Pelajaran Bodo amat dari dr. Tirta

sumber: youtube.com

"Tujuannya tuh ekosistem. Kalau bisa menghasilkan konten berkualitas dengan iPhone 11 kenapa harus beli iPhone 15?" ungkap dokter yang terkenal dengan marah-marahnya ini di video kanal YouTube-nya. Dengan durasi video kurang dari 20 menit, celotehnya berisi gagasan padat dengan contoh yang ngena mengenai bersikap bodo amat. Hal tersebut diperjelas juga dengan melihat prioritas dan kebutuhan kita mengambil sikap. "Maksud bodo amat di sini tuh ya selektif. Kita bodo amat terhadap hal negatif yang banyaknya gak bermanfaat buat kita." 

Sudah 6 tahun berlalu saya mengikuti perkembangan konten dari dr. Tirta ini. Meski tidak semua video ditonton   minat saya lebih di edukasi kesehatan berupa konten beliau menjawab pertanyaan ketimbang insight seperti ini    serta dicermati, saya tiba-tiba ingin mengetahui bagaimana gagasan menjadi bodo amat dari beliau saat melihat video ini di beranda. Hasilnya pun benar sesuai dugaan; nyablak, terang-terangan, agak kasar (tapi masih yang relevan dan bisa diterima asal kita bisa memilih kata yang bisa ditoleransi mana yang tidak) tapi sangat entertain buat saya pribadi yang memang lebih suka gaya ngomong terang-terangan. 

Satu statement seperti dr. Tirta yang mana selalu saya dapatkan dari orang-orang bermental baja adalah; benar-benar fokus pada diri sendiri. Saya rasa juga tidak berlebihan menyebut 'harus agak NPD' dan egois dengan bersikap bodo amat itu. Karena perjalanan mencapai impian besar menumbuhkan jiwa ambisi yang membara demi membuktikan diri. Seringkali orang di sekitar kita termasuk sahabat terdekat dan keluarga merasa kita terlalu berlebihan dan bodo amat. Meski terkadang terlalu ambisius membuat kita terlalu menyiksa diri, tapi sikap bodo amat yang dijalani selama mengejar impian itu menghasilkan luka sekaligus mewujudkan tujuan perlahan tapi pasti. 

Maka, prioritas dalam menentukan kapan kita 'gas' dan menjadi ambisius, kapan kita istirahat sejenak, kapan kita 'mengobati luka' yang diabaikan itu penting. Selain selektif, menjadi bodo amat juga membutuhkan perkiraan waktu, karena tidak selamanya kita bisa begitu. Yang jelas, kalau memang kita mampu menanggung resiko dari bodo amat (dijauhi orang, dianggap terlalu serius, tertinggal, dkk) maka lakukan. Karena pada akhirnya ini semua bukan tentang sikap bodo amat-nya, tapi menghindari penyelasan mendalam karena terlalu peduli pada hal-hal negatif yang menguras energi kita.

Komentar

Paling Banyak Diminati