Hanya Mencuci Kaus Kaki

sumber: pinterest

Sebagai santriwati yang sibuk berkegiatan di pondok, kaus kaki adalah item fashion terpenting yang sederajat dengan jilbab. Selain agar tidak masuk mahkamah/dihukum, lingkungan pondok saya yang tidak terlalu luas dan hal itu menambah faktor sering bertemunya dengan santri ikhwan memperkuat urgensi penggunaan barang ini. Menggunakannya bukan hanya kewajiban, tapi zirah pelindung aurat dari tatapan yang bukan mahram

Paling ngeselin (selain pakai keinjek genangan air dan gerah kalau dipakai seharian apalagi pas olahraga) dalam penggunaan ini adalah ketika melihat tidak ada lagi stok bersih yang bisa dipakai di lemari, sedangkan ada belasan pasang kaus kaki kotor yang belum dicuci dan saya sebagai santriwati waktu itu ingin leyeh-leyeh dan tidur siang di kamar. Situasi ini tidak bisa dihindari dan bertambah parah ketika musim hujan. Serta tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk mencucinya dengan sepenuh hati dan layak kalau bukan kita sendiri sebagai pemakainya.

Tapi, saya sering juga sih cuci alakadar yang penting kerasa bersih dan sudah direndem deterjen, haha. 

Kaus Kaki dan Menjaga Kesehatan Mental Selama Mondok

Melewati hidup yang padat dengan kegiatan di pondok, disertai tekanan yang bertambah menjelang kelulusan a.k.a tahun ke-6 atau tahun terakhir bukanlah hal yang mudah. Saya sudah memikirkan dan mempertimbangkan itu bertahun-tahun sebelum memutuskan untuk daftar SMP dan SMA di pesantren yang sama. Yang paling terasa saat sudah menduduki jenjang senior (tahun ke-5 dan 6 terutama) adalah individualitas setiap orang yang meningkat. Umur 18-19 saat kami lulus bukanlah menjalani hidup yang sekedar jalan saja. Banyaknya pikiran yang berkelebat membuat mengobrol satu sama lain kadang bukan solusi yang tepat dan melegakan. Jadi, menyendiri dan menyelesaikan rutinitas wajib seperti mencuci baju adalah obat yang cukup ampuh. Setidaknya tidak terlalu pusing dengan hidup ke depannya. 

Kenapa fokus ke kaus kaki?

Mencuci adalah kegiatan yang membutuhkan energi yang cukup banyak. Belum lagi di pondok saya dulu kerap kehabisan air dan menunggu toren air terisi, keran menyala dengan deras, bisa menampung air, menyikat baju; semua itu tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan kewajiban belajar saya hari itu. Karena itulah, mencuci baju dan jilbab, rok dan gamis saja sudah ekstra energi. Apalagi kaus kaki yang semua bagiannya harus disikat dan direndam pewangi sampai bau kakinya hilang. Itu hal yang amat melelahkan dan kami sebagai santriwati mencuci banyak pasang kaus kaki.

Banyak emosi terpendam yang belum tersalurkan terekspresikan dengan baik saat dan setelah mencuci kaus kaki. Meski tidak tahu kenapa, bagaimana menjelaskannya, apalagi mencari referensi ilmiah atas hal ini sebagai bahan penelitian, dari proses mengucek dan menyikat kaus kaki dengan keras hingga bersih ini membuat kata-kata tidak pantas yang bisa keluar dari mulut saya saat kesal dan murka tertahan.

Pikiran saya lebih tertata. Emosi tersalurkan dengan cara yang baik dan tidak merepotkan hingga merugikan orang lain. Saya juga tidak jadi menunda-nunda pekerjaan, justru beban kerja berkurang karena tanpa sadar tumpukan kaus kaki yang sulit dicuci itu sudah bersih seiring saya menerawang emosi dan pikiran. Dari sini saya merasa bahwa selagi segalanya dijalankan sesuai prosedur dan sebagaimana mestinya; sebagaimana belasan tumpuk kaus kaki kotor-bau-menjijikkan-lembap yang awalnya saya amat tidak selera melihatnya tapi saya terpaksa mencucinya karena saya butuh, maka tidak akan ada beban emosi yang begitu berarti. 

Meski tidak sepenuhnya sembuh dari emosi yang dipendam, tapi setidaknya saya mendapatkan manfaat yang lebih banyak daripada mudharat yang ditakutkan. Apapun itu, dengan iman, prinsip, ilmu dan kepercayaan saya dan orang tua dengan diri saya pula membuat saya berusaha untuk terus berjalan, meski tertatih, meski tak ada privilege seperti kebanyakan orang, memaksimalkan apa yang saya punya dan bisa saya lakukan. 

Setidaknya, kalau impian besar itu tidak dapat diwujudkan dalam waktu dekat, masalah dan tantangan kecil yang membuat langkah saya berat terangkat pelan-pelan. Seperti mencuci kaus kaki ini. 

Komentar

Paling Banyak Diminati