Alasan Santri Tidak Akan Malnutrisi
![]() |
| Ilustrasi santri |
Isu gizi santri di pondok pesantren sering jadi kekhawatiran orang tua. Gambaran santri kurus, makan seadanya, dan jadwal padat kadang langsung diasosiasikan dengan malnutrisi. Padahal, kalau dilihat dengan kacamata yang lebih jernih, kekhawatiran itu sering kali berlebihan.
1. Pola Makan Santri Itu Teratur, Bukan Asal-asalan
Di pondok, santri makan rutin dan terjadwal. Pagi, siang, dan malam tetap ada waktu makan, meski menunya sederhana. Ini justru lebih baik dibanding banyak anak di luar pesantren yang sering telat makan, skip sarapan, atau kebanyakan jajan instan. Keteraturan makan adalah fondasi penting dalam menjaga gizi.
2. Aktivitas Fisik Membuat Nutrisi Terserap Lebih Optimal
Santri banyak bergerak: jalan kaki antar kelas, bersih-bersih, olahraga, dan aktivitas harian lain. Tubuh yang aktif lebih efisien memanfaatkan makanan yang masuk. Kurus tidak selalu berarti kekurangan gizi; sering kali itu tanda tubuh sehat, aktif, dan tidak kelebihan kalori.
3. Lingkungan Pondok Mengajarkan Kesederhanaan yang Sehat
Makanan pondok memang jarang mewah, tapi cukup dan mengenyangkan. Nasi, sayur, lauk, dan air minum bersih adalah menu dasar yang konsisten. Justru pola ini menjauhkan santri dari konsumsi berlebihan gula, minuman manis, dan junk food yang sering jadi penyebab masalah gizi modern.
4. Santri Tidak Sendirian, Ada Pengawasan
Jika ada santri yang benar-benar terlihat lemas, sakit, atau turun berat badan drastis, biasanya langsung diperhatikan oleh pengurus atau ustaz. Pondok bukan tempat anak dibiarkan begitu saja. Budaya saling peduli membuat masalah kesehatan cepat terlihat.
Berkembangnya zaman dan konsep pesantren juga diikuti dengan kesadaran lebih terhadap gizi santri. Penetapan menu protein yang layak, kebutuhan serat yang cukup tetap digalakkan. Kalaupun ada dalih;
Ini makannya berkah kok, bekas ustadz/kiai
Ini namanya bukan malnutrisi, tapi zuhud
Pernyataan itu bukan langkah bijak yang bisa dibenarkan. Islam mengajarkan keseimbangan antar duniawi dan ukhrawi. Sederhananya, kalau bisa diusahakan mengolah menu yang cukup gizi kenapa harus repot-repot menggunakan dalih barakah ustadz sebagai alasan memberi santri makanan yang tidak layak? Seorang pengurus pondok yang beradab, paham amanahnya tidak akan main-main dengan hal-hal yang menyinggung adab dan nama Islam seperti ini.
Santri boleh hidup sederhana, tapi bukan berarti kekurangan. Pondok mendidik tubuh untuk cukup, jiwa untuk kuat, dan pikiran untuk fokus. Selama makan teratur, aktivitas seimbang, dan ada pengawasan, kekhawatiran tentang malnutrisi di pondok sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.


Komentar
Posting Komentar