Pertamakali Masuk Mahkamah

Ini dramatisasi aja sih, tapi namanya di pondok beneran mahkamah, lho (ilustrasi mahkamah)

Dengan wajah tidak terima dan delikan mata penuh julid, saya yang tengah memasang posisi push up membalas tatapan sang Eksekutor yang tengah duduk dengan gaya sengak dan bersikap galak. Sang Eksekutor santri-santri yang terlambat shalat dan melakukan keterlambatan lainnya. 

"Kenapa liat-liat, Oi? Lanjut lagi push up-nya!" Bentaknya pada saya sambil menendang kaki meja kesal. Membuat shubuh yang hening itu menjadi angker karena dentuman meja. "Yang lain ngapain diem? Siapa yang suruh diem? Push up lagi!" 

Ba'da shubuh, hari ahad di tahun 2021 waktu itu bukannya saya nggak mau push up. Saya tahu satu keterlambatan itu dihukum 10x push up dan terlambat adalah hal yang buruk. Tapi waktu itu saya sudah push up 70x dan karena push up ke-71 saya agak gemetar dan akhirnya menjatuhkan badan saya ke lantai, 70 push up sebelumnya tidak dihitung.

Apa-apaan, ini? Saya nggak bisa terima, lah. Enak aja.

Tapi, sebagai junior yang belum ada jabatan dan kemampuan apapun, saya menarik nafas lagi dan mengulang push up lagi. Total push up keseluruhannya ada lebih dari 100, tapi yang dihitung hanya 60. 

Saya tahu ini hanya hukuman untuk orang yang terlambat agar jera dan tidak mengulanginya lagi. Tapi, masalahnya saya terlambat selama seminggu ini adalah karena; saya tidak tahu kalau batas keterlambatan sudah dimajukan. 

Kenapa saya bisa nggak tahu? Karena itu diumumkan secara tidak resmi. Jadi kakak pengurus bagian keamanan keliling kamar untuk memberitahukan bahwa mulai besok, tahajjud dihitung terlambat kalau datang pukul 4 tepat, yang mana sebelumnya telat itu pukul 04.15 menit. Jadi yang tahu ya yang ada di kamar saja.

Dan tidak ada seorangpun yang memberitahu saya tentang hal itu. Sebelum saya "dieksekusi" pun tidak diberikan kesempatan untuk bersuara atau.. ya memang saya ingin sedikit protes kenapa catatan keterlambatan saya banyak banget padahal saya merasa sudah cukup tepat waktu.

Saya kira saya berani. Ternyata saat masuk ke ruang mahkamah nyali saya untuk bernafas ngos-ngosan saat push up pun tidak ada. Tapi, mata saya berbicara kalau keputusan ini diambil dengan cara yang tidak semestinya. Dan saya tidak rela atau ikhlas waktu itu dihukumnya.

Tapi saya nggak mau banyak debat dan di-cap adeik kelas belagu dan suka menjawab. So, urusan ini sederhana saja; push up lah sebanyak yang disuruh. Kalau disuruh mengulang ya ulang. 

Mahkamah diadakan serempak bersama teman sejenjang saya lainnya. Sekarang hanya sisa saya yang push up. Teman-teman saya lainnya diminta menunggu sambil memandangi saya yang menahan emosi sambil tangannya gemetaran karena sudah push up ke 135 tapi baru dihitung 27x. 

Tangan saya pun terkenal paling lemah diantara santri lainnya. Jadi kualitas push up saya amat buruk. Itu membuat sang Eksekutor semakin emosi. 

"Yang bener!" Bentaknya. "Kamu telat paling banyak, sekarang nyita waktu temen kamu karena harus nunggu kamu!" 

Saya kira saya tidak akan takut. Tapi ternyata saya gemetar dengan bentakan seperti itu. Saya merasa terintimidasi dan tidak bisa berkutik. Dalam hati saya tahu ini untuk mendidik, tapi ucapannya sudah masuk ke hati saya dan memantik emosi. 

Biasanya, di posisi terpojok seperti itu, seseorang akan mendapatkan sebuah kekuatan ajaib yang membuat staminanya kembali segar dan kuat melakukan push up lagi untuk membuktikan bahwa ia tidak lemah. Hingga akhirnya ia membalikkan situasi. 

Tapi ini realita, bukan film ataupun drama. 

Saya tetap tergopoh-gopoh melakukan push up. Sampai keringat saya sudah menetes beberapa tetes ke lantai, barulah sang Eksekutor puas dan menyuruh saya berhenti. Di kondisi itu saya hanya mampu push up 7x. 

Lelah sekali. Tapi rasanya lebih lelah hati saya karena dada ini rasanya penuh ketidakterimaan. Rasanya sangat tidak adil. 

Di kamar, teman saya memijat tangan saya prihatin. Saya ingat, yang memijat saya waktu itu adalah Azra, dia di ruang mahkamah tadi hanya push up 70x (bener-bener 70x tanpa pengulangan seperti saya). Saya juga berusaha memijat tangan dan lengan Azra meski baginya hanya ditekan-tekan tanpa tenaga. Toh tenaga saya yang paling habis. 

Memiliki fisik, terutama tangan yang lemah membuat push up 10x terasa seperti push up 50x beratnya buat saya. Saya hanya bisa berjuang untuk itu. Kalau bengek ya bengek sendirian. 

Dalam beberapa minggu setelahnya, ya kami masih tidak bisa menerima hukuman itu karena dinilai tidak sebanding dengan kesalahan dan keterlambatan yang kami perbuat. Kami pun hanya berakhir di situ, berbulan-bulan setelahnya alhmadulillah tidak masuk ke ruang mahkamah itu lagi. Mengingatnya sekarang sebenarnya cukup emosional, tapi saya bersyukur atas hal itu karena dengannya jadilah cerita ini.




Komentar

Paling Banyak Diminati