Mempersiapkan Diri (POV dari orang yang semuanya harus di-planning)


 Ini adalah tangkapan layar dari video dokumentasi kegiatan Ramadhan tahun 2021di pondok. Tak perlu diulang, saat penayangan video dokumentasi di akhir acara sebelum santri libur panjang ke rumah, saya langsung panik melihat ada foto saya di situ.

Bukan kenapa-kenapa, masalahnya saya lagi mangap dan ngangkang (ya itu angkat satu kaki, posisi sunnah Rasul kalau makan), rasanya momen itu nggak banget deh dimasukin ke layar lebar yang ditayangkan sepondok. Tapi, anehnya setelah  merasa agak malu, setelah saya tilik lagi saya tidak begitu keberatan dan malu yang sampai tidak mau memutar videonya lagi. Saya nggak jelek-jelek amat di foto itu, ya komuk si iya, tapi nggak yang sampai membuat orang ingin membuat posisi saya itu jadi stiker WhatsApp.

Semoga nggak ada yang buat stiker WA dari ini ya.

Waktu itu saya menduduki jenjang PRISTAC 1 (setara 3 SMP), seingat saya tidak ada momen spesial di Ramadhan tahun itu yang layak dikenang sampai segitunya. Tapi, yang jelas di waktu itu saya dapat gambaran tentang bagaimana kakak PRISTAC 2 menjalankan kegiatan Ramadhan. Karena tahun depan adalah giliran angkatan saya yang menjadi panitia kegiatan Ramadhan, kala itu saya sibuk memerhatikan dengan amat apa saja yang dilakukan kakak kelas saya agar acara Ramadhan berjalan dengan lancar dan semestinya. 

Mau tidak mau, di fase ini saya yang hanya pengamat dari luar (bukan bagian dari angkatan PRISTAC 2 waktu itu meski kami sejenjang). Kamar di asrama kami meski terpisah berdasarkan kelas, tapi itu tidak membuat interaksi kami terbatas. Kami sering berkumpul di teras asrama dan menghabiskan waktu antar kakak-adik kelas lebih dari yang dibayangkan. Jadi, meski saya pengamat luar yang tidak terlalu dekat dengan kakak PRISTAC 2, interaksi dan kejadian yang saya lihat di asrama cukup membantu saya menilai kinerja bagaimana yang harus saya kerahkan di masa saya nanti. 

Meski tidak sepenuhnya akurat, saya kerap mencatat kekurangan dan kelebihan yang saya temui dari hasil mengamati dan ngobrol dengan kakak PRISTAC 2 yang jadi panitia. Perlu diketahui, kadang saya suka mengetahui permasalahan acara yang sepertinya harusnya saya nggak mengetahui ini deh (ya  tapi kalau kakak panitia curhat ke saya tentang masalah di acara ya saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan dengan perasaan tidak enak tapi kepo). Tapi ini bermanfaat agar di masanya saya bisa menangani konflik internal dengan lebih luwes. 

Sebagai anak yang serba harus terencana, saya paling stress dengan yang namanya kerja kelompok berbarengan dengan motto "jalanin aja dulu". Bukan berarti saya tidak bisa bekerja sama, tapi biasanya dalam kelompok/kepanitiaan entah kenapa selalu ada titik-titik/divisi penting yang mengalami permasalahan, yang mana itu merembet ke kestabilan acara. Dengan temperamen plegmatis yang saya miliki, speak up tentang masukan dan kritik ke teman-teman kepanitiaan bukan hal yang mudah. Kalau terus dijalankan dengan prinsip "jalanin aja dulu" ya jalan aja acaranya; nggak usah ada panitia yang mengatur.

Sayangnya, beberapa teman yang melankolis terlalu perfeksionis, yang sanguinis kerap tidak mau banyak berpikir dan akhirnya memilih "terabas aja" tanpa rencana yang matang, yang koleris malah berantem dengan watak keras mereka. Saya pusing banget deh kalau udah kayak gini.

Bukan berarti pengalaman penitia saya selalu buruk. Saya bersyukur bisa melatih kemampuan kerja sama dan memahami perbedaan. Tapi, waktu itu terbatas dan tidak mungkin dipakai untuk menetralkan keadaan terus. Harus ada eksekutor rencana yang sempurna dan bisa menjalin komunikasi yang sehat dengan segala pihak. Ya, sederhananya harus ideal, tapi di dunia yang tidak sempurna ini mustahil mencapai kesempurnaan dan se-idealis itu. 

Hanya saja, kalau polanya terus berulang, saya sebagai orang yang evaluatif dan senantiasa merekap kesalahan dna kekurangan di masa lalu selalu jenuh ketika evaluasi hanya berputar di satu poin yang sama. Meski tidak ada yang sempurna, dengan pribadi saya yang sebegininya, saya senantiasa mengupayakan yang terbaik untuk teman-teman dan divisi saya sendiri. 

Apakah mudah? 

Harusnya mudah. Kalau sesuai dengan rencana yang saya rembukkan. Kenyataannya kerap sulit, tapi tidak selalu.

Bukan berarti saya merasa superior. Hanya saja kalau komunikasi antar tim dan anggota panitia dijalankan dengan kepala dingin dan mediator yang terpercaya, hal yang terjadi tidak akan serumit itu. 

Meski rumit menjelaskannya, saya berharap dan yakin, teman-teman pembaca yang kerap berorganisasi atau mengurus acara paham betapa jenuhnya dengan kesalahan yang selalu diulang-ulang, seakan evaluasi hanya poin yang lewat lalu. 

Terlepas itu semua, saya juga kerap evaluasi diri; apa sikap perfeksionis saya yang membebani teman-teman sehingga jadinya situasi rumit? Apa perhatian saya terhadap detail receh membebani ya? Dan sejenisnya. 

Ini semua bukan tentang evaluasi dan mengingat kesalahan, tapi bagaimana meregulasi energi untuk memperbaiki kesalahan. Sebagaimana kita memperbaiki/mengobati luka. Sedikit sentuhan akan sakit, tapi itu bermanfaat untuk ke depannya, meski situasi tentu tidak akan sama dengan sebelum ada luka itu.

Sedikit berantem saat diskusi memang melelahkan hati, memutar otak dan menyusun jadwal acara, menjalaninya di hari-H disertai rombakan dadakan memang menjengkelkan. Tapi, jika kita bisa memilah energi untuk evaluasi dan melaksanakan hasil evaluasi semaksimalnya, tidak akan terjadi kekacauan sebesar ini di kepanitiaan selanjutnya. 

Begitulah yang saya pikirkan selama makan waktu itu hingga terlelap di kamar. 


Komentar

Paling Banyak Diminati