Aku dan Teh Hijau

sumber: pinterest

Liburan ke Yogyakarta sekeluarga dilaksanakan sebelum saya resmi menjadi santri dan masuk pondok. Meski dari kecil pengin menjadi santri, saat waktunya tiba saya malah gugup dan sedikit cemas tanpa alasan. Saat perjalanan pulang kami mlipir ke sebuah tokoh oleh-oleh di Cirebon dan di sinilah saya bertemu pertama kali dengannya.

Teh Hijau merek Upet by Sariwangi (no endorse dan sponsor).

Dengan keputusan sepihak tanpa memberitahu orang tua, saya memasukkan itu ke keranjang. Saat membayar di kasir bunda saya menatap heran, sudah tahu ini pasti barang pilihan saya. 

"Yakin mau beli ini?" 

Saya mengangguk yakin.

Mulai saat itu, tidak pernah satu hari pun saya skip minum teh hijau. Kecuali kalau air panas di rumah atau pondok sedang habis. 

Teh Hijau

Meski nampak sepele dan bukan hal penting, konsistensi saya minum teh hijau sudah melekat di mata teman-teman di pondok. Kalau sudah melihat saya membawa gelas plastik warna pink/ungu dan menyeruputnya pelan pasti teman saya akan bilang;

"Nge-teh lagi nih, Oi."

Ini juga membantu saya untuk mengontrol nafsu jajan. Meski seringkali kalap, tapi tidak sefatal itu sampai membuat saya harus berhutang. Teh hijau mengatasi ini dengan cukup baik, kontribusinya selama hidup saya di pondok (bahkan sampai hari ini) begitu besar; melatih mengatur nafsu, disiplin waktu dan mencerminkan aura yang meyakinkan. Karena saya meminumnya tanpa gula, kerap saya dianggap santri yang sangat sehat. 

Ditambah, dua tahun terakhir saya baru menyadari teh hijau ini juga membantu mengatasi sembelit. Sebagai anak yang dari lahir suka kena kolik/gas yang terjebak di perut sehingga seringkali membuat saya susah BAB, kelancaran dalam BAB yang saya alami ternyata hasil dari konsumsi teh hijau secara rutin dengan porsi aman.

Memang ada porsi yang tidak aman?

Ada. Kalau kita mengonsumsinya  lebih dari 3 cangkir sehari, dan di bawah 2 jam sebelum tidur itu akan mengganggu metabolisme tubuh dan malah menaikkan hormon stres. Saya kerap mengalaminya. Apalagi di masa-masa tertekan karena tuntutan akademik dan organisasi, saya bisa habis 4 gelas sehari untuk meredam stres. 

Itu bukan hal yang baik, saya tahu. Tapi tanpa bisa dikontrol lagi, ketimbang jajan dan makan dengan porsi melunjak, saya lebih banyak berdiam diri di kamar sambil meneguk (bukan menyesap) teh hijau ketika merasa tertekan. Yang agak rumitnya, karena kebiasaan nge-teh saya memang begitu, seringnya teman-teman susah membedakan mana yang saya minum karena kebiasaan harian, mana yang minum karena stress. 

Ya, terlepas itu; teh hijau membersamai saya melewati masa sulit di pondok, ketika tidak ada seorang pun yang bisa memahami saya yang tengah kacau dan ditekan oleh tanggungjawab (karena mau gimana? Toh kalau curhat sama temen gak bisa kasih solusi karena kami sama-sama stress), ketika hiruk pikuk manusia yang sibuk dengan dirinya masing-masing seakan memberi kesan bahwa diamnya saya menunjukkan sikap terbelakang, ketika hati sungsang dan berat tapi orang di rumah tidak boleh tahu, ketika ada masalah rumit dengan teman, dengan diri sendiri, dengan anak binaan, dengan kakak kelas, dengan guru, dengan atasan. 

Selain shalat, duduk menenangkan diri sambil teh hijau adalah cara jitu untuk membantu saya melewati emosi negatif.

Teh hijau tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah saya. Tapi, setidaknya emosi dan pikiran buruk yang menghambat dapat saya pilah dengan kepala dingin, bukan tindakan gegabah. 

Komentar

Posting Komentar

Paling Banyak Diminati