"Ketika Jatuh Cinta Membuat Kita Menjadi Anak Kecil" dalam Stray Kids - "Mixtape : OH" (애)
Pernahkah ada seseorang yang membuat kita tiba-tiba lupa bagaimana cara bersikap biasa? Padahal sehari-hari kita bisa berbicara dengan tenang, menghadapi banyak orang, bahkan mengambil keputusan tanpa terlalu banyak berpikir. Namun, ketika berhadapan dengan seseorang yang disukai, semuanya terasa berbeda. Kalimat sederhana bisa dipikirkan berkali-kali, tatapan bisa membuat salah tingkah, dan hal-hal kecil yang biasanya tidak penting mendadak terasa sangat berarti. Perasaan seperti inilah yang terasa begitu kuat dalam “Mixtape : OH” dari Stray Kids.
“너를 보면 난 애가 돼” (neoreul bomyeon nan aega dwae - saat melihatmu aku jadi seperti anak kecil)
Kalimat singkat tersebut menjadi salah satu inti dari konsep lagu ini. Secara sederhana, bagian tersebut menggambarkan perasaan seseorang yang seolah berubah menjadi “anak kecil” ketika melihat orang yang disukainya. Ada sesuatu yang menarik dari gambaran tersebut. Mengapa seseorang yang biasanya mampu bersikap dewasa dan tenang justru bisa menjadi begitu kikuk hanya karena kehadiran satu orang?
“Mixtape : OH” atau “애” merupakan lagu Stray Kids yang dirilis pada 26 Juni 2021. Lagu ini menjadi bagian dari seri Mixtape dan menghadirkan cerita tentang perasaan seseorang yang menjadi begitu kikuk ketika berhadapan dengan orang yang disukainya. Sekilas, lagu ini terdengar ringan dan menyenangkan. Namun, di balik musiknya yang cerah, terdapat cerita sederhana tentang cinta, rasa gugup, dan bagaimana seseorang bisa berubah menjadi seperti anak kecil ketika sedang menyukai seseorang.
Jika membicarakan makna lagu “Mixtape : OH” Stray Kids, salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah judul Koreanya, yaitu “애”. Kata tersebut memiliki kaitan dengan konsep “anak” dan menjadi bagian dari permainan makna lagu. Seseorang yang biasanya merasa mampu mengendalikan dirinya sendiri justru kehilangan sebagian dari ketenangan tersebut ketika berada di dekat orang yang disukainya.
“왜 이러는지 모르겠어” (wae ireojineunji meoreugesseo - aku tidak tahu kenapa ini terjadi)
Ada perasaan bingung yang sangat manusiawi di dalam kalimat tersebut: aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jadi seperti ini. Bukankah perasaan semacam itu sering muncul ketika kita menyukai seseorang?
Kita bisa saja merasa sangat percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. Kita mungkin terbiasa berbicara di depan banyak orang, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, atau menghadapi berbagai situasi dengan tenang. Namun, ada kalanya satu orang mampu membuat seluruh rasa percaya diri tersebut mendadak menghilang. Tiba-tiba kita menjadi terlalu sadar dengan cara berbicara. Terlalu memperhatikan ekspresi wajah. Terlalu memikirkan respons orang tersebut. Bahkan sebuah percakapan sederhana bisa terasa seperti sesuatu yang membutuhkan persiapan panjang.
“Apakah aku terdengar aneh?”
“Kalau aku mengatakan ini, bagaimana reaksinya?”
“Haruskah aku mendekat atau sebaiknya tetap diam?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru sangat familiar bagi orang yang pernah menyukai seseorang. Ketika seseorang menjadi penting bagi kita, pendapatnya mengenai diri kita juga menjadi jauh lebih berarti. Kita mulai memperhatikan bagaimana cara berbicara, bagaimana memberikan respons, bahkan bagaimana diri kita terlihat ketika sedang berada di dekatnya. Ironisnya, semakin keras kita berusaha untuk terlihat biasa saja, terkadang kita justru semakin tidak biasa.
Di sinilah “Mixtape : OH” terasa begitu relatable. Lagu ini tidak menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang selalu dramatis atau sempurna. Tidak ada keharusan untuk melakukan sesuatu yang besar agar perasaan tersebut terlihat berarti. Sebaliknya, lagu ini memperlihatkan sisi cinta yang jauh lebih sederhana: rasa gugup ketika bertemu seseorang yang disukai.
Ada orang-orang yang mampu membuat kita kehilangan versi paling tenang dari diri sendiri. Kita mungkin sudah terbiasa menjadi seseorang yang rasional dan mampu mengendalikan keadaan. Namun, ketika orang tertentu datang, seluruh kemampuan tersebut seolah menghilang untuk sementara.
Kita menjadi terlalu banyak berpikir.
Kita menjadi terlalu sadar terhadap diri sendiri.
