Shooting Star-nya THAMA dan Kenapa Rasanya Sangat Yumi's Cells

sumber: pinterest

Ada lagu yang tidak terdengar sedih secara terang-terangan, tapi entah kenapa meninggalkan ruang kosong yang lama setelah selesai diputar. “Shooting Star” dari THAMA adalah tipe lagu seperti itu. Saat mendengarkannya, rasanya seperti melihat langit malam yang tenang, tetapi diam-diam menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya. Dan mungkin itu alasan kenapa lagu ini terasa sangat cocok jika direlasikan dengan Yumi's Cells. Keduanya sama-sama memahami kesepian orang dewasa yang datang perlahan, tanpa suara besar.

Yang menarik dari “Shooting Star” adalah bagaimana THAMA membangun emosi lewat sesuatu yang justru terasa samar. Dari awal lagu, aransemen yang dipakai sangat minimalis: beat lembut, chord menggantung, dan ruang kosong yang sengaja dibiarkan hidup. Tidak ada ledakan vokal atau klimaks dramatis. THAMA bernyanyi pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Efeknya jadi sangat intim, seperti mendengar isi kepala seseorang saat dunia sedang sunyi.


Nuansa itu terasa semakin kuat lewat potongan lirik:

“아스라이…” (aseurai…)

Kata aseurai sendiri sebenarnya sulit diterjemahkan secara utuh ke bahasa Indonesia karena nuansanya sangat puitis. Secara emosional, kata ini menggambarkan sesuatu yang samar, jauh, perlahan memudar, tetapi masih tertinggal di hati. Bukan hilang sepenuhnya, melainkan seperti kenangan yang mulai kabur namun tetap hidup di kepala. Dan menurutku, satu kata itu sudah cukup untuk menjelaskan keseluruhan atmosfer lagu ini.

Dalam konteks Yumi’s Cells, rasa “asurai” itu terasa sangat dekat dengan perjalanan Yumi sendiri. Hubungan-hubungan dalam hidupnya jarang benar-benar hancur dalam satu malam. Semuanya lebih sering berubah perlahan: chat yang mulai dingin, perhatian yang semakin sedikit, atau dua orang yang diam-diam mulai menjadi asing. Tidak ada ledakan besar, hanya jarak yang tumbuh pelan-pelan sampai akhirnya semuanya terasa jauh.

Lalu ada bagian lirik lain yang mungkin jadi salah satu inti emosional lagu ini:

“소원을 빌어 영원하도록”
(sowoneul bireo yeongwonhadorok)

Kalimat itu secara literal berarti:

“membuat harapan agar bisa abadi selamanya.”

Terdengar sederhana, tapi justru menyakitkan kalau dipikir lebih jauh. Karena manusia biasanya mulai berharap sesuatu menjadi selamanya tepat saat mereka sadar bahwa hal itu mungkin tidak akan bertahan lama.

Dan di situlah simbol “shooting star” menjadi begitu tragis.

sumber: pinterest (sel lapar selalu gemesin)

Bintang jatuh selalu identik dengan sesuatu yang indah namun sementara. Kita melihatnya sebentar, mengaguminya, lalu ia hilang sebelum sempat disentuh. Orang-orang membuat harapan saat melihat shooting star justru karena mereka tahu momen itu sangat singkat. Jadi ketika THAMA menyandingkan simbol bintang jatuh dengan harapan tentang keabadian, lagu ini terasa seperti seseorang yang diam-diam tahu cintanya rapuh, tetapi tetap berharap:

“tolong tinggal sedikit lebih lama.”

Secara psikologi, perasaan ini dekat dengan konsep anticipatory grief—rasa sedih yang muncul bahkan sebelum kehilangan benar-benar terjadi. Seseorang mulai takut kehilangan saat orang yang ia sayangi masih ada di depannya. Dan menurutku, itulah emosi terbesar dalam “Shooting Star”. Lagu ini bukan tentang patah hati setelah semuanya selesai, melainkan tentang ketakutan saat mulai sadar bahwa sesuatu yang indah mungkin tidak akan tinggal selamanya.

Dari sisi musik, THAMA juga memainkan emosi itu dengan sangat halus. Progression chord di lagu ini terasa menggantung dan tidak memberi resolusi penuh. Dalam teori musik, teknik seperti ini menciptakan suspended emotion—emosi yang sengaja dibiarkan belum selesai. Pendengar jadi merasa ada sesuatu yang masih tertinggal bahkan setelah lagu berakhir. Secara psikologi, manusia memang lebih sulit melupakan sesuatu yang menggantung dibanding sesuatu yang benar-benar selesai. Karena itu, “Shooting Star” terasa seperti hubungan yang tidak pernah mencapai akhir yang jelas.

sumber: pinterest

Vokal THAMA memperkuat semuanya. Mixing suaranya dibuat sangat lembut dengan reverb tipis yang membuat suaranya terdengar dekat sekaligus jauh, seperti kenangan yang masih hidup di kepala. Rasanya seperti seseorang sedang berbicara pelan di malam hari supaya perasaannya tidak tumpah sepenuhnya. Dan itu sangat identik dengan dunia Yumi's Cells: dunia tentang orang-orang yang terlihat baik-baik saja, padahal di dalam dirinya ada banyak percakapan emosional yang tidak pernah selesai.

Pada akhirnya, “Shooting Star” terasa bukan sekadar lagu cinta. Ia seperti lagu tentang sesuatu yang pernah membuat kita hangat sebentar, lalu perlahan menjauh sebelum sempat menjadi rumah. Dan mungkin itu alasan kenapa lagu ini terasa sangat “Yumi”. Karena baik THAMA maupun Yumi’s Cells sama-sama memahami satu hal sederhana: manusia sering kali tidak hancur karena tragedi besar, tetapi karena hal-hal kecil yang diam-diam menetap terlalu lama di dalam hati.

By the wayYumi's Cells Season 3 baru aja tamat dan bisa ditonton di HBO Max dan Viki, ya! Enjoy watching dan mendapatkan perspektif baru untuk memahami diri sendiri di tiap fasenya. 

Komentar

Posting Komentar

Paling Banyak Diminati