan seandainya Yifan menikah dan hidup bersama orang lain, Sang Yan akan dengan kukuh menyukai Yifan dari jauh sampai akhir hayat.
Shahabat nabi juga ada kok yang demikian. Bahkan ketika sang shahabiyah menjadi janda karena ditinggal mati oleh suaminya, sang shahabah yang setia menyukai sang shahabiyah dari mereka remaja tetap mengejar dan menerimanya. Ia tidak mengganggu kehidupan rumah tangga sang shahabiyah toh suaminya kan sudah meninggal dan masa 'iddahnya sudah habis. Meski merasa tidak cukup baik karena ia merupakan janda dan bukan perempuan terpandang, sang shahabat tetap meyakinkan dan menerima sang shahabiyah dengan segala kekurangannya serta memperbaiki kekurangan dalam dirinya untuk menjadi pendamping hidup yang baik.
Di dunia nyata ini juga banyak orang yang hanya konsisten menyukai satu orang seumur hidup, bahkan mati dalam kondisi menyukai orang itu walau orang itu sudah dengan yang lain. Itu semua keputusan kita ya. Termasuk dalam PDKT ini. Ini berat banget sih. Tapi karena mulia dan mengaharukan ya pantas saja ia berat dan tidak semua orang mampu melakukannya.
Pada Akhirnya...
Yang jelas, ketika kita memutuskan untuk PDKT dengan seseorang, sebagai perempuan saya merasa bahwa PDKT tertulus adalah;
kita didekati dengan cara yang kita nyaman dan aman dengan itu, bahkan sampai kita merasa ini bukan sebuah pendekatan dengan maksud modus.
Toh, berbuat baik itu bukan selalu berarti naksir. Itu adalah adab. Kalaupun ada motif modus dan naksir, ya tetap saja tidak bisa disamakan antara berbuat baik murni dan berbuat baik berkedok modus/PDKT.
Kalau kata pujangga dan sepuh-sepuh percintaan yang pernah saya temui: mencintai seseorang itu hanya memberi, memberi, dan memberi. Termasuk mencintainya dengan cara sebagaimana ia ingin dicintai, bukan dengan cara kita ingin mencintainya, sekalipun ia sudah menyukai kita dan akan menerima segalanya dari kita.
Sama dengan pendekatan ke orang yang kita sukai. Mau kita ditolak, diacuhkan, tidak disadari kehadirannya, poin pentingnya adalah melakukan pendekatan dengan jarak aman dan memastikan sang target tidak risih dan hilang respect dengan kita.


Komentar
Posting Komentar