Sekaliber Kakak Pengurus Yang Tidur Saat Nyemprot Santri Ba'da Shubuh
Dari segala kesalahan dan ketidaksempurnaan seorang manusia, saya di pondok amat berusaha untuk menjadi kakak kelas yang bisa diteladani dan tidak memberikan contoh buruk yang akan menurunkan derajat dan respek.
Bersikap sempurna, seakan saya adalah santri teladan juga bukan hal yang saya inginkan. Logikanya, tak perlu set standar yang tinggi dengan perfeksionisme; nol keterlambatan selama 6 tahun mondok, selalu berbicara inggris dan arab di hari bahasa sampai mengigau atau beragam alasan sejenis. Selagi kita mengusahakan yang maksimal dan terbaik dari diri kita, kita tidak akan menjadi contoh yang buruk lagi tercela.
Ya.. yang manusiawi-manusiawi aja lah.
Menjadi mudabbirah atau pengurus santri adalah takdir yang saya jalani dengan cukup banyak hambatan, hati yang berat dan frustasi karena tuntutan membimbing anak orang lain yang beragam karakternya. Meski begitu, saya tetap menikmati. Hanya saja, karena figur yang saya bawa adalah "pembimbing", kerap dengan itu seakan dunia tidak mengizinkan saya untuk berbuat kesalahan atau setidaknya menjadi sedikit lebih manusiawi dengan banyak bercanda dan tidur seharian.
Dari segala upaya menjadi contoh yang baik, satu hal fatal yang cukup sering saya lakukan ketika menjabat menjadi mudabbirah adalah; tidur saat menyemprot santri ba'da shubuh.
Serius. Mudabbirah diminta membantu kakak pengurus lain untuk berdiri memegang semprotan dan menyemprot santri yang tidur setelah shalat shubuh. Yang disemprot nanti harus berdiri sampai waktu tilawah pagi selesai.
Dan saya yang notabenenya penyemprot malah tidur.
Gimana caranya? Saya tidur sambil berdiri dan agak bersandar ke dinding sambil menahan tangan yang memegang semprotan ke arah santri. Pernah satu waktu saya tidak dapat giliran berdiri dekat dinding, jadi saya bertumpu pada sutrah yang diletakkan di sisi dinding lainnya.
Saya pun oleng, sutrahnya hampir jatuh menimpa santri dan semprotan di tangan saya jatuh berdebam ke lantai. Dampak baiknya; semua orang bangun karena keributan tersebut, tidak ada yang berani tidur lagi, tapi yang jelas dampak buruknya lebih banyak; saya dicemooh, dipanggil oleh musyrifah dan terkena omelan dan teguran mudabbirah lainnya. Karena sikap itu merusak citra mudabbirah yang harusnya menjadi kakak kelas yang diandalkan dan teladan.
Ditambah badan saya ini tinggi-besar, jadi sedikit keributan itu sudah cukup mengundang perhatian.
Kalau adik kelas saya sudah membicarakan hal ini, saya hanya bisa tersenyum pahit sambil menerima ghibahan mereka. Toh, pada kenyataannya saya memang lalai waktu itu. Mereka bilang saya mudabbirah yang aneh, nggak bisa jadi contoh kalau shubuh di mushalla dan lain sebagainya. Ya saya terima.
Musyrifah memanggil dan memberi sanksi serta teguran keras yang membuat di kesempatan saya menyemprot selanjutnya malah saya yang juga ikut dijaga oleh mereka agar tidak tidur. Saya terima, karena memang konsekuensinya begitu.
Saya juga senantiasa berpesan kepada adik-adik kelas saya yang akan menjadi mudabbirah untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Berharap dan mendo'akan agar mereka berkali-kali lipat lebih baik dan tanggungjawab dibanding saya.
Kenapa saya bisa sampai segitunya?
Menjadi sosok yang mengurus orang lain adalah kegiatan yang amat memakan banyak energi fisik dan pikiran saya. Bukan berarti saya stres akut dan gila sampai mau membakar atau keluar pondok, nggak segitunya. Tapi, energi untuk menghadapi status baru dan kehidupan baru di tahun keempat menyita banyak energi saya, padahal masih banyak yang harus saya lakukan; memahami materi pelajaran yang semakin berat, mengulang hafalan yang semakin banyak dan lain-lainnya.
