Ikan Tongkol Kuah Kuning Selalu di Hati

Yang jelas tongkol di pondok nggak kayak gini (ilustrasi tongkol)

Kuah santan yang gurih, asin, dan membuat naik kolesterol itu    bagi saya yang waktu itu seorang santri dan hanya mementingkan porsi makan dibanding gizi dan kelayakan makan    adalah surga duniawi untuk lidah. Apalagi dicampur dengan sambal pondok yang sudah ditambahkan 10 sachet bumbu msg itu. Sangat nikmat. 

Ia adalah salah satu menu makanan di pondok, yang biasanya disajikan untuk sarapan atau makan siang. Ikan Tongkol Kuah Kuning (kuningnya dari kunyit) buatan ibu dapur pondok selalu mengesankan buat saya. 

Karena saya bukan chef atau pemerhati bumbu-bumbuan, ya saya menilai dengan insting seorang foodie. Karena santri ada banyak, seporsi tongkol biasanya ukuran panjang potongannya sekitar 5-10 cm, dengan ketebalan 1-3 cm (hoki banget sih kalau bisa dapat yang ketebalan 3 cm, tapi saya jarang dapat itu). Warna dagingnya kadang gelap kadang terang, teksturnya kadang keras kadang lembek sampai hancur berlebur-lebur saat kita hendak menyendok. 

Poin utamanya adalah kuah kuningnya yang selalu jadi incaran setiap santri. Karena daging ikan yang terbatas tidak mampu menutup setiap suapan nasi, oleh karenanya kuah berperan sangat penting dalam menghabiskan makan dan suplai tenaga.

Tongkol kuning sudah jarang saya jumpai di akhir tahun ketiga sampai keenam di pondok. Sampai saya pernah selama dua minggu merengek ke ibu dapur untuk dibuatkan lagi menu itu

"Ibu nggak janji Oi. Ibu mah masak apa yang ada, terus yang penting menunya beda-beda tiap hari." Jawab sang ibu dapur satu waktu saya merengek minta dibuatkan tongkol tersebut. Saya mendengarnya hanya bisa memasang wajah lesu sambil membantu mengupas bawang di sela waktu istirahat. Kalau saya mau sih.

Saya mau bantuin soalnya biasanya saya datang ke dapur di jam istirahat buat minta jatah sarapan yang masih sisa; apalagi kalau sarapannya pakai tongkol kuah kuning ini.

"Ya tapi pagi tempe, siang tahu, malem tempe, besok pagi bakwan, besok siang tempe, besok malam orek, ya masa nggak ada ikannya bu? Buat protein lah bu." Koor saya. Ibu dapur hanya tertawa sambil menyumpal mulut saya dengan tempe tepung yang sudah dingin. 

"Mending kamu bantuin ibu kupas bawang atau habisin sisa makanan daripada ngoceh mulu."

Yang saya cintai banget adalah; ibu dapur selalu berusaha menyisakan buat saya meski hanya 1-2 biji tongkol karena tahu kalau saya adalah santriwati yang paling konsisten merengek kalau tidak ada sisa makanan di dapur.

"Tuh, ambil aja di dalem kamar, ibu udah sisain, keinget kamu soalnya kalau liat tongkol sama tempe." 

Ucapan ibu dapur yang itu kerap membuat saya terharu dan secara sukarela membantu kerjaan memotong sayur atau mengusap bawang di dapur sebisa saya. Kadang sambil disuapi dan berceloteh tentang keseharian saya. 

Buat saya, tongkol kuah kuning ini bukan sembarang menu yang membuat kenyang dan memanjakan lidah, tapi juga media yang membangun hubungan saya pribadi dengan staff kedapuran di pondok serta belajar bersosialisasi. Karena dapur adalah tempat umum yang akan selalu didatangi ustadz, ustadzah, atau santri ikhwan-akhwat untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Selain dapat makanan gratis dari dapur, kadang ustadz juga suka berbaik hati memberi es teh manis atau gorengan untuk menyemangati yang sedang bekerja di dapur.

Tapi saya tetap tidak betah lama-lama di dapur sih, apalagi kalau makanannya sudah habis.


 

Komentar

Paling Banyak Diminati