Jemuran Sebagai Saksi Bisu Perjuangan
Hari itu saya tengah memperhatikan salah satu anak binaan yang sedang struggling dengan remedial pelajaran bahasa arab. Waktu itu adalah hari terakhir dari pekan ujian, tapi beberapa pelajaran sudah ditentukan siapa yang lulus dan remedial. Saya tidak tahu harus bagaimana sebenarnya, anak binaan ini memang cukup bermasalah dalam mata pelajaran tersebut dan di saat yang sama saya tidak bisa mengajarkannya karena akan canggung, saya juga tidak memiliki nilai bagus di bahasa arab. Kali ini adalah ujian akhir semester sekaligus kenaikan jenjang, jadi dia lebih gugup dan takut tidak bisa lulus.
Seharian itu dia misuh-misuh dengan temannya, bolak balik ruangan guru, ya... buat remedialnya itu. Berkali-kali ia ujian ulang tapi tetap tidak memenuhi standar. Dan saya hanya bisa mengamati dan mendo'akannya dari jauh, berharap teman dekatnya yang selalu menunggunya selesai ujian bisa membersamainya hingga semangat dan lulus. Bukannya saya tidak peduli, saya juga bingung dan frustasi karena hanya menjadi pengamat, padahal anak binaan adalah tanggung jawab saya. Saya hanya bisa menepuk pundaknya semangat sambil berempati dan memberinya beberapa afirmasi, yang nampaknya itu nggak berpengaruh sama sekali untuknya.
Saya kira, di penghujung hari semua akan membaik. Setelah makan malam, tepatnya pukul 20.00 WIB, saat saya akan mencuci piring yang mana itu dekat denga jemuran pojok. Saya melihat ia duduk sendirian, di bawah lampu yang remang-remang. Sangat terlihat bahwa ia sangat sedih. Saya memandangi punggungnya bingung, maju-mundur ingin menghiburnya tapi kami tidak terlalu dekat untuk bisa begitu. Jadi saya memutuskan ke kamar untuk meletakkan piring terlebih dahulu dan kembali ke dekat jemuran untuk melihat kondisinya lagi.
Saat sudah sampai dekat jemuran, teman dekatnya nampak sudah duduk di sampingnya sambil menenteng piring bersih. Memegang pundaknya, "Dis, udah makan belum? Makan dulu." Bujuknya.
Seketika dia menangis sesenggukan. Dan saya hanya bisa menatapnya iba di dekat jemuran sambil berlagak sibuk agar bisa memantau dari jauh. Ssyup-sayup saya bisa dengar kalimatnya;
"Kenapa si aku gagal mulu? Apa aku se-bego ini? Malu banget kalau nggak lulus, Nia. Keliatan makin bego, aku udah bego gini juga. Kenapa problematik banget si? Aku capek!"
Temannya hanya menepuk punggung untuk menenagkan sembari ia ngedumel dan mencurahkan isi hati.
Jemuran adalah tempat terbaik untuk mengeluarkan unek-unek bersama teman. Ini adalah pemandangan yang jarang saya lihat dan alami, tapi saya sering dengar ceritanya. Saya bersyukur malam itu, karena interaksi mereka berdua memutuskan kekhawatiran saya yang maju-mundur ingin menenangkan, meski di jobdesk mudabbirah tidak disebutkan secara spesifik: "MUDABBIRAH HARUS MENENANGKAN ANAK BINAAN YANG SEDANG SEDIH".
Kakak kelas saya dulu juga demikian. Beberapa darinya pernah saya saksikan langsung, tapi seringnya dengan dari mulut ke mulut, atau misal kami lagi ngumpul sesama teman sejenjang dan mereka mulai berceloteh flashback masa-masa nangis di jemuran itu.
Saya tidak pernah mengalami hal itu. Tapi, beberapa kali pertengkaran saya dengan teman berakhir di jemuran. Gimana maksudnya?
Saat saya butuh space untuk jemur baju, tapi hanya ada baju teman saya yang barusan kita bertengkar atau adu mulut, mau tidak mau saya harus berinteraksi dengannya untuk berpinta tukar tempat jemuran atau ia angkat jemurannya. Meski awalnya canggung, karena didorong kebutuhan satu sama lain (dia juga gak mau jemurannya dipepet oleh baju basah saya dan jadi lembap lagi dong, nanti bau), kami jadi berbaikan dan santai serta tidak marah-marah lagi.
Apapun itu, selalu banyak yang bisa dikenang dari jemuran, baik kisah kita pribadi atau kisah orang-orang.

Komentar
Posting Komentar