Daun Yang Jatuh Pernah Membenci Angin: Spesial HUT Bunda di 2026

 

"Bunda suka minta maaf sama kamu lho dari kecil. Bunda ngerasa jadi ibu yang nggak baik soalnya." 

"Siapa yang bilang? Nggak kok. Bunda udah jadi ibu, istri, guru, dan kakak yang baik." Jawab saya singkat, padat, jelas. Karena nggak tahu harus merespon gimana selain itu. 

"Kak! Surprise!" Sore tanggal 19 Mei 2026, tepat sehari sebelum ultah bunda tiba   seseorang yang harusnya dikasih kejutan    malah memberikan saya 'rezeki' tak terduga. "Kamu pasti gak bakal percaya!" 

Surprise itulah yang membuat saya agak merasa bersalah karena belum bisa memberikan apa-apa di hari ulang tahun bunda tahun ini. Berapapun umur bunda, di mata saya ia selalu jadi sosok yang pekerja keras, berintegritas, cukup bawel (dan itu nurun ke Amirah ya) dan suka menanam bibit pohon (udah puluhan pot hadir di teras rumah (dan kabarnya nanti mau dibuat mini garden)).


Tumbuh di keluarga besar dengan 12 saudara kandung membuat bunda menjadi sosok yang hampir selalu mengalah. 

Sikap ini pernah saya tanyakan ketika masih kecil. 

Satu sore, bunda membeli roti brownies seharga Rp5.000,00- di tukang roti keliling komplek. Saya ingat sekali brownies itu adalah favorit bunda karena rasa cokelatnya yang nyokelat banget, juga choco chips-nya nggak pelit. Tapi, waktu itu hanya beli satu. Lalu bunda membiarkan saya makan semuanya dan hanya memberikan dua gigitan awal pada dirinya sendiri. 

"Kok bunda kasih ke kakak? Kan' bunda suka ini." Ujar saya waktu itu merasa tak enak.

"Nggak usah. Buat kakak aja."

"Kan ini kesukaan bunda." Saya waktu itu jadi nggak enak meski sebenarnya mau makan utuh sendirian. "Bunda aja yang makan."

"Bunda udah terbiasa mengalah, jadi kakak aja. Bunda seneng kok liat kakak makan banyak." 

Ya.. akhirnya saya menghabiskan sebagian besarnya. 

Andai waktu itu saya lebih mengerti, saya akan berikan seluruh brownies pada bunda. Andai saya sedikit "dewasa" dan memahami alasan di balik sikap itu, saya akan mengerahkan yang terbaik untuk bunda lebih daripada titel "menjadi anak baik" semata.

Dulu, saya selalu mengira semua orang saat menjadi orang tua atau dewasa ya otomatis akan bersikap sebagaimana mestinya.

Apapun yang telah mereka lewati selama hidupnya, buat saya itu bukan sesuatu yang akan menjadi latar belakang kepribadian mereka saat besar nanti. Namun, seiring waktu saya sadar dengan beberapa kejanggalan dan ketidaksesuaian dengam logika yang saya pahami:

1. Apa hubungannya masa kecil seseorang dengan inner child kalau saat besar ya ia akan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri?

2. Kenapa ada orang dewasa yang konsul ke psikolog klinis anak tentang diri mereka? Kan mereka orang dewasa.

3. Kenapa setiap saya heran dengan suatu sikap orang dewasa, orang tua saya selalu mengatakan; "bisa aja pas kecilnya dia nggak mendapatkan kehangatan atau kepedulian itu kak. Makanya, sekarang dia jadi begitu." Apa masalahnya kalau nanti pas dewasa dia akan otomatis jadi tanggungjawab?

Dan masih banyak hal lainnya. 

Di logika anak kecil berumur 5 tahun waktu itu; kenapa harus begitu peduli dengan kondisi mental anak kecil kalau nantinya saat besar nanti juga akan menjadi tanggung jawab (karena kan sudah seharusnya begitu)? Ternyata, itu semua berhubungan. Dan seringkali itu menjadi luka yang tak berkesudahan.


Saking frustasinya dengan tindakan "mengalah" brownies bunda. Saya sampai tidak bisa tidur nyenyak dan menanyakan hal itu pada bu Guru di TK keesokan harinya.

"Bu, kenapa kita harus mengalah?" tanya saya sambil mengerutkan kening. Pagi itu saya tidak bermain congklak bersama teman-teman lainnya, hanya sibuk merenungi hal 'mengalah' sambil berusaha menuliskannya di kertas. 

"Karena kalau tidak ada yang mengalah, nanti bertengkar dong. Mainan di sekolah itu kan' untuk digunakan bersama, Oi." Bu Guru memahami konteksnya dalam bermain mainan di sekolah. Padahal maksud saya bukan itu, tapi saya kesulitan menjelaskannya dengan kata-kata yang rapi.

"Kalau semua mengalah, nanti nggak ada yang main dong." Jawab saya setengah tidak mengerti dan bingung, akhirnya lebih memilih merespon pernyataan bu Guru. "Jadi, harus ada yang me-menang, dong." Simpul saya. Ngerti nggak sih maksudnya? Kan meng-kalah, jadi lawannya me-menang = ada yang berkehendak untuk sesuatu mainan, ya jangan semuanya ngalah. Kalau gitu, permainan nggak jalan.

Belum selesai bu Guru memahami pertanyaan saya, saya keburu nyerocos lagi:

"Mengalah itu apa sih, bu?" 

Di titik ini bu Guru sudah mulai agak kewalahan. Akhirnya berusaha mengganti topik dan mengarahkan saya agar bermain. 

Tapi saya tetap tidak puas. 

