Aku Ketika Anak Binaan Susah Bangun Tahajjud
Hambatan mutlak ketika kita sudah dilantik menjadi mudabbir atau pengurus santri, apalagi santri baru, selain menangani mereka yang menangis karena homesick, ialah membangunkan mereka di waktu tahajjud. Ada yang susah, ada yang mudah. Tapi kalau di pengalaman saya, sebagian besar alhamdulillah mudah, tapi ada satu-dua yang susah banget.
Ya jadi kondisi saya; dapat yang mudah banget dan susah banget.
Saya bersyukur, saat menjadi mudabbirah di tahun keempat mondok, saya berdua dengan salah satu teman saya. Karena santri yang kami pegang ada total 11 orang dan tinggal di satu kamar. Saya bukan orang yang susah bangun tahajjud, tapi tidak segampang itu juga. Tekanan menjadi mudabbirah cukup membuat saya mudah bangun tahajjud atau bahkan satu-dua jam lebih awal untuk urusan lain.
Biasanya, teman saya yang membangunkan kesebelasan itu sudah cukup. Tapi ada satu waktu di mana ada anak yang "menolak" bangun. Dia bukan pelor, tapi waktu itu tengah homesick, jadi ia lampiaskan ke tidur terus-menerus hingga kerap mepet shalat dan kelas. Hal ini tidak cukup ditangani sendiri oleh teman saya, maka akhirnya saya dipinta turun tangan.
Kenapa saya baru akhir-akhir turun tangannya?
Ini sudah menjadi kesepakatan bersama dengan teman saya itu, terutama soal membangunkan anak-anak tahajjud. Saya bukan orang yang sabar mengelus-elus dan mengajak dengan lembut agar mereka bangun. Logika saya, yang perlu dibangunkan agar tidak telat tahajjud dan dihukum kan mereka, jadi sudah seharusnya mereka full effort untuk berusaha bangun saat kami menggedor pintu kamar dan menyalakan lampu sambil memanggil nama mereka beberapa kali.
Lagipula, waktu terbatas. Menghampiri satu persatu anak dan membangunkan mereka dengan lembut dan hati-hati buat saya buang-buang waktu dan tidak mendidik mereka sebagaimana seharusnya.
Kala itu, semua kasur sudah disusun dengan rapi dan sepuluh orang lainnya sudah siap ke mushalla. Hanya satu anak ini yang masih bergelung di balik selimut.
Sudah ada kesepakatan bahwa mudabbirah boleh menegur keras setelah si anak tidak bisa mendengarkan saat ditegur lembut.
"Bangun," titah saya singkat, padat dan jelas. Nada bicara waktu itu juga cukup dingin dan lirikan mata saya ke anak yang masih tersisa di kamar cukup membuat mereka paham bahwa mereka harus cepat-cepat shalat tahajjud ke mushalla.
Tidak ada respon dari si anak yang masih tidur.
"Bangun. 15 menit lagi jam 4, keburu telat." Saya dan dia akan dihukum juga kalau telat. Jadi, membayangkan saya terlambat hanya karena alasan sepele ini dan juga bukan karena salah saya, itu sangat menjengkelkan.
Ya, maklumlah masih suka emosian waktu itu.
Sekarang? Nggak sesabar itu juga, sih.
Saya bukan tipikal yang suka menjelaskan hal-hal yang sudah seharusnya orang lain bisa cerna dan pikirkan dengan akal sehat mereka apakah sesuatu itu harus dilakukan apa tidak. Jadi, bagian menjelaskan yang "menjengkelkan" bagi saya itu ya saya serahkan pada teman saya.
Alhamdulillah dia suka hati dan rela melakukannya.
"Aku nggak perlu kasitau kamu lagi kenapa kamu harus diginiin," ujar saya sambil menyibak selimutnya. "Bangun, siap-siap. Sekarang." Ucap saya tanpa nada penuh pengertian sama sekali. Karena orang yang sudah diberitahu 3x dengan pelan-pelan buat saya tidak pantas diperlakukan lembut atau sebaik sebelumnya.
Kalau menurut orang lain salah, ya ini gaya saya, dan saya ada alasan sampai bertindak seperti ini. Kalau begitu, lebih baik orang lain yang bangunkan dia dan tanggungjawab atas hal ini. Begitulah pikiran bersikeras saya waktu itu.
Tak tahan lagi, saya tarik dia sampai ke posisi duduk. Ia malah memaksakan dirinya untuk tidur lagi. Karena sudah sangat begitu emosi sekali, saya tarik dia ke depan pintu kamar.
Waktu menunjukkan sisa 7 menit lagi sebelum pukul 4 tepat.
Saya lebih memilih diam daripada mengeluarkan sumpah serapah dan kalimat tidak pantas untuk anak ini. Di saat yang sama saya peduli dan sayang juga kesal dengan dia. Tanpa mengetahui alasan dia begini, saya paksa dia berdiri dan bersiap-siap. Saya siapkan mukena dan barang yang diperlukan di pintu asrama agar tidak perlu bolak-balik.
Ia tetap menahan badannya. Tidak mau bergerak sama sekali. Diam tak mengatakan apapun.
