Surat Cinta Untuk Wifi
![]() |
| sumber: pinterest |
Sebagai orang yang dari kecil hidupnya sudah lekat dengan wifi (wireless fidelity) a.k.a anak wifi, saya benar-benar tidak bisa membayangkan betapa nestapanya hidup ini tanpanya. Lebih-lebih lagi kalau di luar saya kekurangan atau kehabisan kuota, rasanya lebih horor dibandingkan apapun. Buat saya, ini adalah poin penting bagi calon pasangan saya nanti ke depannya, karena sebenarnya dalam memperjuangkan cinta bagi laki-laki, saingan sejati adalah ayah si cewek (yang mana ayah saya adalah provider wifi di rumah dan di mana pun saya pergi bersamanya), bukan laki-laki lain di sekitarnya. Uhuy.
Asal Muasal Ini Semua...
Masa kecil saya sama seperti anak-anak lainnya yang sebelum main di sore hari wajahnya wajib belepotan dengan bedak sebagai tanda sudah mandi. Kegiatan bermainnya juga sederhana; main sepeda, lari-larian di lapangan, keliling komplek, menghampiri setiap anak yang bermain di blok yang berbeda. Nggak sampai social butterfly, tapi saya bisa dibilang cukup supel dan gaul karena kenal dengan semua anak di komplek, meski saya bukan pentolan juga.
Pagi dan siang hari, di mana itu adalah waktu "haram" untuk bermain dengan tetangga lainnya (ya kalau saya bandel saya biasanya diam-diam keluar dan geret sepeda lalu pergi ke blok paling jauh biar ayah-bunda saya capek nyariin, hehe). Saya menjadikan waktu tersebut kalau tidak sekolah ya eksplor rumah.
Ya. Eksplor rumah.
Rumah saya bukan yang kayak Raffi Ahmad atau Gen Halilintar. Sewajarnya rumah di komplek biasa saja. Ayah saya yang seorang engineer membuat seluruh ruangan penuh dengan alat, kabel, material yang "sakral" untuk saya sentuh. Ditambah di ruang tamu ada lemari sertinggi 3 x 2 m full berisi buku, majalan, koran, dan modul serta skripsi ayah-bunda yang sudah agak lusuh.
Selain membaca buku ensiklopedia dan buku anak yang memang diletakkan di rak bagian tengah agar mudah saya ambil, saya paling kepo dengan meja ayah saya. Meja yang amat sakral, bahkan bunda saya tidak berani sembarangan menggeser barang apapun di sana. Tapi, saya sebagai putri sulung ayah yang penuh rasa ingin tahu (baca: suka ngerecokin sih lebih tepatnya, haha) duduk manis di bangku, membuka tab mozilla firefox, mulai meng-eksplor semua yang ingin saya tahu.
Rumah saya difungsikan pula sebagai kantor. Jadi saya juga bergaul dengan kakak karyawan ayah, mereka mengajarkan saya beberapa tips dan cara bermain komputer-pc dan laptop. Karena merekalah saya mengenal YouTube, Yahoo! (dulu sebelum google chrome kalau searching pake ini), facebook, twitter, hingga web game online seperti counter strike, a10.com dan friv.com
Wifi & Router
Tapi, sebelum searching semua itu, saya terlebih dahulu diajarkan terhubung dengan internet. Awal mulanya saya bingung karena YouTube-nya nge-lag, ternyata koneksi wifinya terputus.
"Konekin dulu kak Oi ke wifi laptopnya, terus kalau tanda wifinya full putih semua, bukan cuma titik di bawahnya aja putih berarti sinyalnya bagus," nasehat salah satu kakak karyawan yang saya ingat dengan teramat sampai hari ini.
Baguslah, justru sinyal wifi di ruangan ayah saya paling kencang.
Meja ayah saya-lah saksi bisu seorang Oi kecil eksplor dunia lebih dalam. Di situ saya mengirim email ke redaksi penerbit ensiklopedi di London, Washington, Tokyo dengan bahasa inggris yang alakadar (sebisanya anak TK nulis deh), belajar mengetik di ms word, mulai membaca artikel online, menganalisis video YouTube, melihat visualisasi bumi dengan google maps, melihat profil pengusaha-pengusaha besar lewat facebook page. Bahkan di beberapa kesempatan saya kerap menolak panggilan untuk main dari anak tetangga karena saya sedang "sibuk" dengan laptop ayah saya yang nganggur itu.
Kalau ayah saya perlu, ya saya akan dikudeta alias dipaksa turun dari kursi. Sebenarnya saya yang mengkudeta ayah si, curi-curi waktu saat laptopnya sedang tidak dipakai.
Satu hari saya baru tahu kalau pancaran sinyal wifi itu berasal dari router. Di suatu siang saat jam makan siang, ayah saya mengutak-atik router dengan memencet beberapa tombol di ruangan kontrol. Saya yang kepo menghampiri ayah dan mengerutkan alis melihat router tersebut.
"Ini namanya router kak. Kalau ini nggak nyala, kita nggak bisa pakai wifi di laptop buat main sama kerja," terang ayah saya.
"Terus itu kenapa di pencet-pencet? Rusak?" tanya saya sambil duduk di samping ayah.
"Nggak. Ayah mau ganti router lama ke yang baru." Tanpa banyak bertanya lagi, yang saya ingat setelahnya adalah router baru memiiliki sinyal lebih kuat dan gacor, semua komputer dan laptop yang ada di kantor beroperasi lebih cepat dan efisien. Kenapa saya tahu? Karena saya kerjanya ngebajak semua komputer dan laptop yang ada ketika kakak keryawan lainnya sedang lengah atau istirahat shalat.
Maka, dari situlah perasaan pada wifi ini mengakar kuat dan tumbuh dengan melesat di hati saya. Hahay, sebenarnya perumpamaannya agak aneh, tapi secinta ini memang saya dengan wifi. Bahkan kalau dibanding makan, saya lebih mending menggunakan uang untuk isi kuota/wifi terlebih dahulu baru sisanya untuk makan dan beli buku.
Siapapun yang sudah menciptakan router wifi, terima kasih banyak! Karena barang ini mewarnai masa kecil saya serta membuat kemampuan intelek saya selangkah lebih maju dibanding anak seumuran saya waktu itu. Love you very much!

Komentar
Posting Komentar