Lari itu mudah
| sumber: pinterest |
Kalau kamu terbiasa jalan cepat, lari/jogging terutama lari pagi akan sangat mudah.
Ini adalah kisah nyata dari perjuangan saya konsisten dalam rutinitas ini selama setahun terakhir. Tapi, kita mulai kilas balik saat saya pertamakali dipaksa biasa dengan ini semua:
Sebenarnya, olahraga sudah jadi budaya di pondok. Karena saya wajib ikut beladiri, ketahanan fisik yang luar biasa dituntut dari hal itu. Latihan bisa 7-8x dalam seminggu. Lari dalam kondisi nyeker/tidak beralas kaki dan hanya dilapisi kaos kaki itu sudah biasa. Mau hujan atau panas terik, kalau waktunya lari ya lari.
Saya ingat sekali saat hari ujian dan waktu itu saya masih santri baru, angkatan saya terlambat 2 menit berkumpul di tempat latihan. Alhasil kita dikuhum untuk lari ke luar pondok dan mengelilingi pasar dekat pondok hingga dekat alun-alun kota yang total jaraknya adalah 4,5 km, dan itu jam 11 siang! Saya baru cerita ini ke orang tua saat sudah lulus dan mereka benar-benar tidak menyangka latihannya sekeras itu.
Ya kalau saya cerita pas itu orang tua udah keburu khawatir dan mikir ke mana-mana. Sedangkan prinsip saya adalah; apapun yang terjadi di pondok, harus selesaikan semua jenjangnya selama 6 tahun!
Apa itu semua berarti saya sangat jago lari?
Justru tidak. Big no!
Kalau masalah ketahanan dan kekuatan kaki mungkin bisa dibilang iya. Tapi, setelah dunia ini dilanda COVID-19, saat saya kembali ke pondok dan guru beladiri sudah berganti, sistem dan atmosfer menekan seperti sebelumnya hilang sepenuhnya. Setiap hari lorong asrama dan kamar-kamar santri tahun kedua keatas hanya dipenuhi nostalgia masa-masa pelajaran bela diri yang berat itu.
Perubahan paling terasa adalah kegiatan lari. Dulu, saat saya masih jadi santri baru berlari adalah kegiatan biasa baik untuk santri ikhwan dan akhwat. Hukuman terbaik? Lari. Pemanasan sebelum olahraga? Lari. Mau dapat reward tambahan? Lari. Mau dapat ekstra es krim dari ustadz di pelajaran? Lari. Selain itu, mobilitas tinggi di pesantren mendorong semua orang untuk aktif bergerak. Jadi berlari itu bukan suatu kegiatan yang melelahkan (tapi tetap lelah sih, tapi nggak dianggap se-negatif itu ngerti gak sih?)
Sekarang (saat saya sudah jadi santri senior hingga lulus), hampir semua santri mengeluh dan banyak alasan kalau berlari. Padahal hanya 2-3 km dan itu pun diberi waktu beberapa belas menit untuk berjalan. Tapi masalahnya, anak-anak ini tidak bisa dipaksa. So, alhamdulillah dengan sistem yang diusulkan dan diterapkan oleh pengurus santri, kegiatan lari ini diadakan kembali dengan intensitas yang sangat rendah.
Kalau dibanding dengan pengalaman dulu yang ditendang pantatnya kalau ketahuan jalan mah jauh banget.
Sekeras apapun saya berusaha agar atmosfer kembali seperti dulu, hal itu semakin sulit karena tidak didukung lingkungan dan fasilitas. Tanpa ada niat merendahkan pihak mana pun, saya juga amat mengerti ketika teman-teman seangkatan saya dan santri senior lainnya tak jarang mengeluh ketika saya mengutarakan keinginan agar kegiatan lari kembali seperti dulu.
Banyak dari mereka memasang wajah lesu, mengeluh (meski sambil bisik-bisik dan tidak ada yang langsung menghujat saya), menjadikan kondisi sekarang dan ketiadaan guru tersebut alasan mengatakan saya terlalu konservatif/terjebak di masa lalu/strict/saklek.
Intermezzo sedikit, ini sih hanya berlaku di lingkungan akhwat. Karena memang gerak kami terbatas dan fasilitas matras atau pelindung dan target tendangan dipinjam ikhwan (dan hampir tidak ada akhwat yang rutin olahraga dengan intensitas yang saya maksud). Kami harus effort mengenakan ciput dan jilbab yang rapat agar rambut tidak terlihat, mengurus cucian setelah olahraga juga sudah melelahkan. Jadi saya tidak bisa berkomentar sekeras itu. Saya hanya gereget karena jiwa grit atau "diusahain dulu" itu hilang. Kenapa harus ada trigger-nya dulu ketika nanti hidup setelah mondok itu tidak akan menunggu kita siap atau peduli kita malas atau tidak? Mental itu bisa ditumbuhkan jika rutin berolahraga intensitas sedang seperti berlari.