Kita bahkan bisa lupa dengan kalimat yang sebelumnya sudah kita siapkan.
Dan mungkin, justru di situlah letak kejujuran sebuah perasaan. Jatuh cinta tidak selalu membuat seseorang menjadi lebih berani. Terkadang justru sebaliknya. Kita menjadi lebih gugup karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang pendapatnya benar-benar kita pedulikan.
애가 된 것 같아 (aega dwoen geot gat-a - kayaknya aku jadi anak kecil deh ini)
Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi konsep “menjadi anak kecil” sebenarnya menarik untuk direnungkan. Anak kecil belum memiliki banyak strategi untuk menyembunyikan perasaannya. Ketika senang, ia terlihat senang. Ketika gugup, kegugupannya mudah terbaca. Ketika menyukai sesuatu, ia ingin terus mendekat. Mungkin itulah yang terjadi kepada seseorang yang sedang jatuh cinta.
Di hadapan orang yang disukai, berbagai strategi sosial yang biasanya kita gunakan perlahan runtuh. Kita kembali kepada versi diri yang lebih polos: ingin dekat, ingin diperhatikan, ingin tahu lebih banyak, tetapi juga takut melakukan kesalahan. Keberanian dalam cinta pun tidak selalu harus berbentuk pengakuan besar. Terkadang keberanian hanya berupa keinginan untuk mendekat meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Bahkan mengakui kepada diri sendiri bahwa kita sedang menyukai seseorang sudah merupakan bentuk keberanian.
Sebab tidak semua perasaan akan mendapatkan jawaban yang kita harapkan. Tidak semua orang yang kita sukai akan menjadi bagian dari kehidupan kita dalam waktu yang lama. Ada perasaan yang akhirnya menjadi hubungan, tetapi ada pula perasaan yang hanya menjadi sebuah cerita kecil dalam perjalanan hidup.
Namun, bukan berarti perasaan tersebut sia-sia. Kadang-kadang, seseorang hadir bukan untuk tinggal selamanya, tetapi untuk memperkenalkan kita kepada bagian diri sendiri yang belum pernah kita kenal. Melalui rasa suka, kita bisa mengetahui bahwa ternyata kita mampu merasa gugup, berharap, menunggu, dan bahagia hanya karena kehadiran seseorang. Mungkin inilah alasan mengapa “Mixtape : OH” terasa lebih luas daripada sekadar lagu cinta. Lagu ini juga berbicara tentang sisi manusia yang terkadang kita sembunyikan: sisi yang polos, gugup, penuh harapan, dan sedikit kekanak-kanakan.
Kita mungkin sudah tumbuh dewasa. Kita mungkin sudah belajar menghadapi berbagai masalah, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri. Namun, akan selalu ada situasi tertentu yang membuat kita kembali menjadi versi diri yang sederhana. Versi diri yang tidak memiliki strategi. Versi diri yang tidak memiliki jawaban sempurna. Versi diri yang hanya tahu bahwa ia ingin mendekat, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu.
Menjadi “anak kecil” sesekali bukan berarti kita tidak dewasa. Bisa jadi, hal tersebut justru menunjukkan bahwa di balik segala usaha untuk menjadi kuat dan rasional, masih ada bagian dari diri kita yang mampu merasakan sesuatu dengan begitu sederhana. Sebuah senyum bisa membuat bahagia. Sebuah pesan bisa membuat hari terasa lebih baik. Sebuah pertemuan singkat bisa terus teringat sepanjang hari. Dan satu orang bisa membuat kita tiba-tiba lupa bagaimana caranya bersikap biasa.
Pada akhirnya, “Mixtape : OH” dari Stray Kids mengingatkan bahwa cinta tidak selalu harus terlihat sempurna untuk menjadi berarti.
Terkadang, cinta justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana: rasa gugup, kecanggungan, keinginan untuk mendekat, dan keberanian kecil untuk mengakui apa yang sedang kita rasakan. Mungkin kita semua pernah berada di posisi tersebut. Pernah menjadi seseorang yang tiba-tiba kehilangan kata-kata. Pernah terlalu banyak berpikir hanya karena satu orang. Pernah mencoba terlihat biasa saja padahal hati sedang tidak biasa. Dan mungkin, di situlah kita semua pernah menjadi “애” (ae (anak kecil)).
Bukan karena kita tidak tahu bagaimana menjadi dewasa, tetapi karena ada perasaan tertentu yang mengingatkan bahwa seberapa pun kita tumbuh, masih ada bagian kecil dalam diri kita yang mampu merasa gugup, berharap, dan bahagia dengan cara yang sangat sederhana. Dan semua itu yang nampak tidak sempurna justru membuat pengalaman hidup kita sempurna sambil memetik pelajaran dari yang didapat; baik perasaan itu berbalas/tidak, berlanjut ke jenjang serius/menjadi kenangan baik.

Komentar
Posting Komentar