Ketika Peserta Clash of Champions Mulai Seumuran Sama Aku (atau aku yang seumuran sama mereka?)
| sumber: Podcast Suara Berkelas |
Buat saya, orang-orang pintar terutama secara akademik itu sangat menarik. Kisah cinta monyet saya di SD dulu pun juga dengan murid terpintar di angkatan. Waktu masih culun dulu (baca: sangat-amat culun sekali) di SD, saya meletakkan perhatian terbesar ke nilai dan predikat tiap pelajaran (sampai sekarang juga, sih), begitu pun dengan circle pertemanan saya. Lingkungan kami sangat kompetitif karena dibandingkan dengan prestasi kakak kelas kami lainnya. Dibandingkan di sini dalam makna positif, ya.
Oleh karenanya, kami terbiasa melihat sosok yang berprestasi lebih gemilang daripada kami. Lalu terdorong untuk bersemangat dan menorehkan prestasi yang tak kalah membanggakan dan sekolah mendukung kami dengan teramat. Dulu, saya paling suka nonton OIC (Olimpiade Indonesia Cerdas) di Rajawali TV (RTV). Menonton acara seperti itu amat menghibur buat saya serta membuat hidup lebih berwarna karena dorongan untuk belajar itu semakin besar.
Hingga bertemulah saya dengan acara CoC ini.
Dulu, melihat peserta acara OIC, CoC dan sejenisnya yang mayoritasnya lebih tua daripada saya membuat saya cepat bosan dan plinplan dalam memilih program yang ingin ditonton. Saya merasa tidak relate karena mereka tidak seumuran dengan saya, meski melihat kecepatan mereka menjawab pertanyaan benar-benar membuat saya terkesan dan mendorong saya untuk mencapai potensi yang sama. Hanya saja, ada sebuah semangat yang membara kalau kita tahu kontestan apalagi kontestan favorit kita itu seumuran dengan kita; antusiasme itu terjadi di CoC season ini karena banyak kontestan kelahiran 2007.
Meski ini kerap dianggap aneh oleh beberapa/sebagian besar teman dan keluarga saya, saya lebih ingin memanfaatkan antusiasme ini untuk belajar dan mendapat predikat yang lebih baik. Melihat performa dan mendengarkan insight dari mereka-mereka yang seumuran/sebaya membuat segala wishlist dan impian yang saya targetkan menjadi lebih nyata dan bukan angan semata. Mereka bisa se-hebat itu, saya yakin dengan potensi dan semangat yang saya miliki saya juga bisa menjadi versi terbaik diri saya sebagaimana mereka di acara tersebut.
Akan tetapi, kita juga harus bijak dalam menangani rasa semangat dan paparan prestasi dari mereka. Kondisi setiap anak/murid itu berbeda, pengaruh privilege mau tidak mau harus diakui keabsahannya. Apalagi garis start setiap orang sudah berbeda-beda. Ada yang memang dari kecil sudah di-les-in oleh orangtuanya sempoa, matematika khusus olimpiade, piano, dan bidang pendukung lainnya sehingga prestasinya luar biasa. Ada juga yang hanya bermodalkan materi daa wadah yang disediakan sekolah tanpa les-les tambahan, dan saya adalah kategori kedua; tidak ada les tambahan dari luar sekolah.
Jadi, jangan terlalu memaksa diri untuk menjadi hebat seperti peserta CoC dengan garis start dan potensi yang berbeda secara berlebihan. Allah SWT menciptakan hamba-Nya dengan beragam potensi, salah satu yang ditonjolkan di acara CoC ini ya kemampuan akademik dan kecepatan serta ketepatan dalam menjawab di bawah tekanan waktu dan kompetisi yang bergengsi antar murid berprestasi. Banyak jalan menuju Roma, banyak potensi yang bisa dikembangkan dan diasah. Yang penting, kita berusaha semaksimal mungkin dengan segala yang kita miliki, karena kata Kei (peserta CoC Season 3 dari UC Berkeley); do your best and let God do the rest.
Pada akhirnya, acara seperti CoC ini bukan patokan tunggal, tapi pintu pembuka bahwa potensi yang dimaksimalkan dengan baik akan bermanfaat dan menginspirasi bagi diri dan banyak orang.
Komentar
Posting Komentar