Padahal, yang saya khawatirkan adalah kondisi setelah lulus atau keluar dari pondok yang klemer-klemer dan ilmu, jurus, sertifikat, dan sabuk bela diri dari ujiannya di pondok hanya nama. Bukan berarti semuanya harus menjadi guru/coach/pelatih bela diri. Saya hanya tidak ingin ketika saya menampilkan pencapaian saya dan diminta membuktikan, eh malah tidak bisa atau tidak ada nilai atau sikap yang bisa direpresentasikan. Bukankah itu jadinya overclaim dan memalukan?
Atau cuma bisa bilang dan cerita: "wah dulu di pondok tuh gak kayak sekarang olahraga dan kondisi fisik kita, dulu tuh bla bla bla..."
Alhasil dari itu semua setelah saya lulus adalah:
Saya benar-benar kehilangan ritme dan spirit itu. Karena hampir tidak ada orang di pondok dengan idealisme dan antusiasme yang saya punya dan inginkan.
Tapi, saya merasa menyalahkan masa lalu dan keadaan saat itu bukan sesuatu yang bijak, dan mumpung sekarang hidup saya dalam kendali saya sepenuhnya di gap year ini. Saya putuskan untuk menyusun dan menjalankan workout plan yang strict dengan intensitas rendah-sedang.
Meski saya mikir; duh, harusnya saya bisa intensitas tinggi, orang dulu di pondok olahraganya se-gila itu.
Tapi ya, kita tidak boleh hanya meratapi dan mengutuk sambil dumel-dumel. Tidak akan ada yang berubah.
So, planning olahraga 5-7x seminggu saya jalankan dengan langkah yang sangat tertatih karena saya tidak punya personal coach manusia (pake AI, haha) yang bisa mengoreksi secara langsung kesalahan yang saya lakukan. Saya hanya bisa recall masa-masa olahraga masih setinggi itu intensitasnya (saat awal mondok) dan mengulang jurus dan gerakan yang saya kuasai dan saya perjuangkan.
Hasilnya bahkan tidak sampai 50% yang diinginkan. Karena olahraga bukanlah kemampuan terbaik saya.
Sampai akhirnya saya memadukan banyak gaya olahraga dengan rest-day yang tetap aktif bergerak (bukan rebahan), yakni lari. Entah lari pagi atau sore.
Kuncinya adalah; saya maksimalkan lari di hari saya memang harus lari. Awalnya saya mulai dari lari 2 km, lalu alhamdulillah sekarang bisa meningkat rutin di 4,8-5 km. Padahal dulu saya perenang cilik dan kuat berlari 5 km tanpa terengah-engah, tapi ya... lingkungan yang tidak mendukung membuat soft skill itu hilang. Tapi, alhamdulillah masih ada muscle memory-nya.
Yang penting adalah: mulailah dari jalan dengan sepatu lari, jangan dengan sandal atau jalan pagi bersama keluarga (seringnya saya sih kalau olahraga sama keluarga cuma nyari jajan dan sarapan aja, gak ada olahraga yang bener-benernya gitu).
Jatuh-bangunnya ada banyak sekali.
Ada kala pekan di mana ritme saya benar-benar berantakan, pace dan heart rate tidak terkendali, tidak ada uang untuk membeli sepatu yang lebih nyaman dan mencoba alternatif olahraga lainnya untuk variasi, ikut event lari untuk menambah semangat dan relasi baru. Tapi masa itu mengingatkan saya bahwa sampainya saya ke titik ini bukanlah hal biasa dan tidak boleh disia-siakan.
Sekali lagi: saya tidak punya personal coach. Maka, saya benar-benar hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
Keberadaan uang untuk menutupi hal yang kita butuhkan (personal coach, outfit lari, jilbab sport, track lari yang enak di alun-alun atau GOR) memang tidak bisa disebut side dish atau tidak wajib ada. Justru, kalau kita ingin serius, hal-hal tersebut harus diusahakan. Tapi, mental dan keinginan kuat untuk terus konsisten dengan modal yang baru seadanya kita punya itu memang penting.
Dan saya sudah sangat sering melewati fase kesepian dan sendirian karena konsisten tanpa ada yang menemani di sisi. Apakah itu berarti sudah biasa aja? Tidak, tetap berat dan sulit melewatinya sesekali. Tapi, saat sudah bisa konsisten dan melihat rekap lari dan olahraga lainnya di aplikasi Google Fit atau Strava, rasa bahagia dan bangga memenuhi dada.
So, kalau kalian tidak perlu start dari minus seperti saya, memiliki modal pakaian, sepatu dan sport watch yang memadai, tidak perlu jatuh-bangun dengan sisten di sekolah/lingkungan bahkan cenderung dibebaskan sesuai preferensi, manfaatkan dengan baik! Tidak adanya personal coach/trainer bukanlah alasan untuk tidak bergerak. Tidakkah kalian mau fisik yang lebih kuat untuk kebermanfaatan kalian sendiri di masa depan nanti?
Salam sehat!

Komentar
Posting Komentar