Lika-liku Belajar Kitab "Kuning": I'rab
Saya tidak akan pernah bisa lupa momen saat memilih pondok yang akan menjadi tempat pendidikan berikutnya selama SMP-SMA. Ayah saya menyebut dan menyarankan pondok (yang akhirnya benar-benar saya tempati hingga lulus *emot terharu) ini dengan embel-embel; "biar bisa baca kitab kuning, kak. Kakak kan mau bisa ngajar ulumuddin, ya harus bisa bahasa arab dan baca arab gundul dong. Oke?"
Atas kehendak Allah SWT yang menggerakkan hati dan mulut saya untuk setuju dengan kalimat ayah tersebut, serta menggerakkan kedua hati orang tua saya untuk ridha saya "hilang" dari rumah selama 6 tahun (nggak se-kehilangan itu sih ya, rumah dan pondok saya jaraknya hanya 900 m, tapi pasti ada yang beda karena saya tidak setiap hari di rumah lagi). Hingga detik ini saya mengetik dan kilas balik masa itu, perasaan saya... biasa aja si. Buat nostalgia aja.
Apakah saya sekarang sudah bisa baca kitab kuning? Ya bisa lah. Baca mah baca aja. Setidaknya, meski tidak sempurna, saya bisa cukup percaya diri hanya untuk membaca. Kalau mengartikan... jujur... kapan-kapan aja deh dibahas. Yang jelas saya mencapai bare minimum standar baca kitab, so dengannya saya bisa lulus. Alhamdulillah.
I'rab
Belajar kitab kuning tidak sesulit itu, tapi dalam praktek nyata di pengalaman saya entah kenapa saya cukup tergopoh-gopoh atau terseok-seok. Terlebih dalam hal; i'rab.
Sederhananya, i'rab itu menentukan kedudukan kalimat. Kalau di bahasa Indonesia, kita mencari SPOK-nya. Mana yang subjek, objek, keterangan dan sebagainya (sebenarnya di semua bahasa sih saya terseok-seok ya dalam tata bahasanya). Dan itu tidak sederhana, karena dalam bahasa arab perubahan kata ada banyak sekali dan ada juga yang namanya harakat.
Jadi, tidak sesederhana kalimat: 'Nita makan daging di warteg' =
Nita adalah subjek, makan adalah predikat, daging adalah objek dan warteg adalah keterangan.
Bahasa arab daging adalah lahmun (لحم ), harakat akhirnya fathah, kasrah atau dhammah? Lahman, lahmin atau lahmun?
Setelahnya kita harus memberi alasan kenapa dia berharakat (misal) dhammah, apakah karena kedudukannya sebagai fa'il/pelaku? Atau dia badal? Atau dia 'athaf? Atau dia na'at? Pokoknya nanti ada rincian lengkapnya di kitab nahwu, kitab yang menjelaskan tentang bagaimana menentukan harakat akhir tiap kata dalam bahasa arab.
Jadi, kalau baca kitab dengan i'rabnya, jadinya kayak nge-rap (kalau lancar, biasanya sih banyak diemnya, haha).
Misal, "telah datang Ali ke masjid"
جاء علي إلى المسجد = jaa a 'aliyyun ila al-masjidi
Kenapa "jaa a?": karena dia sebagai fi'il atau kata kerja. Kenapa "'aliyyun"? Karena ia sebagai fa'il atau pelaku (jadi kita ngomong "jaa a"/telah datang... ya siapa? Oh, si "'aliyyun/Ali" gitu). Kenapa "al-masjidi"? Karena dia jadi majrur, didahului oleh huruf jar berupa "ila" di belakangnya. Kok huruf jar-nya pakai "ila"? Bukan yang lain? Nah pokoknya ada penjelasan sendiri.
Duh, kok saya jelasin gini dengan tulisan jadi puyeng juga ya? Ya pokoknya begitu.
Jadi salah satu contoh lengkap kita meng-i'rab itu, kita ambil kalimat علي di atas ya, kan bacanya "'aliyyun", nanti omongin i'rabnya:
Faa'ilun marfuu'un wa'alaamatu raf'ihi dhammatun dzaahiratun fii aakhirihi
Artinya: Fa'il yang marfu' dan alamat/tanda rafa'-nya berupa dhammah yang terlihat di akhirnya (ya karena nanti ada dhammah yang tersembunyi).
Begitulah.
Sangat Worth It!
Hanya ini yang bisa saya jelaskan dengan pede. Hehe. Apapun itu, sangat amat worth it kok belajar bahasa arab, membaca kitab kuning dan embel-embelnya karena sambil kita bersusah payah, di situ banyak pahala dan nanti ketika sudah paham nanti kebahagiannya tiada tara.
Sukses selalu untuk semua santri yang sedang berjuang di luar sana terutama di belajar bahasa arab. Ke depannya, susah memelajari bahasa bukan berarti kita bodoh, tapi tanda kalau kita bisa lebih berjuang lagi untuk mencapai pemahaman yang diinginkan. Insya Allah.

Komentar
Posting Komentar