Akhirnya, saat pulang saya membuka laptop ayah di meja kerjanya dan searching di Yahoo.com:

Apa itu mengalah?

Kenapa kita harus mengalah?

Apa salahnya kalau tidak mengalah?

Hasilnya tetap tidak memuaskan. Karena tidak ada artikel yang menerangkan secara bahasa dan istilah. Saya cari di ensiklopedia Oxford yang biasa saya baca pun juga tidak ada (that's why saya senang banget setelah belajar di pondok dengan kitab kuning dan beberapa pelajaran pemikiran dengan buku Prof Al-Attas, jurnal-jurnal Doktor-Doktor yang merupakan murid beliau itu selalu menerangkan definisi suatu kata secara bahsa dan istilah).

Buat saya, bersikap mengalah itu amat merugikan diri sendiri, karena akhirnya kita tidak bisa mendapatkan yang kita inginkan. Lebih menyedihkannya lagi ketika kita memiliki kesempatan untuk mewujudkannya, tapi kita berikan kesempatan itu pada orang lain. Asal tidak menyakiti orang lain, kita harus terus berjuang atas keinginan kita.

Seperti brownies yang bunda berikan pada saya. 

Kan' bunda bisa ambil saja semua atau makan diam-diam tanpa perlu memanggil saya agar makan bersama. Bunda juga bisa memilih untuk tegas dan hanya memberikan potekan kecil pada saya (meski saya akan merengek minta lagi). 

Tapi, bunda memilih tidak. Akhirnya saya mulai menyadari mungkin bagi bunda;

mengalah = kebahagiaan.


 Sampai saat sudah besar seperti sekarang, saya mengerti bahwa mengalah tidak selalu baik. 

Yang mengajarkan siapa? 

Bunda saya sendiri. 

Berdasarkan pengalaman hidupnya, ada beberapa kesempatan yang bunda lewatkan karena mengalah. Karena terbiasa memberikan banyak hal 'baik' secara penuh kepada orang lain dan menyisakan 'kebaikan yang tersisa' untuk dirinya. 

Bukan berarti bunda buruk. Tapi, di titik itu saya menyadari bahwa dunia bisa se-tidak adil itu. Sejak kecil dan menyadari sikap mengalah bunda, saya kira orang seperti itu akan selalu mendapatkan kebahagiaan dan dikelilingi orang yang selalu mengasihi. Tapi ternyata tidak. Dan itu seringkali membuat saya murka dan marah. Sampai detik kisah ini ditulis.

Saya kira awalnya bunda nggak merasakan kemarahan yang saya seperti saya, tapi ternyata pernah. Bunda bahkan merasa lebih terluka karena ia adalah pelaku kebaikan dengan mengalah tersebut. Pernah juga mempertanyakan pada dunia kenapa dalam beberapa kesempatan, kebaikan atas sikap mengalahnya dibalas dengan hal yang sangat menyakitkan?

Dan orang-orang yang bunda hadapi adalah orang-orang dewasa yang saat kecilnya terbiasa tidak mengalah, semua keinginannya dipenuhi, tidak bisa susah, dan tidak tahu kerja keras; serta hanya ingin enak di dirinya atau egois semata. 

Lho? Kok orang dewasa itu tidak 'dewasa'? 

Janggal sih ini. 

Pada akhirnya, segala kebaikan itu tidak pantas untuk dimaksimalkan ke beberapa orang yang memang sudah ngelunjak. Tapi, sebagai pelaku kebaikan, kita tidak boleh menyesal dengan tindakan kita. Karena balasan atas hal itu bisa datang dari mana saja. 

"Alhamdulillah di umur ini, bunda nggak pernah suntik obat di lutut kak. Temen-temen bunda bahkan ada yang udah belasan kali suntik, kalau nggak gitu lutut mreka ngilu dan nggak bisa jalan." Bunda mendiktekan beragam manfaat dan 'balasan' agar saya tidak selalu merasa bahwa hidup ini tidak adil. 

"Selain lahiran, bunda juga nggak pernah dirawat di rumah sakit dengan judul 'bunda sakit dan butuh diobati', cuma sebatas formalitas kalau mau lahiran aja." Ujar bunda sambil memikirkan kisah lain lagi.

"Nah, bunda juga punya rumah tangga yang langgeng. Karena nggak semua teman-teman bunda pernikahannya langgeng, kak." Kata bunda lagi, "jadi, apapun itu menjadi orang itu tetap harus selalu didawamkan, ya. Tapi, pastikan kebaikan yang maksimal itu ke orang yang tepat. Kita juga harus save energi kita untuk hal lain; contohnya ya buat kita sendiri. Kalau bahasa kamu self-reward atau self-care lah." 

Maka, kebaikan bunda di mata orang lain yang bersangkutan kerap layu bagaikan daun gugur itu tidak selalu ikhlas dan menerima takdirnya. Adakala ia mengutuk ranting sebagai tempat asalnya dan angin yang membuatnya terpaksa melepas. Tapi, memang adakalanya bukan masalah benci-cinta, suka-tidak suka. Tapi, memang waktunya hanya segitu. Dan saat daun yang pernah membenci angin itu gugur, itu adalah masa baginya untuk memberikan manfaat bagi hal lain selain ranting; yakni akar dan tanah di bawahnya (maksudnya, kan daun yang gugur nanti kalau mengendap di tanah dan bercampur kotoran bisa jadi pupuk kompos gitu, lho. Kan jadi manfaat lagu buat sang pohon dan tanaman lainnya. Double gitu, lhoo. Pokoknya gitu, lah). 

Hal ini akan saya kenang dengan sangat baik. 


Komentar

Paling Banyak Diminati