Saya menghela nafas frustasi. Waktu menunjukkan 5 menit lagi kami akan terlambat. Sedangkan saya pribadi selalu mematokkan diri untuk datang 10 menit sebelum waktu keterlambatan. Jadi, momen ini melukai jiwa berusaha disiplin yang ingin saya kembangkan dan rencana detail yang sudah saya susun semalaman.
Tapi saya tahu, marah padanya tidak akan menyelesaikan masalah. Intinya kali ini adalah; kami harus ke mushalla sebelum jam keterlambatan. Biasanya, kalau sudah begini saya akan tinggalkan orang yang sudah sangat menyusahkan ini. Tapi, kali ini ia adalah tanggungjawab saya, saya tinggalkan pun saya juga yang kena omel dan dia akan tetap terlambat karena tidak ada yang menyuruhnya cepat.
Kamar saya ada di lantai atas, jadi dengan menahan amarah dan muka bapuk, saya mendorongnya turun tangga. Kesandung beberapa kali saya tidak peduli sama sekali, dia kesakitan dan pusing karena habis bangun saya juga tidak menggubris. Membawanya ke depan keran wudhu, menyuruhnya wudhu, segera menariknya ke depan asrama dan berangkat ke mushalla dengan wajah kami berdua yang badmood padahal tahajjud ini saya niatnya ingin datang awal ke mushalla.
Kami pun terlambat. 2 menit. Tapi itu cukup membuat saya naik pitam dan beberapa kali berkeinginan untuk menghukum anak ini habis-habisan karena ia mencoret daftar keterlambatan saya yang tadinya bersih, jadi ada satu tanda. Buat apa saya seret-seret dia ke pintu kamar kalau ujung-ujungnya telat gini?
Begitulah kelibat pikiran saya yang emosi waktu itu.
Apakah sampai situ saja? Tidak.
Tugas saya bertambah; si anak ini malah tidur di mushalla, literally rebahan, tidak membaca al-Qur'an untuk melek dan melakukan usaha apapun untuk melek. Ketika iqamah pun dia tidak mau berwudhu karena malas. Shalat pun saya yakin tidak sah karena dia oleng beberapa kali.
Saya benar-benar marah. Tapi hanya bisa diam.
Beberapa waktu berlalu. Saya pun mengetahui dia hari itu tengah homesick dan tidak bisa mengontrol diri, makanya oversleep. Meski demikian, saat dipinta teman saya untuk menghadap saya sebagai mudabbirah-nya dan menjernihkan situasi. Karena dia sudah tahu karakter dan apa yang akan saya titahkan padanya; dia duduk di hadapan saya dengan pundak turun dan wajah pasrah.
"Jelasin yang bener. Aku mau yang jelas, bukan sambil nunduk dan kecil suaranya." Ujar saya sambil menyuap nasi. Kami tengah makan siang waktu itu.
Meski sambil takut-takut, dan saya juga masih kesal atas sikapnya itu, dia menjelaskan kondisinya beberapa hari terakhir dengan baik dan jelas. Saya mengangguk paham dan mengerti, tapi tetap bisa menoleransi kelalailan dia hanya karena alasan sepele yang harusnya bisa dikelola dengan lebih baik.
"Nah, gini. Kalau ngomong dan menjelaskan itu tegak badannya, yang jelas. Terima semua konsekuensi atas perbuatan kamu," ujar saya bangga setelah melihat dia bisa menjelaskan dengan cukup lancar, "tapi sanksi tetap ada." Bukan berarti saya apresiasi dia tidak mendapatkan sanksi, enak aja kalau nggak dapet, yeu.
"Mudabbir lain nggak gitu, nggak kayak kak Oi. Kalau udah clear ya udah selesai, hukuman nggak ada." Beberapa kali saya mendengar ini dari mulut anak binaan saya. Di beberapa kesempatan saya mendengarnya, saya menatap mereka dan mengatakan;
"Oke. Kalau gitu silakan sama mudabbir itu. Jangan sama aku."
Ya, sekarang saya mengingat itu rasanya waktu itu saya kejam sekali. Tapi, saya bersyukur dengan sikap saya yang dinilai "galak" atau "tidak ada ampun" itu membentuk mental dan pribadi yang kuat pada diri mereka dalam beberapa tahun ke depannya. Mereka juga memahami dan menerima sikap saya yang itu.
Meski saya hanya satu tahun jadi mudabbirah mereka dan sekarang sudah lulus, saya kerap memantau perkembangan mereka, masalah apa yang bisa saya bantu berikan solusi serta mengapresiasi pencapaian mereka dengan memberi hadiah atau traktiran. Ya karena saya bangga dengan mereka. Meski masa-masa menempa mental mereka dulu, termasuk mental saya menjadi mudabbirah yang baik waktu itu belum optimal dan sempurna.
Tapi, ini selalu baik untuk dikenang sebagai kisah masa lalu dan pelajaran yang tidak hanya membuat si anak tahu apa yang membuat mudabbirah lelah dan apa kesalahan dari mudabbirah yang membuat si anak tidak ingin menuruti ucapannya.
Selalu ada pelajaran dan kenangan baik yang bisa didapat.

Komentar
Posting Komentar