Ketika Aku Ngabisin Satu Kilo Nasi Berlauk Kerupuk

Khataman al-Qur'an di pondok kali ini, kami makan ayam kecap, kangkung dan kerupuk bunga warna putih. Setiap kelas memiliki nampannya sendiri untuk makan bersama. Karena saya sekelas hanya bertiga, maka satu nampan bisa dengan kelas lainnya yang anggotanya sedikit juga. 

Total anggota yang makan di nampan saya 6 orang. Waktu itu saya menduduki jenjang ATCO 1 (kelas 2 SMA), makan bersama dengan kelas PRISTAC Matrikulasi (kelas 1 SMA) yang sekelas juga hanya 3 orang. Kami makan dengan penuh khidmat. Nampan kami tidak terlalu besar, ukurannya setengah dari nampan yang digunakan untuk 16 orang, tidak seperti kelas lainnya. 

Sebenarnya khataman al-Qur'an buat saya tidak begitu spesial. Bukan berarti saya menyepelekan kalam Allah, tapi dari segi acara/selebrasi khataman ya... makan-makan. Itu pun sekalian makan malam, jadi tidak se-spesial itu kalau saya lagi tidak terlalu lapar. 

Dan juga, karena orang-orang hanya sibuk makan, jadi tidak ada obrolan yang berarti di tengah makan. Hiruk pikuk dan desak-desakan orang yang ingin mencuci nampan dan mencuci tangan membuat suasana hectic dan akhirnya saya lelah sendiri. 

Ditambah, kalau acara-acara begini, suasananya agak tidak nyaman karena ada aura negatif dari beberapa pihak yang sudah "bekerja keras sendirian" di dapur. Ya... tim dapur dan antek-anteknya. Yang namanya cewek, kalau sudah capek kan jadinya misuh-misuh. Makan terpisah sendiri. Meski tidak bermaksud menatap santri lain dengan judes, saya sebagai orang yang sensitif dan mengutamakan keharmonisan sesama tidak nyaman dengan sikap yang menunjukkan; "aku udah kerja masak seharian demi kalian makan, tuh!" 

Saya paham betapa lelahnya, terlepas saya juga bukan orang yang dianggap eligible dan cekatan untuk membantu masak di dapur, selelah-lelahnya saya, saya tidak pernah ingin menunjukkan ekspresi lelah yang teramat dan sengaja agar orang iba pada saya. Ya kalau lelah tidur saja, bukannya kalau misuh-misuh malah akan membuang tenaga lagi? Tapi biarlah orang-orang begitu, yang penting saya tidak begitu dan mereka tidak melakukan tindakan yang tidak bisa ditoleransi meskipun sikapnya sudah cukup menghancurkan suasana.

Hingga tiba nampan sudah habis setengah, tapi tidak ada lauk lagi. Tidak ada tambahan atau sisa lauk juga. Hanya tersisa kerupuk putih 5 keping. Lima orang lainnya selain saya sudah begah. Tapi, waktu itu saya lebih curiga mereka tidak mau makan banyak. Karena mereka tahu saya makannya banyak, jadi mereka merasa aman menyisakan setengah nampan nasi putih pada saya.

Ya sama memang makannya banyak, tapi kalau makan setengah nasi putih di ukuran nampan diameter 30 cm sendiri juga klenger. Di sini lah saya menemukan tipikal teman mana yang pengertian ingin membantu, mana yang mau enak sendiri; malah kabur dengan dalih "nanti aku yang beresin lantai dan cuci nampan!".

Yang saya suka dari job menghabiskan makanan ini sih, saya tidak perlu membersihkan lantai dan  mencuci nampan serta buang sampah organik. Karena tindakan saya sudah dinilai cukup berjasa dan tidak menyusahkan dengan memisahkan sampah dan membersihkan minyak dari sisa makanan. Hehe. 

"Kak Oi, yakin bisa habisin?" Saat itu ada 2 adik kelas saya dari kelas PRISTAC Matrikulasi, namanya Shofiya Shakira dan Alifah Salsabila, menatap saya khawatir. Tapi, mereka juga tidak bisa bantu makan. "Ya udah, kita di sini aja temenin kak Oi. Semangat kak! Kalau mau minum pake botol minum aku aja." Ujar Shofi suportif.

Saya tersenyum kecil. Tersentuh dengan kepedulian mereka. Tanpa memedulikan apapun lagi, saya menarik nafas, mengelus perut perlahan, berharap masih ada tempat untuk setengah nampan nasi putih ini. Meski tahu dengan ini gula darah saya akan naik, saya bisa obesitas, saya akan keliyengan sebelum tidur, demi prinsip tidak boleh buang-buang makanan, akan saya HABISKAN TANPA SISA.

Hasilnya memang habis tanpa sisa. 

Ya, sekarang kalian sebagai pembaca boleh memuji kemampuan mengunyah saya dan kapasitas lambung saya yang luar biasa ini. Saya tahu ini hal kecil yang cukup keren, haha. Karena biasanya cewek identik dengan makan yang sedikit demi menjaga berat badan, saya mematahkan stereotipe itu dengan makan banyak dan olahraga banyak besok pagi untuk meneralkan gula darah dan menggunakan energi dan lemak secara bijak. 

Shofi dan Alifah melongo melihat saya menjilat jari sambil tersenyum setelah menghabiskan suapan terakhir. Mereka bertepuk tangan dramatis dan  membukakan botol minum di hadapan saya. Saya menerima tindakan itu sebagai pujian; "wah, kak Oi keren banget".

Ya, saya tahu ini bukan hal yang mudah: makan malam pukul setengah sepuluh, mengabiskan seporsi ayam kecap dan kangkung, makan nasi setengah nampan sendirian. Tapi begitulah yang terjadi, hahay.

Meski ini hanya hiperbolis dari diri saya sendiri, peristiwa sederhana ini sangat membekas di hati saya.

"Kak Oi mah makan banyak juga gak papa, kan tinggi." Kometar Alifah sambil membersihkan lantai.

"Bukan masalah tinggi badan," komentar saya sambil membersihkan mulut yang berminyak dengan tisu, "tapi tanggungjawab. Kalau kamu mau badan kamu tetep ideal, pas udah makan banyak, ya beraktivitaslah yang lebih banyak dari yang kamu makan. Maka kita nggak akan kegemukan." 

Kalau dipikir-pikir, setengah nampan itu setara 1 kg. Dibayangkan sekarang banyak juga. Meski pernah melakukannya, untuk hari ini dan kedepannya, selamanya bahkan; saya nggak mau  mengulangi itu lagi. Meski setelahnya olahraga pun, rasanya tetap tidak sehat dan tidak etis, seperti melakukan hal yang tidak baik. 

 

Komentar

Paling Banyak Diminati