Saya berharap saya kuat dan mampu menjalani itu semua dengan baik, tapi kenyataannya tidak meskipun saya sudah memaksakan diri sampai titik batas saya. Alhasil beginilah; tidur saat menyemprot.
Kok tetap dapat kesempatan nyemprot sih? Padahal nggak becus karena ngantuk.
Justru musyrifah meminta saya untuk dipersering menjadi petugas nyemprot agar saya tetap "melek".
"Berdiri aja kamu tidur, gimana duduk?" Itu salah satu teguran keras yang paling saya ingat. Saya menerimanya dengan sepenuh hati meski saat bertugas pun masih tetap mengantuk. Malahan adik kelas suka memasang wajah nantangin saat saya bertugas, wajah meledek yang seakan ber-subtitle seperti ini: "emang kak Oi bisa nyemprot kita? Orang dianya yang tidur, yeu.."
Di beberapa kesempatan, karena saya suka jengkel berat, saya yang berusaha tetap berdiri tegar itu menyemprot wajah meledek mereka dengan kesadaran penuh, lalu menggoyang-goyangnya telunjuk ke atas, menyuruh mereka berdiri. Seringnya mereka-mereka itu juga mengantuk, tapi saat saya mengangkat semprotan mereka tiba-tiba duduk tegak dan membaca do'a setelah shalat lantang-lantang.
Kalau dibiarin gitu aja, nanti mereka makin ngelunjak ke saya, yeu.. Saya semprot lah. Biasanya setelah mereka berdiri, kami akan tatap-tatapan judes dan saya memasang wajah bangga karena sudah membuat mereka sungut-sungut. Padahal mereka juga mengantuk. Kalau mengantuk tuh ya berusaha sadar dan tegak dong, jangan malah meledek penyemprot (ya memang suka tidur sambil berdiri tapi kan ini lagi proses perbaikan diri, woy). Saya nggak bisa membiarkan hal ngeselin ini terus terjadi dan menindas saya.
Pernah juga di satu kesempatan, saya buat mukena bagian kepala satu santri basah kuyup karena dia suka ghibahin saya di asrama bersama teman-temannya, tapi jadi yang paling ngantukan di mushalla.
Kalau boleh siram seember ya saya siram, deh. Haha.
Ya, ke depannya memang banyaknya air di botol semprotan itu habis untuk menyemprot wajah saya yang masih suka mengantuk berat. Tapi alhamdulillahnya, teguran dan sesi bertemu dengan musyrifah tiap pekan berkurang. Saya cukup senang dengan perkembangan ini, karena menahan rasa kantuk dengan amanah menjadi petugas nyemprot juga menuntut saya untuk menata pikiran dan prioritas, agar tidak overthinking dan overwhelmed hingga mengacaukan hari-hari dan reputasi saya, nama mudabbirah dan angkatan saya khususnya.
Happy ending ini membuat saya agak lupa, bahwa perjalanan mondok ini tidak berhenti di fase nyemprot.
Hingga satu hari di tahun kelima mondok, saya dipanggil ke kamar kakak kelas dan tiba-tiba dia berkata; "mulai hari ini kamu jadi partner aku, ya. Tugas kamu di divisi keamanan ini bangunin santri tiap tahajjud jam setengah 4 dan jam 2 pagi untuk yang piket dapur."
Saya menganga kaget. Banget. Banget.
Ya kalau menahan kantuk saat nyemprot mudah-mudah aja dan bisa minta tolong orang untuk memastikan aku tetap bangun. Tapi kalau jadi orang yang tugasnya bangunin orang tidur malem dan banguninnya jam 2 tuh gimana woy?
Saya duduk lemas dengan senyum hambar di depan wajah kakak kelas saya itu. Dia menepuk pundak saya dan berkata dengan nada bijak;
"Semangat, Oi. Nggak akan ada malam-malam yang tenang lagi."

fase ini penuh dgn dumelan: "ya Allah ini apaan sieh??!"
BalasHapus